Lathifah Nur’aini, Alumni Sasindo FIB Unand, Jadi Volunter di Asian Games 2018

30 Juni 2018

FIB—Lathifah Nur’aini, alumni Sastra Indonesia FIB Unand angkatan 2013, terpilih sebagai volunter di Asian Games 2018 yang akan diadakan di Indonesia (Jakarta dan Palembang) pada 18 Agustus 2018 nanti.

Dikutip dari laman resmi Asian Games 2018, Asian Games merupakan pesta olahraga terbesar setelah olimpiade. Asian Games telah digelar sejak tahun 1951 di New Delhi, India. Kemudian, pada tahun 1962, Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pelaksanaan acara bergengsi ini, dan tahun ini untuk kedua kalinya Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah.

Demi suksesnya Asian Games 2018, panitia pelaksana membutuhkan banyak volunter. Salah seorang volunter Asian Games 2018 ialah Lathifah Nur’aini. Perempuan yang berasal dari Alahan Panjang ini merupakan alumni Sastra Indonesia FIB Unand angkatan 2013.

Kepada salah seorang reporter humas FIB Unand, Lathifah Nur’aini yang biasa dipanggil Lathifah ini berbagi cerita bagaimana ia berhasil menjadi volunter di Asian Games 2018.

“Awalnya sempat khawatir tidak bisa menjadi volunter karena pendaftaran untuk menjadi volunter ditutup pertengahan Maret 2018, sementara Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) belum ada. Padahal, itu merupakan syarat utama atau wajib untuk menjadi volunter,” ungkap Lathifah ketika diwawancarai via media sosial WhatsApp pada 14 Juni 2018.

“Pada akhir Maret, mengurus SKCK. Setelah mendapatkan SKCK pada akhir Maret itu, iseng-iseng membuka portal volunter, ternyata bisa. Akhirnya, jadi mendaftar sebagai volunter,” lanjut Lathifah.

Terpilih sebagai volunter di Asian Games 2018 bukanlah perkara mudah. Lathifah Nur’aini harus bersaing dengan ratusan ribu orang. Selain itu, berbagai tahapan dan tes harus dilalui Lathifah.

Lathifah juga dihadapkan pada dilema. Tepat sehari setelah mendapat email dari Indonesia Asian Games Organizing Comitee (INASGOC) untuk lanjut ke tahap selanjutnya, yakni tanggal 29 April 2018, Lathifah mendapat kabar bahwa ia diterima sebagai pembina asrama putri di MTsN Gantiang, Padang Panjang. Lathifah menjadi bimbang, apakah harus memilih yang sudah pasti atau sesuatu yang masih belum pasti.

Sempat bimbang beberapa waktu, Lathifah akhirnya memilih melanjutkan mengikuti seleksi menjadi volunter. Keputusan ini juga berkat dukungan dari ibunya Lathifah yang mendorong anaknya untuk tetap melanjutkan seleksi menjadi volunter meskipun harus dengan melepas sesuatu yang telah pasti.

“Orang yang cocok jadi pembina asrama itu cewek yang lembut, salihah, keibuan, dan sayang anak-anak. Ambil saja Asian Games biar bisa tukar-tukar pikiran. Kan kamu ingin ke Belanda,” ungkap Lathifah menyampaikan apa yang disampaikan ibunya ketika ia bimbang menentukan pilihan.

Dengan dukungan dari ibunya, Lathifah melanjutkan langkah untuk mengikuti seleksi menjadi volunter Asian Games 2018. Tanggal 3 Mei, ia berangkat ke Jakarta untuk mengikuti psikotes dan Forum Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan tanggal 4 Mei di Kemang, Jakarta.

Pada tahap psikotes, Lathifah berhasil melewatinya dengan baik. Akan tetapi, pada tahap FGD, ia kembali mendapatkan tantangan. FGD dilakukan dua sesi dengan berkelompok 8-10 orang. Sesi pertama diskusi dengan bahasa Inggris, dan sesi kedua dengan bahasa Indonesia. Awalnya, ia percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Namun, setelah mendengar peserta diskusi berbicara dengan bahasa Inggris yang fasih, kepercayaan diri Lathifah mulai goyah.

“Awalnya percaya diri dengan level bahasa Inggris yang dimiliki. Untuk conversation ok-lah, tapi sewaktu diskusi, mendengar orang-orang fasih, seperti native semua, membuat tidak pede,” tutur Lathifah.

“Dua puluh menit kemudian istirahat. Kemudian masuk ke sesi kedua; sesi bahasa Indonesia. Nah, pas sesi ini dimaksimalkan. Alhamdulillah, akhirnya Fah menjadi salah seorang dari dua orang yang diminta membuat kesimpulan,” lanjut Lathifah.

Dua minggu setelah itu, Lathifah mendapat kabar gembira karena ia dinyatakan lolos dan mendapat undangan untuk mengikuti General Training (GT) 1 di Kemang. Di sanalah ia tahu bahwa yang mendaftar untuk menjadi volunter Asian Games 2018 ratusan ribu orang, sementara yang diterima hanya 10 ribu orang; 8 ribu untuk di Jakarta, 2 ribu untuk di Palembang. Sementara itu, yang lolos ke tahap psikotes ialah 24 ribu orang.

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 356 times