Donny Eros, S.S., MA., Dosen Sasing FIB Unand, Jadi Pembicara Workshop Sumbar Film Festival 2018

16 Mei 2018

FIB - Salah seorang dosen Jurusan Sastra Inggris FIB Unand, Donny Eros, S.S., M.A., menjadi pembicara dalam Workshop Sumbar Film Festival 2018 bertempat di Dinas Pariwisata Pemuda dan Olaraga Kota Payakumbuh pada Sabtu (28/4/2018).

Sumbar Film Festival 2018 ini merupakan ajang film festival ke-3 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olaraga Kota Payakumbuh. Selain Donny Erros S.S., M.A., mahasiswa FIB Unand juga terlibat, seperti Elsa Ramadhani, Findo, dan beberapa mahasiswa lain yang berasal dari UKM Relair FIB Unand.

Donny Eros, S.S., M.A. menyatakan bahwa itu merupakan kali pertama baginya terlibat dalam kegiatan Sumbar Film Festival. Kendatipun demikian, sebelumnya ia juga sudah mengetahui dan memantau tentang Sumbar Film Festival yang diadakan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau untuk keterlibatan dengan Kegiatan Sumbar Film Festival, ini baru pertama kali bagi saya. Akan tetapi, saya sudah tahu bagaimana Sumbar Film Festival ini pada tahun-tahun sebelumnya. Sumbar Film Festival 2018 ini merupakan Sumbar Film Festival yang ke-3 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olaraga Kota Payakumbuh. Sebelum terlibat dalam Sumbar Film Festival ini, tahun 2014 saya juga sudah membuat Padang Internasional Film Festival bersama beberapa orang kawan. Nah, salah seorang kawan saya di Padang Internasional Film Festival itu juga terlibat dalam Sumbar Film Festival yang pertama dan kedua. Ya, sedikit banyaknya tentang kegiatan dalam Sumbar Film Festival itu saya juga tahu dari dia,“ ungkapnya saat ditemui di sela-sela kesibukannya.

Di sisi lain, Donny Erros S.S., M.A. berkata bahwa alasannya terlibat dalam Sumbar Film Festival 2018 itu karena sesuai dengan bidang keahliannya, yaitu sastra dan film. Di samping itu, ia juga terlibat dalam pusat pengembangan pariwisata bersama pemerintah.

“Secara pribadi saya kan bidangnya di perfilman, tepatnya sastra dan film. Kemudian, saya juga terlibat dalam pusat pengembangan pariwisata bersama pemerintah. Kalau kita membicarakan pariwisata, kita tentu butuh ajang promosi. Salah satu caranya ialah melalui film. Dunia perfilman itu sendiri juga membutuhkan banyak pihak yang terlibat, salah satunya pemerintah sebagai pembuat kebijakan publik. Artinya, harus ada kolaborasi yang baik antara pemerintah  dengan pihak-pihak yang terlibat dalam perfilman tersebut,” jelasnya.

Menurut Donny Eros S.S., M.A., ada yang berbeda antara Sumbar Film Festival yang dilaksanakan pada tahun ini dengan tahun sebelumnya. Hal itu terlihat dari adanya kegiatan-kegiatan yang tidak dilakukan pada tahun sebelumnya, namun dilakukan pada tahun 2018 ini.

“Ada beberapa perbedaan antara Sumbar Film Festival tahun ini dengan tahun lalu. Pada tahun lalu, tidak ada workshop, tidak ada fasilitas, dan juga tidak ada roadshow. Nah, untuk tahun sekarang, ketiga hal tersebut kita lakukan. Roadshow untuk tahun ini dilakukan di tiga kota, yaitu Painan, Payakumbuh, dan Padang. Dua tahun yang lalu, hal itu bermasalah pada jumlah peserta. Untuk itu, tahun sekarang kita adakan roadshow dengan tujuannya untuk ajang promosi. Di sisi lain, agar film-film yang masuk itu berkualitas, kita adakanlah workshop. Jadi, dengan adanya workshop ini, film maker pemula bisa membuat film yang bagus dan bisa dikirim ke Sumbar Film Festival 2018 ini,” katanya.

