Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand Adakan Kuliah Umum Bersama Yusi Avianto Pareanom

11 Mei 2018

FIB- “Sastra dan Lembaga Sastra di Indonesia” menjadi tema Yusi Avianto Pareanom pada Kuliah Umum yang diadakan Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand di Ruang Seminar FIB Unand pada tanggal 26 April 2018.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Sudarmoko, M.A. ini berlangsung dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB dan dihadiri oleh mahasiswa dan dosen di lingkungan FIB Unand, khususnya Jurusan Sastra Indonesia.

Wakil Dekan I FIB Unand, Dr. Ferdinal, M.A., membuka acara dan menyampaikan harapannya ke depan untuk acara tersebut. “Semoga dengan diadakannya kegiatan ini, bisa memotivasi kita untuk menciptakan ilmuwan-ilmuwan sastra yang berbudaya dan bisa mengkritisi perkembangan sastra di Indonesia dan membantu publikasi ilmiah,” ungkapnya.

Yusi Avianto Pareanom, di samping sebagai seorang sastrawan, ia juga merupakan pemilik dan editor kepala Penerbit Banana, serta penerjemah dan penulis. Karya-karya terkenal yang ditulisnya antara lain Rumah Kopi Singa Tertawa (2011) dan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi (Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa, 2016).

Yusi Avianto Pareanom yang saat ini merupakan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, juga pernah menjabat sebagai Redaktur Koran Tempo, dan peserta International Writing Program, Lowa, 2016.

Dalam kuliah umumnya, Yusi Avianto Pareanom membahas fungsi atau peran lembaga sastra terhadap perkembangan sastra. “Pada era sekarang ini, lembaga-lembaga yang berdiri belum terlalu mengutamakan perkembangan sastra. Kebanyakan lembaga-lembaga ini lebih ke materialistik. Sebetulnya banyak sekali faktor pendukung dalam perkembangan sastra di Indonesia, misalkan media online yang semakin marak digunakan oleh masyarakat. Hal itu merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan sastra kepada masyarakat. Dengan adanya toko buku online, masyakarat merasa diayomi oleh lembaga-lembaga sastra," katanya. 

Kemudian, ia menjelaskan, “Dalam ruang lingkup kampus, juga bisa digunakan cara dengan memberikan penghargaan-penghargaan yang layak untuk setiap karya yang dihasilkan oleh mahasiswa kampus atau universitasnya sendiri. Hal ini akan memberikan rasa bangga dan rasa ingin menciptakan suatu karya baru."

Pada era sekarang ini, ungkapnya, masyakarat lebih banyak membahas kajian budaya dibandingkan kritik teks sehingga kritik teks semakin lama semakin hilang. Hal itu menurutnya yang menyebabkan kurangnya kajian sastra di era sekarang ini.

Selanjutnya, ia juga menambahkan bahwa ada program yang dibuat oleh Komitbuknas (Komite Buku Nasional), namun masih belum termediasi oleh lembaga-lembaga yang terkait karena persoalan dana yang terbatas.

Yusi Avianto Pareanom memiliki harapan ke depan semoga lembaga-lembaga sastra di Indonesia ini dapat direalisasikan dan dapat berkembang dan mengayomi masyakarat agar sastra ini tidak turun kepopularitasannya.

Terakhir, acara ditutup dengan memberikan penghargaan dan kenang-kenangan kepada Yusi Avianto Pareanom oleh Ketua Jurusan Sastra Indonesia, Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. dan berfoto bersama.

Reporter: Widya Glawri Masperi, Editor: Ayendi dan Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Read 78 times