Senin, 18 Juni 2018 00:05

Muhammad Nurfajri, Alumni Sastra Jepang FIB Unand, Bagi Dua Kali Pengalamannya ke Jepang dalam Rangka Student Exchange

FIB – Muhammad Nurfajri, mahasiswa Sastra Jepang angkatan 2012 yang telah menyelesaikan kuliahnya dan wisuda pada tahun 2017 lalu, berbagi pengalaman kepada Tim Reporter Humas FIB pada tanggal 5 Juni 2018 melalui wawancara menggunakan media sosial atas kesempatan telah mengikuti program JENESYS 2.0 (Japan – East Asia Network of Exchange for Student and Youths) pada tahun 2015 dan Program Student Mobility pada tahun 2016 di Gifu University.

Student Exchange merupakan jenis program, sedangkan nama khususnya kalau di Unand disebut dengan Student Mobility. Jadi Student Mobility itu jenis dari Student Exchange, dan Student Exchange ini adalah salah satu program Unand,” ujar Fajri, nama panggilannya, sebagai pengantar pembicaraan.

Alasan Fajri mengikuti kedua program ini karena ia ingin merasakan budaya Jepang, disipilinnya orang Jepang, dan ingin merasakan kemajuan teknologi di Jepang.

Program pertama, JENESYS 2.0, yang diikutinya merupakan salah satu proyek oleh pemerintah Jepang untuk memberikan solidaritas yang kuat di Asia melalui pertukaran pelajar muda berskala besar. Hal itu bertujuan untuk mempromosikan negara Jepang dan meningkatkan hubungan kerjasama dan persahabatan.

Negara anggota yang mengikuti program itu adalah negara anggota ASEAN. Program itu diikuti oleh 5 orang Mahasiswa Sastra Jepang Unand.  Fajri dan empat orang rekannya menetap selama 10 hari di Jepang tepatnya di Tokyo – Hamamatsu.

Ia bersama dengan empat orang lainnya mendapatkan informasi ini dari jurusan. Syarat yang harus dipenuhi untuk kegiatan ini seperti harus ada sertifikat kemampuan bahasa Jepang. Kemudian, selanjutnya mengikuti interview dengan sensai di Jurusan Sastra Jepang.

Kegiatan ini bertema “Japanese Language“. Kegiatan mereka disana selama 10 hari diisi dengan belajar kebudayaan Jepang, mengunjungi kampus Shizuoka Kenritsu Daigaku. Fajri mengatakan, “Selama 10 hari kami mengenal budaya Jepang, mengunjungi kampus dan homestay di rumah orang Jepang selama 3 hari tepatnya di daerah Hamamatsu city. Ada satu hari khusus yang disediakan untuk kami belajar bahasa Jepang. Ketika home stay di rumah orang jepang tersebut, mereka menyambut ramah. Tidak ketinggalan kami memberikan cendramata yang berhubungan dengan budaya Minang pada orang Jepang tersebut.”

Kendala yang dirasakannya saat awal datang ke Jepang untuk mengikuti kegiatan JENESYS tersebut pastinya menggalami culture shock, dan kebetulan saat itu di Jepang sedang musim dingin, jadi bagi yang biasanya berada pada musim tropis harus bisa menyesuaikan suhu. Bagi yang tidak terbiasa dengan suhu dingin, maka akan berakibat mimisan. “Tetapi Alhamdulillah saya dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tidak mimisan akibat suhu dingin,” ujar Fajri.

Dalam program JENESYS, kegiatan penuh dilakukan dari pagi sampai malam, jadi untuk beribadah sholat 5 waktu dijamak. Kendala lain yang dirasakan adalah saat memilih makanan. Makanan benar–benar harus dipilih karena tidak semua makanan bisa dimakan. Biasanya makanan banyak mengandung sake dan minyak babi.

Kegiatan kedua yang ingin disampaikan oleh Fajri yaitu program student mobility di Gifu University. Kegitan itu adalah setahun setelah kegiatan JENESYS pada tahun 2016. Kegiatan itu berlangsung selama 1 bulan. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengikuti kegitan itu adalah hasil TOEFL yang mencukupi. Kemudian, adanya LoA dari Jepang, rencana penelitian, dan lain–lain.

“Informasi untuk mengikuti kegiatan ini saya dapatkan dari International Office Unand. dan yang berhasil lolos mengikuti kegiatan ini waktu Itu itu hanya tiga orang dari FIB yaitu Jurusan Sastra Jepang, Sastra Indonesia, dan Sastra Inggris,” kata Fajri.

Selama satu bulan kegiatan di sana diisi dengan mempelajari Machizukuri dan budaya lokal di Gifu City. Kemudian, juga belajar di kelas bersama mahasiswa Jepang lainnya. Machizukuri adalah ilmu yang mempelajari tata kota, bagaimana cara memanfaatkan tempat yang tidak terpakai dijadikan tempat yang layak untuk dipakai. Selain itu juga belajar budaya di kota Gifu.

Saat belajar di Gifu University, Fajri didampingi oleh dosen yang ada di universitas tersebut dalam mempelajari Michizukuri (Tata Kelola Kota), dan sekaligus membantu mempelajari budaya disana, serta ia juga ikut belajar dengan mahasiswa Jepang yang lainnya.

 Reporter: Muthia Delima Putri, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 85 times