Sastra Inggris FIB Unand Adakan Kuliah Umum dengan Dra. Nur Wulan, M.A., Ph.D. dari Universitas Airlangga

07 Mei 2018

FIB - Jurusan Sastra Inggris FIB Unand mengadakan kuliah umum pada Kamis, (3/5/2018) di Ruang Seminar FIB Unand. Kali ini tema yang diangkat, yaitu “Membangun Karakter Bangsa melalui Sastra Anak Lokal dan Terjemahan” dengan menghadirkan dosen sekaligus peneliti sastra anak, yaitu Dra. Nur Wulan, M.A., Ph.D. dari Universitas Airlangga.

Dra. Nur Wulan, M.A., Ph.D. menamatkan studi doktoral di Universitas Sidney dengan kajian “Sastra Anak dan Maskulinitas pada Sastra Anak Terbitan Balai Pustaka”.

Diadakannya kuliah umum ini berangkat dari persoalan yang salah satunya ialah kemampuan membaca mahasiswa yang rendah. “Banyak dosen yang mengeluhkan mahasiswa ketika diberi buku, namun tidak mampu membaca. Ibarat berlari, tentu orang terlatih dahulu baru berjalan. Kemampuan ini agaknya sama dengan kemampuan membaca. Ada kecurigaan bahwa para mahasiswa sekarang tidak terlatih membaca dari kanak-kanak,” papar Donny Eros, S.S., M.A. selaku ketua panitia dan moderator dalam kuliah umum.

Dra. Nur Wulan, M.A., Ph.D. menuturkan bahwa selama ini kajian tentang sastra anak hanya terpaku pada unsur pedagogis dan didaktis saja, sementara isu-isu lain terpinggirkan.

“Sastra anak di Indonesia dikaitkan dengan unsur pedagogis dan didaktis sehingga isu-isu, seperti konsumerisme, nasionalisme, dan gender menjadi terpinggirkan,” paparnya.

Lalu katanya, “Memang unsur pedagogis penting, untuk itu bacaan terbaik untuk melihat nilai-nilai ideal yang dianut masyarakat ialah sastra anak.”

Menurutnya lagi, sastra anak juga bisa ditinjau dengan banyak teori dan pendekatan. “Sastra anak bisa ditinjau dengan teori postkolonial, gender, serta dengan tinjauan yang lazim digunakan dalam mengkaji sastra dewasa,” tambahnya.

Dipaparkannya pula bahwa isu atau topik yang menarik bagi peneliti sastra pada umumnya, yaitu pendobrakan terhadap tatanan nilai dan karya yang menawarkan nilai baru, tetapi isu ini tidak mungkin terdapat pada sastra anak.

“Isu yang dianggap sexy dalam penelitian sastra selama ini, yaitu pendobrakan tatanan nilai yang dianut masyarakat. Sastra anak sangat tipis kemungkinan adanya pendobrakan nilai karena fungsinya sebagai pedagogis,” terangnya.

Meskipun demikian jelasnya, tidak tertutup kemungkinan untuk meneliti sastra anak yang merefleksikan sosial politik suatu negara. “Sastra anak pada rezim tertentu bisa merefleksikan tentang kondisi sosial politik. Terbuka sekali topik-topik penelitian pada sastra anak,” katanya.

Selain itu, Dra. Nur Wulan, M.A., Ph.D. juga memaparkan bahwa sastra anak harus berisi muatan tentang sikap yang harus dimiliki anak dalam menyikapi bebasnya informasi.

Kemudian, harapannya, “Sastra anak mestinya memberi bekal terhadap anak untuk kecakapan mengidentifikasi informasi. Banyak sastra anak yang belum menyiratkan keresehan karena informasi.”

Tidak hanya itu, anak juga harus memiliki kemampuan menganalisis informasi. “Pada era informasi digital, anak harus memiliki kemampuan untuk mengenali propaganda, distorsi, dan penyalahgunaan informasi,” tambahnya.

Pada akhir kuliah umum, Donny Eros, M.A. menghimbau mahasiswa untuk melakukan penelitian terhadap sastra anak. “Terbuka sekali kemungkinan penelitian yang bisa dilakukan. Persoalan dalam sastra anak dan persoalan anak, saya percaya lebih dekat dengan Anda (mahasiswa) karena faktor jarak umur misalnya,“ tutupnya.

Reporter: Sonia, Editor: Ayendi dan Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Read 87 times