Jumat, 20 Oktober 2017 16:01

FIB Unand Hadirkan Hilmar Farid, Dirjen Kemendikbud RI, dalam Puncak Lustrum Ke-7

FIB—Menutup rangkaian lustrum ke-7, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menyelenggarakan pidato kebudayaan bersama Hilmar Farid, Ph.D., Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Republik Indonesia. Dengan tema “Simpul-Simpul Nasionalisme Kultural dan Desakralisasi Keindonesiaan”, pidato kebudayaan ini diselenggarakan di Convention Hall Unand pada Selasa (17/10/2017).

Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM) FIB Unand memulai acara dengan menyuguhkan Tari Pasambahan dan memakaikan roki (pakaian mempelai) kepada Hilmar Farid, Ph.D. Menurut Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si., pemakaian baju adat tersebut merupakan salah satu cara orang Minangkabau menyambut tamu.

Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menyampaikan laporan kegiatan Lustrum FIB ke-7 dengan memaparkan sejarah lahirnya FIB Unand. “Fakultas Ilmu Budaya pada awalnya bernama Fakultas Sastra dan berdiri pada tahun 1982. Pada tahun 2011, Fakultas Sastra berubah nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Dalam usia 35 tahun ini, FIB dapat dikatakan dewasa dan sudah mapan. Dalam agenda ke depannya, FIB Unand akan menguatkan budaya Minang ke seluruh dunia dengan mewujudkan Unand menjadi pusat kebudayaan Minangkabau.”

Lebih lanjut, Dr. Hasanuddin, M.Si. menyatakan bahwa sejak tahun 1960-an, upaya untuk menciptakan Minangkabau World Center ini sudah mengemuka, namun baru dapat direalisasikan mulai saat ini. “Langkah awal sudah tampak sejak Unand sebagai universitas tertua di Sumatera ini membentuk dan mendirikan Pojok Minangkabau atau Minangkabau Corner beberapa tahun silam,” jelasnya.

Minangkabau Corner atau Pojok Minangkabau merupakan satu-satunya pusat Minangkabau yang ada di Indonesia saat ini. Selain sebagai pusat informasi keminangkabauan, berdirinya Minangkabau Corner bertujuan sebagai pusat pengelolaan pengetahuan tradisional. Menurut Dr. Hasanuddin, M.Si., upaya tersebut dilakukan agar sastra dan budaya Minangkabau dapat terus direvitalisasi, dikembangkan, dan dipertahankan agar tidak punah.

Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A. mendukung upaya yang dilakukan oleh FIB Unand karena pihak universitas memang berharap agar semua fakultas di Unand mampu bersaing dengan universitas yang ada di Pulau Jawa.

“Kita harus meningkatkan kualitas meskipun membutuhkan biaya yang besar,” ungkap Rektor Universitas Andalas.

Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Taufik Efendi, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, mengungkapkan bahwa bahasa dan budaya sebuah bangsa memang harus dikembangkan agar peradaban tersebut tetap bertahan.

“Sesungguhnya suatu suku bangsa telah mati apabila bahasa dan budaya suku bangsa tersebut tidak digunakan lagi,” tutur Taufik Efendi berharap agar masyarakat Minangkabau terus melestarikan bahasa dan budaya yang dimiliki.

Dalam pidatonya, Hilmar Farid mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh melupakan dimensi historis karena Indonesia disatukan oleh pergulatan sejarah. “Merawat nation tidak bisa hanya dengan ceramah atau dengan menyanyikan lagu kebangsaan saja. Konkretkanlah bangsa dalam diri dengan membuat riwayat kebangsaan menjadi bagian dari pengalaman pribadi,” tutur Hilmar Farid.

Bagi Hilmar Farid, sebuah kebudayaan akan menjadi kuat jika dijadikan pengalaman pribadi masyarakatnya. Oleh karena, setiap masyarakat Indonesia perlu menyiapkan strategi untuk mengakrabkan diri dengan sejarah dan kebudayaan agar nasionalisme terawat dengan baik.

 

Humas FIB: Lusi Andriani, Ria Febrina, dan Gading Rahmadi

 

Read 429 times