Israr Iskandar, S.S., M.A., Dosen Sejarah FIB Unand, Kenang Rohana Kudus dalam Rangka Hari Kartini 2018 di RRI Pro1 Padang

29 April 2018

FIB - Israr Iskandar, SS, M.A., dosen Jurusan Sejarah FIB Unand, menjadi narasumber dialog khusus memperingati hari Kartini dengan topik “Rohana Kudus: Tokoh Pers Wanita Minangkabau” bertempat di Studio RRI Pro1 Padang pada Sabtu, 21 April 2018.

Dialog dipandu oleh Gina, dia biasa dipanggil, dengan membuka layanan telepon secara langsung bagi para pendengar yang ingin memberikan pertanyaan, tanggapan, dan partisipasi lainnya. Topik yang dibicarakan kali itu untuk mengenal lebih jauh sosok Rohana Kudus, latar belakang kehidupan, pendidikan, perjuangan, serta prestasi dan penghargaan yang didapatkannya.

“Siapa yang tidak tahu sosok Kartini yang sangat luar biasa dan dikenal secara nasional bagi masyarakat Indonesia,” Gina mencoba berinteraksi kepada pendengar untuk memulai dialog. “Tapi untuk lingkup Sumatera Barat atau Minangkabau sendiri kita juga mempunyai wanita-wanita hebat dan wanita-wanita tangguh yang bisa menjadi inspirasi juga bagi seluruh wanita yang ada di Minangkabau secara khususnya. Ia adalah sosok Rohana Kudus,” terang Gina..

“Nama Beliau ini barangkali semua sudah tahu, tapi seperti apa sih perjuangan yang Beliau lakukan terutama dibidang pers karena Beliau merupakan jurnalis pertama di Indonesia. Sejarah singkat dan perjuangan Beliau dalam menyemangati kita ialah agar kita mampu kembali kepada Kartini-Kartini zaman sekarang,”  tanya Gina.

Merespon pertanyaan pemandu dialog, Israr Iskandar SS, M.A. memulai pembahasannya. Ia menyampaikan,“Berbicara mengenai Rohana Kudus, selama ini asosiasinya hampir selalu mengenai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Itu sebenarnya betul. Memang Beliau adalah wartawati pertama yang merintis surat kabar yang memiliki genre khusus yakni perempuan. Jadi, gagasan, orientasi redaksionalnya terkait dengan isu-isu perempuan dan wartawati-wartawati yang mengorganisir surat kabar tersebut juga perempuan dan surat kabar itu bernama “Sunting Melayu”. Jadi “Sunting Melayu”, konotasinya jelas perempuan.”

Setelah itu ia menjelaskan,“Tetapi memang, akhir-akhir ini atau dalam pengetahuan sejarah masyarakat kita, nama Rohana Kudus memang belum setenar seperti R.A Kartini, Dewi Sartika, dan Cut Nyiak Dien. Itu memang bisa dipahami karena memang selama ini wacana sejarah kita terutama yang disosialisasikan kepada sekolah-sekolah, masyarakat, juga agen-agen sejarah resmi di pemerintahan yang selalu dimunculkan ya tokoh-tokoh itu. Sementara Rohana Kudus, itu masih terbatas. Barang kali hanya masyarakat Minangkabau atau Sumatera Barat saja yang kemudian banyak tahu tentang Beliau.”

Yang paling utama sebenarnya menurut Israr Iskandar SS, M.A. adalah Rohana Kudus berhasil melawan suatu pandangan umum pada saat itu, dimana perempuan cukup berperan di rumah saja, tidak mesti sekolah, dan sebagainya. Dia melawan itu semua. Karena itulah, dia bisa lebih maju. Memang ada hambatan-hambatan yang dia hadapai, tapi ketika berhasil, masyarakat pun mengakuianya.

Lalu Israr Iskandar SS, M.A menyimpulkan pelajaran yang bisa dipetik dari perjuangan Rohana Kudus yaitu tidak ada kata berhenti untuk mencapai keadilan karena semuanya berhak untuk maju. Perempuan juga punya hak untuk mendapatkan itu, berperan dalam sosial budaya, bahkan politik.

Menyambung apa yang telah disampaikan Israr Iskandar SS, M.A., Gina, selaku pemandu acara bertanya, “Pemerintah daerah sendiri sudah mengususlkan beliau sebagai pahlawan nasional, sejauh ini seperti apa proses yang sudah dilakukan pemerintah sebagai wujud menjadiknnnya sebagai pahlawan nasional?”

Israr Iskandar SS, M.A.  membalas, “Saya kurang mengikuti, tapi saya dengar beberapa tahun yang lalu, usulan-usulan  itu memang sudah dilakukan terutama kepada Departemen Sosial yang nantinya akan meluluskan atau tidaknya sesorang menjadi pahlawan nasioanal. Saya dengar tahun ini ada beberapa nama memang dari Sumatera Barat yang diusulkan jadi pahlawan nasional, Rohana Kudus, Inyiak Candung, dan lain-lain. Saya lupa beberapa nama itu.”

“Tapi untuk Rohana Kudus, saya kira perlu mendapatkan prioritas, karena beliau adalah tokoh emansipasi wanita, jurnalis pertama, dan lain-lain. Ya, semoga nama beliau diluluskan dengan pemerintah nantinya. Kalau sudah menjadi pahlawan nasional dia sudah menjadi milik bangsa, ruang lingkup perjuangannya tersebut sudah bisa dianggap sebagi bagian dari sejarah nasioanl, kalau dia hanya sebagai tokoh pers, pers perempuan, ya, itu dikalangan pers saja,” tambahnya sambil berharap.

Hal-hal yang dapat menjadi pertimbangan sehingga Rohana Kudus dapat diusulkan sebagai pahlawan nasional menurut Israr Iskandar SS, M.A. adalah prestasi dan penghargaan yang Beliau dapatkan diantaranya, wartawati pertama Indonesia tahun 1974, penghargaan pada hari pers nasional, perintis pers Indonesia tahun 1987, dan tahun 2007 ia juga mendapatkan penghargaan Bintang Jasa Utama. Penghargaan-penghargaan tersebut katanya sudah dekat sekali menuju pengakuan sebagai pahlawan nasioanal.

Disela-sela dialog, datang beberapa tanggapan dari pendengar yang dihubungkan melaui sambungan telepon diantaranya; Rani yang berlokasi di Jati, menanyakan, “Apa yang bisa kami lakukan dan kami contoh sebagai wanita-wanita Sumatera Barat khususnya di era kids zaman now ini  dari  sosok Rohana Kudus?”

Kemudian tanggapan datang dari Roza Dahlia, SH, M.Hum yang merupakan dosen PKN di STKIP Azkia Padang. “Bagi saya Rohana Kudus adalah sosok yang menginspirasi, perempuan yang memiliki pemikiran yang sangat bagus. Saya berharap generasi sekarang ini bisa melihat beliau karena sangat baik untuk dijadikan panutan, bukan justru tidak mengenalnya. Meski sekarang masih kurang terekspos, tapi tetap bagi saya beliau adalah panutan yang layak ditiru.

Semoga akan muncul perempuan-perempuan yang tangguh juga nantinya, tidak hanya bertahan pada kodratnya tapi mampu memberikan hal yang lebih seperti yang dilakukan oleh Rohana Kudus,” pikirnya.

 

Reporter: Jusman, Editor:Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 101 times