Fakultas Ilmu Budaya Unand Buka Magister Kajian Budaya

24 Juli 2017

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas buka program studi magister (S2) Kajian Budaya. Program studi baru ini menerima mahasiswa melalui tiga gelombang penerimaan.

Ketua Program Studi Magister Kajian Budaya, Hasanuddin menjelaskan, pembukaan program studi Kajian Budaya dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Nomor: 238/ KPT/I/2017, tanggal 3 Mei 2017, tentang Izin Pembukaan Program Studi Kajian Budaya Program Magister pada Universitas Andalas di Kota Padang.

Sebagai tindak lanjut, sambungnya, Kajian Budaya menerima karyasiswa (mahasiswa) perdana pada Tahun Akademik 2017-2018 gelombang ke-2.

“Informasi penerimaan karyasiswa baru dapat dilihat pada: http://pasca.unand.ac.id,” ujarnya.

Dikatakan Dr. Hasanuddin, visi Kajian Budaya adalah ini menjadi pusat pendidikan kajian budaya terkemuka dan bermartabat dalam pengembangan kajian multidisiplin dan interdisiplin ilmu bahasa, sastra, sosial humaniora, dan seni untuk melahirkan cendikiawan, seniman, budayawan, aparatur, dan profesional yang cerdas, kritis, arif dan bijaksana.

Visi tersebut dijabarkan ke dalam empat misi, yang intinya melahirkan ilmuan magister yang berkualitas dan bermartabat, SDM peneliti yang mampu memroduksi IPTEKSB (Ilmu, pengetahuan, teknologi, seni, sosial dan budaya) berbasis kajian budaya yang berkualitas, yang dapat diabdikan kepada masyarakat melalui berbagai jejaring sinerrgitas sehingga kehadirannya meninggikan martabat manusia dan kemanusiaan.

Dia berharap, program studi ini mampu memberi kontribusi bagi penyelesaian atas berbagai persoalan sosial humaniora dalam skala lokal di Sumatera Barat dan skala regional di Sumatera.

Sebab, sebutnya, kajian budaya adalah disiplin ilmu yang menerapkan pendekatan kritis dan eklektik dalam elaborasi keilmuannya.

“Pendekatan kritis meniscayakan kajian yang tidak sekadar studi kebudayaan (studi yang diarahkan menghasilkan deskripsi atau des sein kebudayaan) melainkan meliputi kajian kritis budaya (kajian yang menghasilkan preskripsi atau des solen kebudayaan),” bilangnya.

Dengan kata lain, kajian budaya tidak ditujukan bagi pengembangan kemampuan mendeskripsikan kebudayaan sebagaimana “apa adanya” akan tetapi juga menjelaskan bagaimana kebudayaan “seharusnya ada”. Dengan begitu, kajian budaya menjadi lebih hidup dan energik.

Menurut Dekan FIB terpilih periode 2017-2021 ini, banyak persoalan tidak tuntas ketika bidang ilmu bekerja secara monodisiplin. Misalnya, swasembada pangan dan swasembada daging yang selama puluhan tahun gagal karena mengabaikan pendekatan budaya.

“Atau, program satu sapi satu keluarga yang justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bergerak di bidang tersebut,” paparnya.

Kajian budaya, ungkap Hasanuddin, lebih kepada pendekatan multidisiplin dan interdisiplin terkait program kemanusiaan.

“Pendekatan budaya itu lebih kritis dan ekletis,” tukasnya.

Secara kritis, kata Hasanuddin, pendekatan budaya menjadikan pendekatan sosial humanis tidak hanya menghasilkan deskripsi saja, tetapi juga preskripsi, yaitu melihat persoalan bagaimana seharusnya. Artinya, bagaimana ilmu bermanfaat bagi masyarakat untuk menjelaskan problema hari ini.

Disebutkannya, calon mahasiswa S2 Ilmu Budaya bisa berasal dari alumni FIB, sastrawan, budayawan, antropolog, ahli hukum, ahli ekonomi, ahli pertanian, bahkan arsitektur.

Sebab, Kajian ilmu budaya memiliki tiga pengutamaan, yaitu (1) estetika yang selama sangat erat dengar sastrawan, ahli sastra, dan budayawan; (2) pengendalian sosial budaya yang mengharapkan agar magisternya mampu menghasilkan model rekayasa sosial budaya; serta (3) pariwisata budaya yang menunjukkan bahwa tren pariwisata hari ini semakin berkembang karena mobilitas.

