Jurusan Ilmu Sejarah Unand dan Jamkrindo Siapkan Pembekalan Wawasan Historis untuk SDM Kepariwisataan

24 Maret 2017

 

 

 

FIB—Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas bekerja sama dengan BUMN Jamkrindo (Jaminan Kredit Indonesia) akan menyelenggarakan “Pembekalan Wawasan Historis dan Nilai-nilai Karakter kepada Tour Guide dan Masyarakat Sekitar Destinasi Wisata Sejarah di Kota Padang, Sawahlunto, dan Bukittinggi” pada Senin—Rabu (29—29 Maret 2017) di Hotel Inna Grand Muara, Padang.

Menurut Ketua Ilmu Sejarah, Dr. Anatona, M.Hum., kegiatan ini diselenggarakan sebagai wujud pengabdian masyarakat dari FIB Unand, khususnya Jurusan Ilmu Sejarah dalam peringatan Lustrum VII FIB Unand. Selain itu, tujuan dilaksanakan kegiatan ini ialah untuk mengoptimalkan kepariwisataan di Sumatera Barat yang dirasakan masih memiliki kelemahan.

“Banyak orang ragu datang ke Sumatera Barat karena kurang siapnya SDM itu sendiri. Hal ini bisa dilihat pelayanan yang kurang ramah, harga yang mahal, dan tempat wisata yang tidak terawat,” ujar Dr. Anatona, M.Hum.

Ketua Jurusan Ilmu Sejarah ini menyatakan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi SDM kepariwisataan di Sumatera Barat dan sekaligus menjadi kontribusi Jurusan Ilmu Sejarah di bidang kepariwisataan.

“Kita sama-sama mengetahui bahwa wisata menjadi icon  di Malaka. Kami ingin Sumatera Barat juga melakukan hal yang sama bahwa kita harus menjadikan beberapa kota wisata terbaik di Sumatera Barat menjadi icon, seperti Sawahlunto, Bukittinggi, dan Padang,” ungkap Dr. Anatona, M.Hum.

Dalam sejarahnya, Jurusan Ilmu Sejarah memiliki tim yang bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat yang tidak hanya secara akademis, yaitu praktisi yang bekerja di tour guide. Hal tersebut diungkapkan Dr. Anatona, M.Hum. karena beberapa alumni berhasil dan sukses menggerakan bisnis tour guide tersebut dengan berbasis wisata sejarah. Beberapa di antaranya ialah Dian Hamami dan Rizki Kurniawan.

Lulusan Ilmu Sejarah yang juga merupakan pemilik AET, Rizki Kurniawan misalnya, mampu menyajikan paket umrah sekaligus mampir di Turki. Terkait hal tersebut, Dr. Anatona, M.Hum. mengungkapkan bahwa Ilmu Sejarah dapat memberikan sumbangan yang menarik untuk dunia pariwisata. Tour guide  dan masyarakat sekitar destinasi dapat menyajikan pelayanan pariwata yang berbasis sejarah.

“Untuk mewujudkan hal tersebut, kegiatan ini diselenggarakan untuk membekali orang-orang yang bekerja di bidang pariwisata. Ini semacam pengabdian kami kepada masyarakat,” jelas Dr. Anatona, M.Hum.

Mengenai penyelenggaraan kegiatan ini, diungkapkan bahwa komposisi peserta yang akan dibekali ialah 60 % dari pelaku wisata berupa tour guide dan 40 % dari masyarakat sekitar destinasi wisata, termsuk mahasiswa dan pengelola bisnis pendukung pariwisata, seperti pengelola kuliner, pengelola tempat wisata, dan pengelola souvenir wisata.

Sebanyak tujuh narasumber telah disiapkan untuk membekali peserta tersebut, yaitu Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., Dr. Anatona, M.Hum., Dr. Lindayanti, M.Hum., Hary Efendi, S.S., M.A. (akademisi Ilmu Sejarah), Dian Hamama (praktisi pariwisata), serta Fatris M. F (travel writer).

Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. akan memaparkan arti penting pengetahuan sejarah dan nilai karakter untuk peningkatan kompetensi SDM pariwisata, sementara itu Syafrizal akan memaparkan sejarah Kota Padang, Dr. Anatona memaparkan sejarah Kota Bukittingi, dan Dr. Lindayanti memaparkan Sejarah Kota Sawahlunto. Sementara itu, Harry Effendi, S.S., M.A. akan menjelaskan nilai-nilai karakter yang sebaiknya dipakai oleh SDM bidang kepariwisataan untuk menarik perhatian masyarakat luar. Selain itu, dihadirkan juga Dian Hamama yang merupakan praktisi pariwisata yang sukses untuk menyajikan segala hal yang dibutuhkan turis di lapangan selain sektor bisnis. Terakhir, Fatris M. F., travel writer Sumatera Barat, akan membicarakan pentingnya kemampuan berbicara dan kemampuan menulis bagi seorang pelaku pariwisata dalam mempublikasikan destinasi wisata yang dimiliki Sumatera Barat.

Menurut Dr. Anatona, ketujuh narasumber tersebut akan menjelaskan materi pada Senin, 27 Maret 2017. Lalu, pada Selasa (28 Maret 2017), peserta akan dibawa praktik ke lapangan untuk melaksanakan aplikasi dari peningkatan kompetensi SDM itu, yakni dengan berkunjung ke Kota Sawahlunto dan Kota Bukittinggi. Pada Rabu (29 Maret 2017), peserta akan dibawa untuk praktik di daerah wisata Kota Padang.

“Praktik di lapangan ini semacam internalisasi peserta untuk mempraktikkan kemampuan SDM yang telah diperoleh dari ketujuh narasumber,” jelas Dr. Anatona, M.Hum.

Penandatangan MoU

Tak hanya pembekalan kepada peserta yang terdiri atas tour guide dan masyarakat sekitar destinasi wisata, pada kesempatan ini, juga dilaksanakan penandatangan tiga MoU (memorandum of understanding) antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang diwakili oleh Ketua Ilmu Sejarah dengan Jamkrindo.

“Kita akan menandatangi MoU terkait sejumlah kegiatan yang telah direncanakan dengan Jamkrindo. Kita memang benar-benar berharap bahwa kegiatan ini menjadi kegiatan awal untuk kegiatan selanjutnya dengan Jamkrindo,” ungkap Dr. Anatona, M.Hum.

Tak hanya itu, Jurusan Ilmu Sejarah juga tengah mengusahakan penandatanganan dengan asosiasi tour guide  Sumatera Barat terkait kerja sama yang bisa dijalin ke depannya. “Kami berharap bahwa pada masa yang akan datang, alumni Jurusan Ilmu Sejarah mendapat peluang yang besar untuk diterima bekerja di berbagai tour travel yang ada di Sumatera Barat. Lulusan Ilmu Sejarah bisa memberikan sentuhan seni terhadap sejumlah aktivitas wisata,” jelasnya.

Selain itu, Jurusan Ilmu Sejarah yang kini tengah meningkatkan jalinan kerja sama dengan Fakultas Tarbiyah IAIN juga berharap dapat diselenggarakan MoU pada pelaksanaan pembekalan tersebut. “Penandatangan tersebut terkait tri dharma perguruan tinggi yang bisa dijalin antara kedua institusi,” ungkap Dr. Anatona.

Harapan untuk bisa mewujudkan penandatanganan ketiga MoU tersebut diungkapkan oleh Dr. Anatona, M.Hum. sebagai bentuk tindak lanjut yang diterima oleh Jurusan Ilmu Sejarah karena telah mendapat akreditasi A.

“Setelah mendapat akreditasi A, tentu kita bertanya, selanjutnya apa? Penandatangan dengan ketiga pihak tersebut dapat menjawab bahwa Jurusan Ilmu Sejarah harus berbuat banyak terkait alumni dan stakeholder yang ikut membantu terwujudnya akreditasi A tersebut,” jelas Ketua Ilmu Sejarah FIB Unand ini.

Bagi Dr. Anatona, M.Hum., hal yang penting setelah Jurusan Ilmu Sejarah berhasil meraih akreditasi A ialah mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat, terutama mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah bahwa mereka harus benar-benar memiliki kemampuan berbicara, menulis, dan bekerja sama dengan pihak lain.

 Humas FIB: Ria Febrina dan Gading Rahmadi

 

 

Read 269 times