Dr. Aslinda, Dosen Sastra Indonesia FIB Unand, Prihatin dengan Mahasiswa yang Tidak Santun Berbahasa

11 April 2017

FIB—Dr. Aslinda, M.Hum., Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas membincangkan “Penggunaan Bahasa Minang di Kampus oleh Mahasiswa” di stasiun televisi republik Indonesia (TVRI) Sumatera Barat pada Minggu (19/3/2017).

Sebagai doktor linguistik FIB Universitas Andalas, Dr. Aslinda telah melakukan penelitian terhadap penggunaan bahasa mahasiswa di kampus. Dari serangkaian hasil penelitian tersebut, ia mengungkapkan keprihatinan terhadap ketidaksantunan bahasa yang digunakan oleh mahasiswa.

Terkait penggunaan bahasa di kampus, Dr. Aslinda menemukan bahwa mahasiswa Universitas Andalas cenderung menggunakan bahasa Indonesia di kampus, khususnya mahasiswa perempuan. “Yang paling setia menggunakan bahasa Minangkabau ialah mahasiswa laki-laki. Meskipun begitu, penggunaan bahasa Minang tersebut sebagian juga tidak santun,” ungkapnya.

Salah satu yang digambarkan oleh Dr. Aslinda ialah ketika salah seorang dari mahasiswa tidak mengerjakan tugas, lalu mereka berkata, “Buk, awak alun buek tugas lai, buk.” Ketika dosen menanggapi bahwa pada kontrak perkuliahan tugas harus dikumpul pada saat jadwal perkuliahan, mahasiswa tersebut malah menjawab, “Oo, ndak bisa yo, buk. Yo lah,” dan ia pun pergi tanpa permisi.

Menurut konsep kesantunan bahasa Minangkabau, mahasiswa tersebut seharusnya mengucapkan permintaan maaf karena telah melanggar kontrak perkuliahan yang telah disepakati sejak awal.

Dr. Aslinda yang merupakan ahli kajian pragmatik menyatakan bahwa ia pernah membagikan kuisioner di asrama mahasiswa dan menanyakan satu persoalan, yaitu “Apa yang akan Anda sampaikan kepada pengurus asrama ketika tidak ada tong sampah?”

Ia sangat terkejut ketika membaca jawaban mahasiswa dalam kuisioner tersebut karena ternyata mahasiswa menuliskan, “sarancak ko gedung, tong sampah ciek se ndak tabali”. Dr. Aslinda mengungkapkan bahwa dari jawaban kuisioner tersebut tampak bahwa mahasiswa sekarang cenderung tidak santun dalam bertutur.

Tidak hanya itu, mahasiswa pada hari ini juga cenderung tidak menyapa dosen yang tidak mengajarnya di kampus meskipun pada saat tersebut, ia berpapasan, baik di koridor, di parkiran, maupun di mesjid. “Semua dosen dan semua mahasiswa merupakan warga kampus. Mahasiswa seharusnya tidak membedakan dosen karena semua elemen di dalam kampus merupakan satu kekeluargaan,” ungkap Dr. Aslinda yang menyatakan bahwa mahasiswa sudah kurang memahami kato nan ampek dalam bahasa Minangkabau bahwa kepada orang yang lebih tua, mereka harus menghormati dan bersikap santun.

Begitu juga halnya dengan komunikasi yang dilakukan mahasiswa dengan tenaga kependidikan di lingkungan kampus. Menurut Dr. Aslinda, terkadang mahasiswa tidak mengucapkan salam atau bahkan tidak memberi ungkapan pengantar ketika meminta bantuan kepada bapak/ibu tenaga kependidikan di kampus.

“Mereka dengan biasa saja mengucapkan,’tolong buek an surek penelitian lapangan ciek’. Mereka mengucapkannya seolah-olah berkomunikasi dengan teman sebaya. Mereka bertutur tanpa kata sapaan, tidak mengucapkan salam, dan juga tidak menggunakan kata basa-basi bahwa mereka akan mengganggu aktivitas tenaga akademik pada saat itu,” jelas Dr. Aslinda.

Bagi Dr. Aslinda, mahasiswa menggunakan bahasa di kampus pada hari ini tidak lagi memaksimalkan kesantunan. Bahkan, sebagian dari mereka dengan lugas menyampaikan bahwa mereka tidak malu untuk menjaga kesantunan berbahasa dengan siapa saja, termasuk kepada teman sejawat, senior, dan juga dosen.

