Selasa, 12 Juni 2018 00:01

Donny Syofyan, S.S., M.HRM., M.A., Dosen Sastra Inggris FIB Unand, Berbagi Tips Sukses Menulis di The Jakarta Post

FIB – Melalui komunikasi online, salah seorang reporter Humas FIB pada tanggal 5 Juni 2018 berkesempatan untuk mewawancarai Donny Syofyan, S.S., M.HRM., M.A., dosen Sastra Inggris yang saat ini sedang mengambil S3 di Australia, atas kontribusi tulisannya dalam surat kabar The Jakarta Post yang dimulai sejak tahun 2010 sampai saat ini. Ragam tulisan yang ditulisnya berupa opini, esai, resensi buku, wawancara tokoh, dan kisah perjalan (travel story).

Memulai wawancara, Donny Syofyan terlebih dahulu menjelaskan latar belakangnya mengirimkan tulisan ke surat kabar The Jakarta Post yaitu kerena ia mengganggap dirinya cocok dengan surat kabar tersebut.

Pertama, latar belakang saya dari Sastra Inggris tentu medianya tepat. Kedua saya ingin berkomunikasi dengan warga dunia, bukan cuma masyarakat di tanah air. Ketiga ada yang mengerti isu aktual tetapi tidak bisa berbahasa Inggris. Ada yang bisa berbahasa Inggris tetapi tidak bisa menulis. Saya pikir saya punya keduanya, “ jelasnya.

Lalu Donny Syofyan, menyebutkan rata–rata ia dapat menulis tiga sampai dengan empat tulisan per bulannya. Namun, karena kesibukannya saat ini dalam merampungkan disertasi S3, ia hanya dapat menyelesaikan 1 tulisan dalam satu bulan saja. Tulisan terakhirnya pada bulan ini adalah tulisan  yang ke-164 dari total keseluruhan tulisan yang sudah dikirim ke The Jakarta Post. Tidak hanya di The Jakarta Post tulisannya juga telah tersebar di banyak media, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Kemudian Donny Syofyan, mengungkapkan biasanya ia lebih sering menulis di halaman oponi. Untuk menulis sebuah opini menurutnya tulisan harus aktual karena merespon isu – isu terkini. Disamping itu juga, tulisan opini menggunakan bahasa ilmiah populer yang dapat dimengerti oleh pembaca, dan jangan sampai menggunakan bahasa yang terlalu ilmiah yang membuat para pembaca tidak mengerti sama sekali dengan maksud dari tulisan yang dibuat.

Lebih lanjut, dalam menulis ia juga menambahkan perspektif tertentu dalam memahami sebuah masalah, jadi bukan sekedar kumpulan teori yang disajikan dalam tulisan opini. Hal seperti itu digunakan tidak hanya dalam menulis tulisan opini, tetapi dalam menulis esay dan yang lain juga harus memperhatikan penggunaan bahasa yang tepat.

Pendekatan perspektif yang digunakan oleh Donny Syofyan dalam berbagai macam jenis tulisannya adalah budaya. Dengan tulisannya itulah ia menjadi seorang kolumnis atau esais di Jakarta post.

Walaupun demikian, tidak semua tulisan yang dikirim olehnya langsung diterbitkan. Ada juga tulisan yang tidak terbit saat ia mengirim tulisanya ke Jakarta post. Akan tetapi beliau tidak putus asa dengan hal tersebut. Menurutnya ini ada masalah yang sering dialami oleh setiap penulis.

 “Saya menyemangati diri saya dengan selalu berfikir positif. Pertama, ini hanya soal waktu. Tulisan yang tidak dimuat diendapkan dulu. Suatu saat ketika ada konteks yang terkait maka tulisan ini bisa dimodifikasi. Bahkan tak jarang tulisan saya yang dulu ditolak kemudian bisa dimuat. Kedua, jangan pikirkan tulisan yang sudah dikirim. Segera menoleh ke isu baru sehingga kita tak lelah berfikir. Ketiga, apabila saya sedang suntuk maka biasanya saya rehat sebentar misalnya tiga hari atau bisa dengan membaca lalu mulai menulis lagi. Tetapi yang harus dingat jedanya jangan kelamaan,” ujarnya

Hal yang menarik yang didapat saat menulis bagi Donny Syofyan adalah mencegah matinya pikiran. Semakin banyak kita menulis, pikiran seolah mendapat suntikan gizi yang luar biasa.

 “Pesan saya untuk penulis lainnya yaitu menulis hingga dipublikasikan ibarat memukul batu hingga pecah. Pecahnya batu bukan lantaran pukulan terakhir tetapi himpunan dari pukulan pertama hingga terakhir. Jadi ia adalah proses bukan hasil instan,” pungkasnya

Reporter : Muthia Delima Putri, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

           

Read 97 times