Lusi Andriani, Reporter Humas FIB Unand, dilantik dan Raih Piagam Penghargaan pada Wisuda II 2018

02 Juli 2018

FIB- Bertempat di Ruang Seminar FIB Unand pada Sabtu (30/6/2018), Lusi Andriani, salah seorang mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia angkatan 2012 yang beraktivitas sebagai reporter Humas FIB Unand, resmi menyandang gelar S.Hum. setelah dilantik oleh Dekan FIB Unand, Dr. Hasanudin, M.Si., pada Wisuda II tahun 2018.

Lusi Andriani ketika menjadi mahasiswa adalah reporter senior di Humas Fib Unand yang terbilang aktif dalam menulis berita. Lusi (biasa dipanggil) bisa dikatakan sebagai penggerak dari naik dan turunnya semangat dari para reporter lainnya di ruang lingkup Tim Humas FIB Unand. 

Awalnya Lusi tertarik bergabung dalam tim reporter FIB Unand yang waktu itu belum resmi dibentuk seperti saat sekarang ini (Tim Humas FIB diresmikan awal bulan Februari 2018) karena memang ia mencintai dunia jurnalistik serta ajakan oleh dosen dan teman-teman yang sama minatnya dengannya.

“Pada awalnya kegiatan, mencari berita ini belum terstruktur. Saya bergabung  dengan tim reporter Fib pada tahun 2017 silam. Berita pertamanya pada kala itu adalah meliput kegiatan Pekan Sastra, dan setelah itu saya fakum di dunia jurnalistik kampus karena tidak adanya kejelasan dari tim reporter,” katanya.

Dalam bidang akademik, Lusi berhasil mendapatkan gelar sarjana dengan menamatkan perkuliahan selama 5,5 tahun dengan IP 3,17 dengan judul penelitian skripsi ‘Kepengarangan Azwar Sutan Malaka’, yang terbilang kreatif dan berbeda dari kebanyakan judul skripsi yang lain.

Lusi memang tidak terlalu puas dengan prestasi akademiknya karena tidak bisa tamat wisuda sesuai target yang diinginkan. Namun ia selalu melihat hal positif di setiap aktivitas dan hasil yang ia peroleh karena semua ada hikmahnya.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa juga membahagiakan orang tua walaupun lama tamat tapi nama Lusi menjadi buah bibir pada pidato Dekan dan dipanggil lagi ‘Mana dia’ oleh Dekan dan dapat piagam perhargaan juga walaupun terjadi dibelakang layar seperti penulis berita,” ujarnya.

Menurut komentar salah seorang rekan kuliah Lusi, Rahma Yenti, dari Jurusan Sastra Indonesia BP 2014, dalam dunia pertemanan katanya Lusi bisa dikatakan sangat menghargai dan menggenggam erat rekan-rekannya, dan ia juga sangat sensitif apabila salah seorang temannya tidak menyapa atau meminta bantuan kepada beliau karena beliau sangka rekannya ada masalah dengannya.

Dikatakan lagi oleh Rahma Yenti, Lusi pada masa perkuliahannya juga sempat mengalami sakit yang lumayan parah sehingga ia harus melewati jalur “BSS” selama se tahun maka dari itu ia sedikit terlambat untuk wisuda.

Dalam suatu kesempatan, salah seorang dosen pembimbingnya, Ronidin, S.S., M.A., yang berhasil diwawancarai mengatakan, “Tidak ada kendala yang terlalu serius ya yang menghampiri Lusi pada saat proses bimbingan dengan saya. Hanya saja ia sering hilang saat ditanya skripsinya, mungkin ia sedang memikirkan bahan untuk skripsinya tersebut, dan Lusi dalam akademiknya juga bagus secara umum. Selain aktif kuliah, ia juga aktif organisasi ya Forum Studi Islam di Fakultas. Itu salah satu nilai lebihlah untuk dia.”

Langkah yang dipilih oleh Lusi ternyata tidak salah karena alasan lain dalam bergabung adalah bagaimana cara ia membunuh waktu karena mahasiswa akhir sepertinya butuh kegiatan lain selain mengurus akademiknya. Mahasiswa yang juga berorganisasi di UKMF FSI ini memiliki nilai mutu yang dapat dijual di lapangan kerja karena mental dan kreatifitasnya dalam membuat berita tidak kalah saing dari reporter-reporter lainnya.

“Karena jadwal saya kosong, saya bisa bergabung penuh dalam tim Reporter Humas FIB Unand ini. Saya juga mendapatkan pengalaman baru dari sini,” timpalnya.

Namun demikian, selain Lusi ingin menjadi jurnalis, ia tentu saja berkeinginan memiliki suatu pekerjaan yang menguntungkan serta membuat orang tuanya bangga.

Ronidin, S.S., M.A. mengatakan, “Tergantung Lusinya aja bagaimana ia melihat peluang kerja di luar sana. Ia memiliki potensi kepenulisan. Tulisannya bagus lo bagaimana ia mengembangkan dan berkreatifitas. Namun juga harus mengembangkan bahasa asing juga kalau mau bersaing sekurang-kurangnnya bahasa Inggris harus bisa. Apalagi jurnalistik sangat banyak peluang kerjanya.”

Lusi memiliki tips untuk menjadi reporter yang cerdas, cepat, dan tanggap. “Pertama kita harus jeli akan setiap berita yang ada. Kemudian pandai mengolah kata dengan baik dan benar. Faktualitas informasi harus menjadi landasan utama dalam pembuatan berita. Jangan pernah menyerah walau berita kita dianggap belum apa-apa oleh pembaca karna itu menjadi pelajaran sebagai jurnalis,” ungkapnya.

Lusi berharap semoga ke depannya ia mampu bersaing di dunia kerja yang ia inginkan dan mendapatkan kerja yang layak. Ia bertekad akan terus menggali potensi diri yang ia miliki sehingga apa yang ia kerjakan selama ini tidak menjadi sia-sia

Reporter: Widya Glawri Masperi, Editor: Ayendi, Admin; Gading Rahmadi

 

 

Read 269 times