Kemudian, ia menambahkan, “Pada tahun sebelumnya, yang membuat film itu ialah Dinas Pariwisata Pemuda dan Olaraga. Saya coba beri saran untuk tahun sekarang bahwa jangan pihak dinas yang membuat film. Pihak Dinas hanya sebagai fasilitator. Jadi, semua proposal film yang masuk itu dikurator. Nanti yang memang pantas untuk difasilitasi akan dibiayai, tapi gak boleh ikut lomba. Mereka akan jadi film yang representatif, artinya karya anak lokal bekerja sama dengan dinas pariwisata dan sebagai hadiahnya, nanti mereka akan dibawa keliling Indonesia dan keliling dunia. Kemudian, untuk kompetisi sendiri, pada tahun sekarang ada tiga kategori lomba, yaitu film terbaik, ide cerita terbaik, dan film pilihan juri. Kemudian, untuk kategori film sendiri pada tahun sekarang hanya ada satu kategori, yaitu fiksi, sementara pada tahun sebelumnya ada animasi dan dokumenter.”

Donny Eros S.S., M.A. juga menjelaskan alasan pada tahun sekarang hanya ada satu kategori film fiksi yang dilombakan. Alasannya, agar adanya kefokusan dalam pembuatan film. Menurutnya, film animasi bisa dibuat oleh pusbang film yang ada di Dikbud. Sementara untuk film dokumenter, bisa dilakukan oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3K). Selain itu, dalam film dokumenter, harus ada unsur research yang lebih panjang dan lebih serius daripada film fiksi karena momen membuatnya tidak bisa ditentukan. Dengan demikian, Sumbar Film Festival tahun ini memilih film dengan kategori fiksi pendek dengan durasi 30 menit.

Donny Eros S.S., M.A. sangat antusias saat ditanyai seberapa besar fungsi dan pengaruh film terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, ada tiga fungsi dari film terhadap kehidupan masyarakat, yaitu edukasi, komersial, dan pariwisata.

“Secara garis besarnya, ada tiga fungsi dari film itu sendiri. Pertama, fungsi edukasi. Belajar itu kan tidak hanya di dalam kelas, melalui film pun kita bisa belajar. Ada banyak film-film yang sangat mengedukasi, seperti film-film Islami yang mengedukasi tentang agama, film laskar pelangi, sang pemimpi, dan masih banyak lagi. Kedua, fungsi komersial bahwa ada hubungannya antara film dengan pendapatan (income) suatu daerah. Sekarang ini, sebenarnya banyak orang Sumatera Barat yang terlibat di dunia perfilman. Tapi, hampir semua dari mereka berada di Jakarta sehingga pendapatan tersebut termasuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jakarta, bukan Sumatera Barat. Padahal, mereka orang Sumatera Barat. Ketiga, fungsi pariwisata. Salah satu contohnya, film pariwisata Sumatera Barat. Sumatera Barat akan terpromosikan dengan baik kalau film-film Sumatera Barat shootingnya berlokasi di Sumatera Barat,  budayanya merupakan budaya Sumatera Barat, makanan yang ada dalam film tersebut ialah makanan khas Sumatera Barat, serta pemainnya juga orang Sumatera Barat, serta menggunakan bahasa Minangkabau sebagai bahasa masyarakat Sumatera Barat. Jika film itu diputar di tingkat nasional dan tingkat internasional, nantinya akan luar biasa promosi kita. Orang akan termotivasi pergi ke Sumatera Barat setelah melihat film tersebut,” pungkasnya.

Donny Eros S.S., M.A. berharap dengan diadakannya prakegiatan, seperti workshop, roadshow, dan fasilitator pada Sumbar Film Festival tahun 2018 ini, jumlah peserta lomba dapat meningkat, serta muncul antusias pembuat film yang lebih baik, muncul ekosistem perfilman yang bagus, dan kualitas film yang dibuat jadi meningkat sehingga film-film yang dibuat di Sumatera Barat bisa ditonton dan dinikmati tidak hanya oleh orang Indonesia saja, tapi juga masyarakat dunia.

Reporter: Mita Handayani, Editor: Ayendi dan Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Read 103 times