Memory Hidayat, Wisudawan Terbaik FIB Unand dengan Seabrek Prestasi

03 Juli 2018

FIB—Memory Hidayat, mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau angkatan 2014 dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada wisuda II FIB Unand, Sabtu, 30 Juni 2018. Bertempat di Ruang Seminar FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. selaku Dekan FIB Unand memberikan penghargaan kepada Memory Hidayat.

Memory Hidayat, perempuan kelahiran Taeh, 31 Maret 1997 silam ini awalnya tidak memiliki minat di bidang sastra. Sewaktu SNMPTN, ia memilih Jurusan Ilmu Pemerintahan, Jurusan Ilmu Politik, dan Jurusan Administrasi Negara. Namun, ia gagal di tiga jurusan tersebut.

Kemudian, ketika akan mengambil ujian SBMPTN, salah seorang temannya menyarankan untuk kuliah di Sastra Minangkabau. Mory (nama panggilan dari Memory) lalu mengikuti saran tersebut meskipun tanpa keyakinan. Ia meletakkan pilihan Jurusan Sastra Minangkabau pada pilihan ketiga.

Setelah pengumuman kelulusan, ternyata Memory dinyatakan lulus dan diterima kuliah di Jurusan Sastra Minangkabau FIB Unand. Ia kemudian menjalani masa-masa awal perkuliahannya dengan setengah hati.

Dalam kebimbangan untuk tetap melanjutkan kuliah di Jurusan Sastra Minangkabau atau berhenti, Mory semakin kalut karena meskipun orang tuanya mendukung pilihannya, tetapi juga seakan tidak terlalu memotivasinya kuliah di Jurusan Sastra Minangkabau.

“Itu jurusan baru, ya? Kok kuliah di jurusan itu? Tamatnya nanti mau jadi apa? Sudah orang Minang, kok masih kuliah di Sastra Minang?” tutur Mory menyampaikan komentar orang-orang sekitar terdekatnya sewaktu diwawancarai pada 27 Juni 2018.

Memasuki bulan ketiga kuliah, Mory berkesempatan berbincang dengan Dr. Lindawati, M.Hum. (Ketua Jurusan Sastra Minangkabau kala itu). Perbincangan dengan Dr. Lindawati, M.Hum. tersebut, membuka pikiran Mory. Ia kemudian yakin untuk melanjutkan kuliahnya di Jurusan Sastra Minangkabau.

Setelah memantapkan hati untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Sastra Minangkabau, Memory memaksimalkan kemampuannya dan berusaha menjadi yang terbaik. Usahanya pun tidak sia-sia, ia berhasil menorehkan berbagai prestasi selama kuliah. Salah satunya menjadi delegasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan di Gorontalo pada tahun 2017.

Kini, di akhir masa kuliahnya dalam rentang 3 tahun 9 bulan, Mory berhasil menorehkan prestasi menjadi wisudawan terbaik FIB Unand. Ia memperoleh IPK tertinggi dari wisudawan lain di FIB Unand, yakni 3.70 dengan predikat lulus ‘Dengan Pujian’. Sementara itu, orang tua Mory yang dulunya seakan pasrah ia  kuliah di Jurusan Sastra Minangkabau, tidak dapat berkata apa-apa mengetahui Mory menjadi lulusan terbaik fakultas.

“Jangan larut dalam kebahagiaan sebab masih panjang jalan yang akan kita hadang. Teruslah melakukan yang terbaik,” ungkap Mory menyampaikan pesan orang tuanya setelah mengetahui Mory menjadi yang terbaik.

Selain berprestasi di bidang akademik, Mory juga aktif dan bahkan berprestasi di berbagai kegiatan lainnya. Mory tercatat hingga ia diwisuda, ia masih aktif berorganisasi di Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Mahasiswa Pecinta Alam Sastra (UKMF Mapastra). Memory juga pernah beberapa kali menjuarai Kumite Senior Putri, Juara II Wushu Senior Putri Porprov Sumbar, Juara I Lomba Bercerita Bahasa Minang tingkat mahasiswa se-Sumbar, dan Juara II Lomba Berbalas Pantun tingkat mahasiswa se-Sumbar.

Dengan prestasi akademik dan prestasi di luar akademik yang diraih Mory, ia berhasil meyakinkan orangtuanya bahwa itu adalah pilihan terbaik dan mematahkan stigma yang selama ini berkembang oleh orang-orang terdekatnya di lingkungan kampus yang kurang paham tentang keberadaan atau profil Jurusan Sastra Minangkabau.

Menurut Mory, apapun bidang ilmunya sama bagusnya dan kesuksesan itu tergantung kepada diri sendiri. Apalagi Jurusan Sastra Minangkabau adalah jurusan yang khas dan satu-satunya di Indonesia.

Banyak mahasiswa asing ingin belajar kebudayaan Minang, salah satu contohnya adalah Ruth R. Bepinoso, wisudawan wisuda II 2018 yang berasal dari Philipina yang kuliah di Jurusan Sastra Minangkabau, ingin sekali belajar dan mengetahui tentang budaya Minang.

Apalagi para pakar-pakar tentang budaya dan seni Minangkabau sering diundang keluar negeri untuk memberikan pelatihan atau pengetahuannya kepada orang-orang di sana yang memiliki minat tinggi akan segala hal atau yang spesifik tentang ke-Minangkabauan.

Seperti yang dirilis wikipedia, dosen luar biasa Jurusan Sastra Minagkabau FIB Unand, Musra Dahrizal Katik rajo Mangkuto, yang biasa dipanggil Mak Katik, ia diundang untuk mengajar sebagai dosen pada University of Hawaii, Manoa, Amerika Serikat, dan Akademi Seni Warisan Budaya Kebangsaan Malaysia karena ia peduli dengan masalah seni, adat, dan budaya Minagkabau.

Untuk itu, agar lulusan Jurusan Sastra Minagkabau bisa bekerja dan mempromosikan budaya dan seni Minangkabau ke luar negeri, mereka mesti menguasai kemampuan berbahasa Inggris.

Sekarang Mory juga membuktikan bahwa menjadi seorang aktivis tidak mesti lambat tamat atau nilai akademik menjadi berantakan.

Ke depan, Memory ingin membuat sebuah komunitas literasi di kampung halamannya dan melanjutkan S-2.

Terakhir, Ia juga berpesan kepada teman-teman dan juniornya yang masih setengah hati kuliah di Jurusan Sastra Minangkabau, “Yakinlah dengan apa yang saat ini kita tempuh. Sebab, dengan menikmati apa yang kita punya, akan membuat perjalanan itu semakin menarik. Percayalah, kita mampu bersaing dengan siapa pun.”

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

 

 

 

Read 183 times