Menyikapi hal ini, Dr. Aslinda mengungkapkan bahwa ada proses yang salah yang telah diterima oleh mahasiswa tersebut. Komunikasi yang dilakukan oleh mahasiswa di kampus sesungguhnya merupakan cerminan komunikasi yang telah dibangun sejak mereka berada di bangku sekolah dan juga merupakan cerminan komunikasi keseharian di rumah. Mereka sudah memiliki lingkungan tertentu yang sehari-hari telah membentuk karakter berbahasa.

“Ada beberapa hal yang bisa ditelusuri. Salah satunya berasal dari proses pembentuka karakter semasa sekolah. Dalam buku pelajaran Budaya Alam Minangkabau misalnya, siswa  hanya disuguhkan dengan teori tentang segala hal yang berkaitan dengan budaya Minangkabau. Namun, tidak tampak bahwa siswa dapat mengaplikasikan melalui kesantunan berbahasa. Seharusnya, dibuatkan sebuah drama atau film dengan latar alam Minangkabau dan ditunjukkan dua orang tokoh yang mewakili tokoh yang santun dan tokoh yang tidak santun. Drama tersebut harus diperankan oleh siswa di depan kelas untuk menyentuh rasa kesantunan yang dimilikinya,” ujar Dr. Aslinda.

Menurut doktor lulusan Universitas Kebangsaan Malaysia ini, pembentukan karakter seorang anak harus diwujudkan dalam praktik keseharian. Misalnya, seorang anak di Minangkabau harus dibiasakan mendengarkan lagu Minang dan juga diajarkan berbahasa Minang dalam keseharian.

“Orang tua tidak boleh menyatakan diri bahwa mereka sibuk ketika berhadapan dengan anak-anaknya. Orang tua harus memperhatikan bagaimana anak-anaknya berbahasa kepada adik, kakak, etek, pak uwo, dan teman-temannya. Ketika ia menemukan ketidaksantunan berbahasa pada anak tersebut, orang tua harus menegur dan menunjukkan cara berbahasa yang santun kepada anak,” ungkapnya.

Menurut Dr. Aslinda, komunikasi antara orang tua dan guru juga harus dibangun secara intensif. Orang tua harus rajin bertanya kepada guru di sekolah bagaimana perkembangan anak, terutama berkaitan dengan komunikasi mereka dengan seluruh elemen sekolah sehari-hari.

“Sudah seharusnya orang tua mempercayakan anak sepenuhnya kepada guru. Sebagaimana orang tua pada masa lampau, anak bukanlah tanggug jawab orang tua semata, melainkan juga menjadi tanggung jawab masyarakat sekitar. Ketika seorang anak berbuat salah, siapa pun yang menyaksikan harus memarahi anak tersebut. Orang tua yang mendengar bahwa anaknya telah ditegur oleh orang lain, biasanya akan berterima kasih karena mereka ikut memperhatikan perkembangan anaknya,” ujar Dr. Aslinda.

Bagi Dr. Aslinda, hal tersebut sangat berbeda dengan kondisi hari ini. “Pada hari ini, kalau seorang anak ditegur oleh guru di sekolah, orang tua kadang balik memarahi guru dan bahkan melaporkan kepada lembaga perlindungan anak. Padahal, lingkungan sekitar memang sudah sepatutnya membimbing anak untuk bisa membentuk karakter mereka menjadi seorang anak yang baik,” ungkapnya.

Melalui serangkaian fenomena kebahasaan tersebut, menurut Dr. Aslinda, telah ditunjukkan bahwa karakter mahasiswa di kampus hari ini terbentuk berdasarkan serangkaian proses yang dialami sebelum mereka tiba di kampus. Mahasiswa harus menyadari bahwa mereka sudah menunjukkan apresiasi yang tidak baik sehingga ketika mendapatkan bimbingan dari dosen dan juga elemen lainnya di kampus, mahasiswa harus menerima dan memperbaiki ketidaksantunan yang dilakukan tersebut.

“Mahasiswa harus menyadari kelemahan mereka. Setiap orang, termasuk orang tua, dosen, dan pihak kampus harus pro-aktif memperbaiki ketidaksantunan yang dilakukan mahasiswa tersebut.”

Humas FIB: Ria Febrina dan Gading Rahmadi

 

Read 202 times