Sastra Jepang FIB Unand Sedot Pengunjung melalui Bunkasai XIV 2018

06 Mei 2018

FIB - Sastra Jepang FIB Unand menyelenggarakan Bunkasai atau Festival Budaya Jepang yang ke-14 di Auditorium Unand pada 18-19 April 2018 lalu. Acara yang berlangsung dua hari tersebut sukses menyedot pengunjung baik dari mahasiswa maupun siswa SMA.

Bunksai tahun ini mengusung tema “tanabata” yang merupakan cerita rakyat Jepang mengenai sepasang kekasih yang terpisahkan dan harapan mereka untuk saling bertemu. Harapan mereka inilah yang menjadi simbol dari tanbata itu sendiri.

Acara dibuka langsung oleh Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. Beliau mengapresiasi konsistensi acara tersebut yang telah berlangsung selama 14 tahun. Beliau juga berpesan agar ada nilai-nilai budaya yang dapat diambil dari setiap Bunkasai yang diadakan.

“Sebuah konsistensi yang perlu diapresiasi dan kita ucapkan pula selamat kepada panita yang telah mempersiapkan segala sesuatunya. Sebagai sebuah festival kebudayaan tentu saja kita ingin mengambil suatu nilai karena ini sebuah event budaya sebagaimana pengertisn budaya yang kita pahami. Budaya adalah sebuah sistem nilai-nilai yang diyakini baik yang karena itu jadi standar perilaku. Jadi alangkah baiknya kita dapat mengambil nilai baik tersebut dan mengaplikasikannya kepada diri sendiri,” tuturnya..

Bunkasai yang ke-14 tahun ini memiliki beberapa hal baru seperti yang disampaikan oleh Koordinator Divisi Acara, Willa Wahyuni.

“Bunkasai tahun ini mengambil tema tanabata yag di Jepang sendiri merupakan festival bintang. Festival ini diadakan untuk menyambut musim panas di Jepang. Alasan kenapa tanabata diangkat sebagai tema adalah karena di Bunkasai kali ini penuh dengan harapan-harapan baik, sesuai dengan makna festival tersebut. Dari segi dekorasi, Bunkasai tahun ini lebih banyak menyiapkan pohon bambu yang nantinya akan digantungkan kertas warna-warni yang disebut tanzaku. Untuk lomba, tahun ini kami memiliki lomba baru yaitu karuta,” jelasnya.

Kemudian, tambahnya lagi, “Untuk pengisi acara sendiri banyak perubahan dari Bunkasai tahun lalu serta juga dimeriahkan oleh mahasiswa Sastra Jepang non panitia serta alumni. Untuk maskot Bunkasai tahun ini Bunkasia 14 memilih Hikoboshi dan Orihime yang merupakan tokoh utama dari legenda tanabata.

Stan bazaar yang disediakan pantia seperti: stan Internal, obake house (rumah hantu), yukata (baju tradisional Jepang), stan masakan Jepang dan stan game pun penuh oleh penyewa serta pengunjung.

“Alhamdulliah, tahun ini semua stan penuh sesuai target dan untuk stan internal pun ramai oleh pengunjung,” ungkap koordinator stan Nabil Adib Rafi. Adapun 

Acara puncak Bunkasai 14 dibuka dengan penampilan tari tradisional Jepang soran boshi yang ditarikan oleh pantia dan dilanjutkan dengan flashmob semua pantia, alumni dan pengunjung. Di akhir flasmob anggota Menwa melakukan terjun tali dari langit-langit Auditorium sambil mengibarkan bendera yg bertuliskan “arigatou”.

Acara ditutup oleh Ketua Jurusan Sastra Jepang, Lady Diana Yusri, S.S., M.Hum. Beliau berterimakasih kepada panitia yang telah berusaha sebaik mungkin untuk Bunkasai ke-14, Kepada peserta lomba dan pengunjung Beliau juga berterimakasih karena telah ikut meramaikan Bunkasai 14 tahun ini.

Setelah penutupan oleh Ketua Jurusan, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba Bunkasai 14 dan sesi foto bersama pemenang, dan diakhiri oleh kata penutup oleh MC.

Kendati Bunkasai terbilang sukses ada hal yang mengganjal di hati mahasiswa Sastra Jepang Unand, yaitu perihal belum masuknya Bunkasai dalam kalender acara tahunan Universitas Andalas. Semoga ini menjadi perhatian pimpinan Universitas Andalas ke depannya.

Reporter: Rafly Adithya, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 49 times