Di FIB Unand, Kepala Badan Bahasa RI Ajak Masyarakat Wujudkan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa PBB

30 Agustus 2017

FIB—Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., mengajak masyarakat Indonesia untuk wujudkan bahasa Indonesia menjadi bahasa PBB. Hal tersebut disampaikan dalam International Seminar on Linguistic (ISoL) III FIB Unand pada Kamis (24/08/2017).

Menurut Prof. Dadang Sunendar, saat ini bahasa Indonesia memang sedang diupayakan menjadi bahasa internasional. “Badan pengembangan bahasa sedang mendaftarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Syarat menjadikan suatu bahasa sebagai bahasa internasional, yaitu punya banyak penutur, dimengerti dan dikuasai setidaknya oleh 7 negara lain, dipelajari dan diajarkan di negara lain, serta punya penutur asli yang berpengaruh di dunia internasional. Indonesia mempunyai syarat tersebut,” ungkapnya.

Meskipun demikian, Prof. Dr. Dadang Sunendar menambahkan satu syarat yang selama ini tidak dimiliki oleh bahasa Indonesia agar terwujud menjadi bahasa internasional, yaitu rasa bangga yang dimiliki penuturnya untuk berbahasa Indonesia. “Hanya satu syarat yang tidak dimiliki oleh bangsa kita, yaitu rasa bangga masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia,” paparnya.

Tak hanya itu, penggunaan bahasa Indonesia di tengah masyarakat juga tertindih dengan penggunaan bahasa asing. Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia sebagai tantangan yang harus diatasi. “Hal yang menjadi tantangan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia ialah penggunaan bahasa asing di ruang-ruang publik, seperti nama perumahan yang menggunakan bahasa Inggris, spanduk, bahkan 47 judul film Indonesia beberapa tahun terakhir menggunakan bahasa Inggris,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Dadang Sunendar juga bertanya mengapa hal tersebut begitu marak di tengah-tengah masyarakat Indonesia. “Saya heran juga kenapa menggunakan bahasa asing untuk menamai nama perumahan dan dinas perizinan juga memberikan izin. Judul film juga menggunakan bahasa Inggris, namun tidak ada keterkaitannya dengan jalan cerita. Selain itu, penggunaan bahasa Inggris di ruang publik yang begitu ramai.”

Terkait hal tersebut, Prof. Dadang Sunendar mengungkapkan bahwa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia saat ini tengah melakukan beberapa kiat untuk mengatasi dan menimalisasi. “Kami melakukan penyuluhan kepada beberapa intansi atau dinas yang berkaitan dengan perizinan merk atau nama dagang untuk mengeluarkan izin dengan usaha yang menggunakan bahasa Indonesia, serta mengundang pengusaha untuk menggunakan bahasa Indonesia untuk penamaan produk mereka,” ungkapnya.

Prof. Dadang Sunendar juga mengundang masyarakat, khususnya peserta seminar ISoL III untuk selalu mengutamakan bahasa Indonesia. “Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Perlu ditekankan urutan prioritasnya. Tidak boleh terbalik. Bahasa Indonesia berada dalam urutan pertama,” tutupnya.

Reporter: Sonia, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Read 164 times