Dua Mahasiswa Sasing FIB Unand akan Ikuti Program Student Mobilty dan Credit Earning ke Nicolaus Copernicus University in Torun, Poland

05 Juli 2018

FIB - Rani Syawaliah Fahmi dan Rinjani Kusuma Putri merupakan dua orang mahasiswa dari  Jurusan Sastra Inggris FIB Unand angkatan 2015 yang berhasil lolos untuk mengikuti program Student Mobilty dan Credit Earning tahun 2018 ke Nicolaus Copernicus University in Torun, Poland. Keduanya direncanakan akan berangkat ke sana pada tanggal 30 September 2018 mendatang.

Rani Syawaliah Fahmi, salah seorang dari peserta Student Mobilty dan Credit Earning tahun 2018 ke Nicolaus Copernicus University in Torun, Poland ini, berhasil diwawancarai (26/6) untuk memberikan keterangan terkait dengan perjuangannya bisa lolos dalam mengikuti program yang banyak diidam-idamkan oleh mahasiswa pada umumnya karena berkesempatan untuk mengunjungi negara lain.

Rani (sebutan nama panggilannya) atas keinginannya untuk mengikuti program ini awalnya direkomendasikan untuk memlih negara Poland oleh salah seorang dosen Sastra Inggris yang bernama Diah Tjahaya Iman, M.Litt., Ph.D. Hal itu dikarenakan beliau pada beberapa waktu yang lalu telah mengikuti Progam BIPA untuk mengajar Bahasa Indonesia di sana, dan tentunya memiliki hubungan yang baik dengan profesor di sana.

Atas bantuan Diah Tjahaya Iman, M.Litt., Ph.D., akhirnya Rani mendapatkan  LoA  (Surat pernyataan diterima di sebuah perguruan tinggi tanpa syarat) dari Nicolaus Copernicus University in Torun, Poland

Namun Rani tidak berbangga diri karena ia sadar bahwa mempunyai LoA tidak menjamin untuk bisa lolos karena akan ada juga seleksi nilai akademik dan prestasi non-akademik di luar kampus. Oleh karena itu Rani tidak menggembar-gemborkan berita tentang LoA yang telah ia dapat kepada semua orang sebelum pasti ia lolos.

Sejak dahulu Rani memang sudah memiliki ambisi untuk bisa mendapatkan pengalaman ke luar negeri selama kuliah. Dia juga kerap mengikuti program-program ke luar negeri, namun mereka semua meminta biaya sebanyak 600 USD. Karena tidak punya biaya sebanyak itu, akhirnya Rani memilih mundur meskipun sudah dinyatakan lolos.

Rani sempat putus asa dan berfikir untuk berhenti mencari-cari program pertukaran pelajar ke luar negeri, dan mungkin di lain kesempatan bisa mewujudkannya, seperti S2 ke luar negeri. Rani berdo’a dan terus berdo’a  hingga akhirnya ada program Student Mobility ini.

“Alhamdulillah. Ini adalah jawaban dari do’a yang panjang. Seperti jalan yang terbuka sekali,” katanya.

Persiapan dari Rani sendiri sebelum berangkat adalah saat sekarang ini adalah ia tinggal mengurus Visa, sedangkan surat-menyurat semuanya sudah selesai. “Untuk Visa, kami perlu mengurusnya ke Jakarta, jadi setelah pulang KKN nanti, kami akan mengurusnya,” ujarnya.

Rani berharap dengan adanya Student Mobilty dan Credit Earning ini ia bisa membantu proses Internasioanalisasi Jurusan Sastra Inggris FIB Unand, dan terus mengembangkan networking  dengan Perguruan Tinggi luar negeri.

Reporter : Ivonyla Krisna, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 92 times