Tim Mahasiswa FIB Unand Raih Juara III Lomba Debat Berbahasa Indonesia Se-Sumatera Barat

01 Juni 2018

FIB - Tim yang terdiri dari tiga orang mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau keluar sebagai juara ke-3 dalam acara “Lomba Debat Berbahasa Indonesia bagi Mahasiswa Se-Sumatera Barat” dalam rangka Pekan Bahasa dan Sastra tahun 2018 yang diadakan oleh Balai Bahasa bertempat di Aula Pertemuan Museum Adytiawarman, Jalan Diponegoro No.10 Padang pada (10/5/2018).

Ketiga orang mahasiswa tersebut ialah Sri Ardila, Dea Febri Yolanda, dan Sufi Anugrah. Lomba ini diadakan dengan tujuan meningkatkan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia dan memotivasi mahasiswa untuk berpikir kritis dalam menyampaikan gagasan dan ide dengan bahasa yang baik.

Lomba ini diikuti oleh 18 tim dari seluruh perguruan tinggi se-Sumatera Barat. Lomba debat ini dinilai oleh tiga orang juri, dimana salah seorang juri merupakan dosen FIB Unand yang bernama Hanafi, M.App.Ling., Ph.D.

Dalam lomba debat ini ada tiga kriteria penilaian yaitu penggunaan Bahasa Indonesia yang baik, benar, dan tepat (40%), penguasaan materi yang meliputi kesesuaian topik, pengembangan topik, dan argumen yang meyakinkan (30%), dan penyajian yang meliputi kepercayaan diri, ekspresi, dan gesture dalam berlomba (30%).

Lomba ini terdiri dari 4 babak yaitu babak penyisihan, babak semi-final, babak final, dan babak tambahan.

Pada babak penyisihan menampilkan 8 kelompok lomba. Satu kelompok lomba diikuti dua tim yang bertanding, yaitu tim pro (positif) dan tim kontra (negatif). Penentuan peserta yang melaju ke babak semi-final didasarkan pada akumulasi nilai yang diperoleh dimulai dari urutan tertinggi (urutan peringkat). Enam tim dengan nilai tertinggi akan maju ke babak semi-final.

Babak semi-final diikuti oleh 6 tim yag memiliki nilai tertinggi dari babak penyisihan. Babak semi-final ini juga menggunakan sistem nilai tertinggi. Penentuan peserta yang melaju ke babak final juga didasarkan pada akumulasi nilai yang diperoleh dimulai dari urutan tertinggi (urutan peringkat). Dua tim yang memperoleh nilai tertinggi akan maju ke babak final.

Babak final diikuti oleh 2 tim peserta yang terpilih dari babak semi-final dengan akumulasi nilai tertinggi satu dan dua untuk mencari pemenang pertama dan kedua.

Babak tambahan diikuti oleh dua tim peserta yang terpilih dari babak semi-final dengan akumulasi nilai tertinggi tiga dan empat untuk mencari pemenang ketiga dan harapan pertama. Pemenang harapan kedua diambil dari babak semi-final dengan akumulasi nilai tertinggi lima.

Sufi Anugrah, peserta yang mengikuti lomba debat tersebut, berkata bahwa setiap babak dari perlombaan memiliki mosi yang berbeda. Disamping itu, ia dan timnya juga mendapat posisi yang bervariatif.

“Mosi debat pada masing-masing babak itu berbeda-beda. Mosi pada babak penyisihan adalah ‘Benarkah Kekerasan terhadap Wanita Disebabkan oleh Masyarakat Indonesia Yang Menganut Budaya Patriarki yang ental’. Pada babak penyisihan ini saya dan tim berada pada posisi tim yang pro terhadap mosi debat. Kemudian, pada babak semifinal, mosi yang diberikan adalah ‘Perlukah Bahasa Daerah Dijadikan Mata Pelajaran Wajib di Sekolah’, tim saya berada pada tim kontra. Setelah itu, pada babak final mosinya adalah perlukan tenaga kerja asing mengikuti tes UKBI (Ujian Kemampuan Berbahasa Indonesia). Pada babak ini tim saya sebagai tim kontra dengan mosi debat. Pada babak tambahan mosinya adalah benarkah minat baca yang rendah disebabkan oleh mahalnya harga buku. Untuk babak ini tim saya berada pada tim kontra,” ujarnya saat ditemui.

Sufi Anugrah berkata bahwa itu merupakan kali pertama ia mengikuti lomba debat. Melalui lomba debat ini ada satu pengalaman berharga yang ia dapatkan..

“Menurut saya ada satu pengalaman berharga yang saya dapat dari lomba ini yaitu mengenai team work. Apapun kegiatan yang diadakan dalam bentuk kelompok, kuncinya adalah jangan ada yang mendominasi dan harus adanya keseimbangan kekuatan anggota masing-masing kelompok. Kalau ada salah seorang dari kelomook yang mendominasi, maka dapat dikatakan team work nya telah gagal,” tuturnya.

Sufi Anugrah sedikit tersipu malu saat ditanyai bagaimana persiapan yang ia lakukan sebelum mengikuti perlombaan.

“Saya diberitahu untuk ikut lomba debat ini pada malam sebelum lomba dilaksanakan. Saya diminta untuk menggantikan teman saya karena dia tidak bisa mengikuti perlombaan tersebut disebabkan ia tengah mendapat kemalangan. Kendatipun saya diberitahu malam sebelum lomba dilaksanakan, saya juga berusaha semampu saya. Misalnya, saya membuat group WA dengan dua orang teman yang lain untuk berdiskusi dan kami saling mengirim materi untuk perlombaan tersebut. Kemudian, kami juga berdiskusi dengan dosen pembimbing tentang bagaimana etika dalam perlombaan debat. Setelah itu, saya juga membaca beberapa buku dan artikel yang ada di internet yang berkaitan dengan mosi debat yang akan muncul,” ungkapnya.

Sufi Anugrah berharap agar tahun depan lebih banyak lagi mahasiswa FIB Unand yang turut andil dalam lomba debat ini karena bagi Sufi Anugrah lomba seperti ini merupakan ajang bagi mahasiswa FIB Unand untuk mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya.

“Saya berharap agar untuk tahun depan lebih banyak lagi mahasiswa FIB Unand yang mau ikut dalam lomba debat seperti ini karena lomba-lomba seperti ini sesungguhnya adalah panggung bagi kita untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah kita dapat di bangku perkuliaahan. Apalagi seperti yang kita tahu, FIB Unand memang notabenenya mempelajari tentang budaya dan sastra,” jelasnya.

Senada dengan Sufi Anugrah, Sri Ardila melakukan beberapa persiapan sebelum mengikuti perlombaan.

“Ada beberapa persiapan yang saya lakukan sebelum mengikuti lomba. Pertama saya membaca daftar mosi yang ada di lampiran lomba debat. Kemudian, saya coba membaca buku dan beberapa artikel di internet yang berhubungan dengan mosi. Sebelum lomba, malamnya saya berlatih berbahasa Indonesia yang baku dan fasih dan saya mencoba menghindari penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baku seperti kayak, loh, gini, gitu, dan sebagainya. Saya juga mempersiapakan keberanian supaya tidak grogi ketika lomba,” ungkapnya

Reporter: Mita Handayani, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 81 times