Suciati Agustin, Mahasiswa Sasing FIB Unand, Torehkan Prestasi dalam Lomba Debat Nasional “Pekan Politik Lima” 2018

08 Mei 2018

FIB - Suciati Agustin, mahasiswa Jurusan Sastra Inggris angkatan 2017 FIB Unand, bersama dua orang rekannya dari Jurusan Hubungan Internasional Fisip Unand yang bernama Alvionnez Mutia Puti dan Reki Harianto berhasil meraih Juara II dalam Lomba Debat Nasional pada acara Pekan Politik Lima yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik (HMJ IPOL).

Acara tersebut bertempat di dua lokasi berbeda, yaitu Gedung Fisip Unand untuk babak penyisihan dan Padang TV di Jalan Adinegoro No.17, Lubuk Buaya, Koto Tangah, Kota Padang, untuk babak grand final. Acara itu berlangsung pada tanggal 3--7 April 2018 lalu.

Sistem yang digunakan dalam debat ialah Asian Parliamentary System. Satu tim terdiri atas 3 orang dan dalam sekali sesi debat akan ada dua tim yang bertanding. Ada sebanyak 11 tim yang mengikuti lomba debat itu dari seluruh universitas se-Indonesia. Tema yang diangkat oleh panitia, yaitu “Politik Identitas sebagai Rekonstruktif dan Dekonstruktif dalam Kebhineka Tunggal Ikaan Indonesia”.  Dari tema tersebut, akan muncul beberapa mosi debat yang berhubungan dengan politik identitas.

Suciati Agustin menyampaikan bahwa ada beberapa babak yang mesti ia lalui bersama dengan dua rekannya yang lain untuk keluar sebagai runner up  dalam lomba debat nasional tersebut. “Jadi ada beberapa babak yang mesti saya dan tim saya lalui dalam lomba debat nasional kali ini sehingga dapat keluar sebagai peringkat kedua, yaitu babak penyisihan, babak semifinal, dan babak grand final. Pada penyisihan tahap satu, kami bertanding melawan tim yang berasal dari Universitas Jambi (Unja) perwakilan 2 dengan mosi debat, yaitu 'Pendirian KPK Tingkat Daerah akan Menekan Angka Korupsi di Daerah’. Tim saya merupakan tim yang pro terhadap mosi debat yang dihadirkan. Sementara pada penyisihan tahap dua, kami bertanding melawan tim yang berasal dari Universitas Jambi (Unja) perwakilan 1 dengan mosi debat ‘Pencabutan Hak Ulayat Masyarakat Adat Demi Kepentingan Umum’ dan kami berposisi sebagai tim yang kontra terhadap mosi debat,” jelasnya.

“Tahap selanjutnya merupakan tahap semifinal. Pada semifinal pertama, kami melawan tim dari UNP dengan mosi debat ‘Politik Identitas Tidak Sesuai dengan Sila Persatuan Indonesia’ dan bertindak sebagai tim yang pro terhadap mosi debat yang dihadirkan. Pada semifinal kedua, kami berhadapan dengan tim dari Universitas Sumatera Utara (USU). Mosi debat yang dihadirkan, yaitu ‘Budaya Politik Oposisi Tidak Sesuai dengan Sistem Politik Indonesia’ dan kami sebagai tim yang pro terhadap mosi debat. Terakhir merupakan babak gand Final. Tim yang menjadi lawan kami, yaitu IPB dengan mosi debatnya ‘Perlukah Daerah Menggali Keistimewaannya Berdasarkan Hak Asal-Usul yang Terdapat di Undang-Undang Dasar 1945’. Nah, pada babak grand final ini, kami sudah tampil di Padang TV secara live,” tambahnya.

Lebih lanjut, Suciati Agustin berkata bahwa ada enam orang juri dalam lomba debat nasional kali itu dan mereka merupakan orang-orang yang ahli dalam bidangnya, seperti ahli hukum, ahli linguistik, dan yang paham dengan sistem perdebatan itu sendiri. Suciati Agustin juga berkata bahwa ada tiga poin penting yang menjadi penilaian juri kepada para debaters (pendebat), yaitu matter, manner, dan method yang disampaikan oleh masing-masing debaters (pendebat).

Sebelum mengikuti lomba debat nasional kali itu, Suciati Agustin menyebutkan ada beberapa persiapan yang ia lakukan. “Hal yang pertama kali saya lakukan sebelum mendapatkan mosi debat itu, yaitu  mencari buku-buku dan artikel-artikel di internet yang berhubungan dengan tema yang telah diberikan oleh panitia. Mencari tahu tentang apa sih politik identitas itu dan lebih banyak bertanya kepada teman-teman dari ilmu politik. Kedua, setelah saya mendapatkan mosi debat, saya mulai berdiskusi dengan teman-teman yang lain mengenai mosi debat tersebut. Kemudian, berlatih di depan kaca bagaimana public speaking yang bagus agar ketika tampil di arena perdebatan, tidak terlalu gugup,” ucapnya.

Di sisi lain, Suciati Agustin menyampaikan bahwa lomba debat itu merupakan pengalaman pertama mengikuti lomba dan dengan mengikuti lomba debat itu ada banyak pengalaman berharga yang ia dapatkan, seperti keberanian dan memberikan pengajaran bahwa ketika kita menginginkan sesuatu kita harus berjuang keras untuk mendapatkannya.

Mengakhiri penjelasannya tentang pengalaman mengikuti kegiatan tersebut, Suciati Agustin secara bersemangat menyimpulkan bahwa peserta lomba debat nasional kali ini begitu antusias.

“Pesertanya sangat antusias sekali karena mulai dari technical meeting di penginapan Kemensos, sudah nampak antusias mereka. Ketika technical meeting itu, mereka semua aktif berpartisipasi kayak ngasih ide, ngasih pendapat mengenai sistem debat, jadi nampak sekali antusias. Antusias tersebut tidak hanya ketika technical meeting, tetapi juga ketika acara diadakan,” simpulnya.

Reporter: Mita Handayani, Editor: Ayendi dan Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Read 102 times