“Untuk Sumbar dan pulau Sumatera, pariwisata menjadi sektor andalan. Pengembangan pariwisata tidak hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kultur/budaya,” pungkasnya.

Bahkan Hasanuddin berpendapat, ASN di SKPD apa pun patut masuk ke sini karena kepemimpinan dan kebijakan dapat berkarakter dan berbudaya karena dibekali dengan wawasan kebudayaan.

Domain studi kebudayaan dalam kajian budaya meliputi keseluruhan wujud (yakni wujud fisik, perilaku, ide dan gagasan serta nilai) dan tujuh unsur kebudayaan (bahasa, kesenian, organisasi sosial, religi, pengetahuan dan pendidikan, teknologi, dan ekonomi).

Domain universal tersebut yang menjadi objek dan subjek kajian karyasiswa dari berbagai perspektif akademik yang beragam yang merupakan basis keilmuan karyasiswa.

Oleh sebab itu, karyasiswa Kajian Budaya berasal dari berbagai disiplin ilmu. Alumninya diharapkan mampu bekerja ilmiah secara multidisipliner dan interdisipliner sehingga mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan yang ada di masyarakat secara lebih efektif, cerdas, kritis, arif dan bijaksana.

Pada program studi ini ditawarkan mata kuliah-mata kuliah utama dan pendukung dengan rentang sks kumulatif 42-46 SKS. Pada semester ketiga, karya siswa ditawarkan tiga pilihan pengutamaan (wajib), yakni: Estetika, Pengendalian Sosial Budaya, dan Pariwisata Budaya.

Staf pengajar tetap Program Studi Kajian Budaya ini terdiri dari Guru Besar dan Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, dan didukung oleh dosen tidak tetap dan dosen tamu dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, seperti sosiologi, politik, hukum, manajemen, pariwisata, dan lainnya.

Sesuai dengan karakteristik keilmuan dan orientasinya, profil lulusan Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Universitas Andalas adalah pendidik, peneliti, aparatur dan profesional yang cerdas, kritis, arif dan bijaksana dalam berbagai profesi.

Dengan kata lain, karyasiswa Kajian Budaya berasal dari (1) Tenaga Pendidik (dosen, guru, lainnya); (b) Peneliti (di lembaga-lembaga riset dan/atau survey seperti: Pusat Bahasa, LIPI, Bapeda, Balai Bahasa, Balai Pelestarian Nilai Budaya, Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya dan lainnya); dan (c) Aparatur, Praktisi, dan Profesional dalam berbagai bidang.

Personal yang diterima meliputi: ASN Pusat/ Daerah, Staf Ahli Pemerintahan Pusat/ Daerah, Pengelola/ Operator/ Staf Kepariwisataan; Tenaga Ahli Kebudayaan/ Analis budaya/ Kritikus Sastra/ Seni, Budayawan/ Sastrawan/ Seniman; Pemimpin Formal dan Informal (Pengendali Sosial/ Budaya).

Lalu, Diplomat/ Negosiator/ Governance relation officer/ Staf Kedutaan; Praktisi/ Jurnalis/ Profesional/ Pekerja lembaga non-Pemerintah/ Internasional; Politisi/ Praktisi Politik (dalam partai politik atau organisasi kemasyarakatan).

Dan juga Wirausahawan/ Pekerja sosial/ pekerja organisasi nirlaba, dan lainnya; serta Para pengambil kebijakan, relawan, dan pelaku dalam dinamika, dialektika, dan transformasi sosial humaniora di masyarakat.

“Capaian pembelajaran (Learning outcomes) Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya PPs FIB Unand sesuai Level 8 KKNI dan SN-Dikti,” ujar Hasanuddin.

Untuk sekedar diketahui, bila tertarik masuk Kajian Budaya, biayanya berupa Uang Kuliah Tunggal (UKT) : Rp. 6.000.000,-/Semester.

 

Informasi lebih lanjut, bisa hubungi Pengelola Program Studi S2 Magister Kajian Budaya Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Kampus Limau Manih, Padang, Fax. (0752) 71227

E-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.; Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.; Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Website : http://fib.unand.ac.id

Informasi pendaftaran : http://pasca.unand.ac.id/id/berita/item/314-penerimaan-mahasiswa-baru-pascasarjana-universitas-andalas-gelombang-ii-tahun-2017

 

Sumber: Yose Hendra (http://padangkita.com/fakultas-ilmu-budaya-unand-buka-magister-kajian-budaya)

 umber: Yose Hendra (http://padangkita.com/fakultas-ilmu-budaya-unand-buka-magister-kajian-budaya)

Read 252 times