Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unand Telusuri Peninggalan Sejarah Abad ke-16

05 April 2017

FIB—Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah angkatan 2016 diajak berkunjung ke Desa Muara Takus, Kecamatan Tiga Belas Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kunjungan ini merupakan praktik mata kuliah “Sejarah Indonesia pada Abad ke-16” yang diampu oleh Dr. Mhd. Nur, M.S., dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Selama tiga hari, yakni 3—5 Maret 2017, sebanyak 36 mahasiwa Jurusan Ilmu Sejarah menyaksikan langsung objek peninggalan warisan budaya pada masa lampau, yaitu Candi Muara Takus. Candi yang dibangun pada masa Indonesia Kuno atau pada masa berkembangnya agama Hindu Budha ini menjadi objek kajian menarik bagi calon ilmuwan sejarah karena pendeta It sing, seorang pendeta Cina yang memegang peranan penting dalam sejarah penulisan Indonesia kuno, pernah tinggal di sana untuk belajar agama Budha.

"Pada masa itu, Pulau Sumatera pada umumnya terdiri atas kerajaan Melayu. Belum ada agama besar kecuali Islam dan Kristen. Masyarakat pun hanya menganut animisme. Namun, Pulau Sumatera pada masa itu telah menjadi tempat persinggahan, khususnya pedagang India dan pedagang China. Penganut Hindu Budha pun sangat cepat tumbuh di sana,” ungkap Dr. Mhd. Nur, M.S.

Menurut Dr. Mhd. Nur, M.S., tumbuh suburnya agama Hindu dan Budha di sana menyebabkan penganut agama Budha menjadikan candi tersebut sebagai tempat peribadatan pada hari ini. “Padahal, candi tersebut sempat hilang berabad lamanya karena tertimbun oleh tanah. Namun, candi tersebut ditemukan kembali oleh Belanda pada abad ke-19 dan selanjutkan direnovasi oleh pemerintah. Di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kini candi tersebut dirawat dengan baik. Bahkan dan penduduk Budha hingga saat ini memanfaatkan candi tersebut sebagai tempat peribadatan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pengampu mata kuliah “Sejarah Indonesia pada Abad ke-16” ini pun menyatakan bahwa para peneliti pada hari ini masih menelusuri bukti-bukti yang menyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya dianggap sebagai kerajaan terbesar di Nusantara.

“Penemuan ini masih diragukan apakah di Palembang atau Muara Takus. Sebab, dari catatan It sing, celifotse diterjemahkan menjadi Palembang, sedangkan George Codeis menyatakan dengan minangatamwan, yaitu minanga (pertemuan) dan tamwan (dua sungai). Artinya, pertemuan antara dua sungai, yaitu Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Oleh karena itu, menarik untuk ditelusuri kembali, khususnya merekonstruksi kembali hal-hal yang jauh dari periode dan data yang juga tersebar,” ujar Dr. Mhd. Nur, M.S.

Proses pembuktian tersebut yang ingin ditunjukkan oleh Dr. Mhd. Nur, M.S. kepada mahasiswa yang mengikuti praktik lapangan mata kuliah “Sejarah Indonesia pada Abad ke-16” ini. Baginya, dengan adanya tradisi lapangan diharapkan seluruh mahasiswa dapat menyiapkan diri untuk terjun ke lapangan.

“Dalam proses menjalankan praktik lapangan ini, mereka berproses dengan sendirinya. Mereka mencoba me-loby pihak pemilik bus terkait negosiasi harga dan juga menghubungi bupati dan pihak terkait untuk mendapatkan izin. Proses tersebut tentunya meningkatkan kemampuan berkomunikasi di lapangan,” ujar Dr. Mhd. Nur, M.S.

Selain itu, menurut Dr. Mhd. Nur, M.S., mahasiswa yang berhasil melaksanakan praktik lapangan satu kali saja jauh lebih berarti dibandingkan mahasiswa hanya duduk mendengarkan teori di dalam kelas. Apalagi, SK rektor sejak enam tahun lalu telah menunjukkan bahwa perkuliah harus dijalani dengan metode Sistem Center Leraning (SCL). Dosen harus berperan sebagai fasilitator dan mahasiswa harus aktif dalam menerima setiap materi perkuliahan.

Menurut Dr. Mhd. Nur, M.S., di Jurusan Ilmu Sejarah, beberapa mata kuliah sudah melaksanakan kuliah lapangan. Di lapangan, mahasiswa saling berkoordinasi dan berbagai tugas terkait penelitian tersebut. Di antaranya ada yang melaksanakan tugas mengamati, mendokumentasikan, lalu mereka berdiskusi, membuat laporan, dan menyelenggarakan seminar.

“Kegiatan tersebut sangat baik untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa itu sendiri. Apalagi, praktik lapangan dilaksanakan berdasarkan animo dan keinginan mahasiswa itu sendiri. Sebab, mereka terpengaruh dengan pengalaman para senior yang mengungkapkan pengalaman menarik mereka ketika berada di lapangan,” ungkap Dr. Mhd. Nur, M.S.

Humas FIB: Ria Febrina dan Gading Rahmadi

 

Read 254 times