Senin, 04 Juni 2018 00:05

Dr. Mhd. Nur, M.S., Dosen FIB Unand, Sampaikan Perasaan Dibalik Kelulusan Proposal Hibah PGDnya

FIB - Ditemui di ruang kerjanya pada Jum’at, (25/5/2018), Dr. Mhd. Nur, M.S, salah seorang dosen FIB Unand yang lulus seleksi program hibah Percepatan Guru Besar (PGD), berbagi cerita tentang kelulusan proposal yang diajukannya di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unand tahun 2018 ini.

Tujuh dosen lain dari FIB Unand yang lulus hibah PGD adalah: Dr. Hasanuddin, M.Si., Dr. Sawirman, M.Hum., Dr. Silvia Rosa, M.Hum., Dr. Lindawati, M.Hum., Dr. Yenny Narni, M.A.,  Dr. Wannofri Samri, M.Hum., dan Dr. Gusdi Sastra, M.Hum.

Dr. Mhd. Nur, M.S., langsung berbagi cerita. “Jadi itu adalah program dari Unand terkait guru besar. Sebenarnya ada dua program, satu program untuk guru besar itu sendiri. Jadi bagaimana mereka melakukan penelitian yang ujung-ujungnya adalah sasarannya menghasilkan luaran. Maksudnya menghasilkan ada artikel, naskah, dari hasil penelitian, dan itu tentu saja akan diseminarkan ditingkat internasional ataupun nasional. Kalau guru besar tentu jurnalnya yang terindeks Scopus,” jelasnya untuk mulai bercerita.

“Jadi ini diedarkan oleh Unand, dalam hal ini adalah LPPM. Akhirnya saya coba. Ada dulu proposal yang tidak lulus, dan saya masukkan lagi. Ternyata lulus seleksi. Nah, proposal saya itu paling akhir. Jadi diceritakanlah proses seleksinya begini-begini oleh Pak Rektor. Yang rasanya kita yang membuat proposal itu tidak membayangkan tentang proses seleksinya. Jadi akhirnya ditetapkanlah proposal yang lulus itu. Proposal saya berada di nomor 111 dan itu proposal yang terakhir, dan tim asesornya ternyata memang dari Dikti,” lanjutnya lagi.

Dr. Mhd. Nur, M.S. merasa tersentuh ketika mendengar Bapak Rektor menceritakan proses penyeleksian proposal. Dari hasil itu akhirnya ia lolos dan mendapat nomor terakhir ganjil yaitu nomor 111. Ia bertanya dalam hati kenapa tidak genap saja menjadi nomor 110 karena nomornya 111. Ia merasa itu adalah rezekinya. Ia juga sempat antara percaya dan tidak percaya, apakah ini benar.

“Iya, melihat hasil itu, tentu saja saya bersyukur ternyata proposal saya juga lolos seleksi. Sekarang tinggal bagaimana menjalankannya, bagaimana melakukannya, dan tantangan ke depan itu adalah hasil penelitian itu, minimal tahap awal diseminarkan dulu, dan InsyaAllah akan diseminarkan di Kuala Lumpur. Jadi menjelang tanggal 2 Juni ini minimal abstraknya harus sudah masuk di Kuala Lumpur, dan seminarnya sendiri itu bulan Agustus nanti,” katanya.

Dr. Mhd. Nur, M.S., lalu menceritakan sedikit tentang tema penelitiannya yang lulus seleski tersebut. “Jadi propasal saya yang lulus pada program percepatan guru besar ini adalah tentang ‘Penolakan Masyarakat Mentawai Terhadap Bantuan Bencana’. Jadi mereka dibantu dalam membangun rumah, tetapi rumah ini harus dibangun secara bersama dalam satu kompleks yang diistilahkan dengan relokasi. Jadi relokasi rumah masyarakat korban bencana gempa bumi dan tsunami tapi sepertinya kurang berkenan bagi masyarakat karena letaknya yang jauh ke pedalaman, sementara mereka tinggal dipinggir pantai,” jelasnya

“Iya, salah satu bentuk dari mitigasi bencanakan menjauhkan mereka dari pantai supaya selamat. Tapi reaksi masyarakat seperti itu menolak. Mereka menolak karena tidak mau menempatinya. Tidak itu saja, bahkan ada proyek perumahan ini tidak selesai oleh pemerintah. Ya mungkin karena tidak adanya respon positif dari masyarakat itu tadi, akhirnyakan untuk apa dilanjutkan pembangunannya. Jadi itu akan dilihat di pulau Sipora dan pulau Pagai, dua pulau itu dan kalau memungkinkan juga nantinya di Pagai bagian selatan,” tambahnya mengakhiri pembicaraan tentang rencana penelitiannya.

 

Reporter: Jusman, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 109 times