Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., Arkeolog FIB Unand, Hilirisasi dan Komersialisasikan Motif-Motif Batik Ciptaannya

10 Juli 2018

FIB- Bertempat di Lapangan Tenis Unand pada pagi Minggu (8/7/2018) sehabis berolahraga tenis yang menjadi hobinya, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. dalam suasana santai memaparkan kepada Tim Humas FIB Unand yang kebetulan memiliki hobi olahraga yang sama, yaitu tentang bagaimana ia menemukan, menciptakan, menghilirisasikan, dan mengkomersialisasikan motif-motif batik artefek seni yang unik dan menarik.

Di awal pemaparannya, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. menyampaikan bahwa motif-motif batik yang diperbincangkannya itu sebetulnya adalah hasil penelitiannya, terutama di Sumatera Barat. Dasar utama penelitiannya adalah tentang artefak-artefak seni di Sumatera Barat, Minangkabau, yang umumnya diambil dari peninggalan arkeologis mulai dari menhir, tanda makam, dan sampai ke bangunan-bangunan tradisional seperti balai adat dan Rumah Gadang.

“Intinya begini, luaran dari penelitian tadi menghasilkan motif-motif batik baru, kemudian di-HAKI-kan,” simpulnya.

“Itu kami identifikasi, dokumentasi, kemudian hiasan-hiasan yang ada di dalam artefak-artefak seni itu direvitalisasi menjadi beberapa motif-motif batik baru. Kemudian motif-motif batik itu diciptakan sesuai dengan filosofi adat Minangkabau dimana ‘Alam Takambang Jadi Guru’ dan satu lagi adalah ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’,” paparnya untuk menambahkan keterangan.

Memperjelas maksudnya diatas, menurut Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., filsafat adat itu direfleksikan dalam bentuk motif-motif batik, biasanya dalam hiasan-hiasan alam Minangkabau. Itu sebutnya sesuai dengan ajaran Islam yang mengatur terhadap ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’.

Kemudian paparnya unsur-unsur seni di dalam Islam sebenarnya tidak boleh menggambarkan makhluk hidup. “Nah batik Minang harusnya tidak boleh sebenarnya menggambarkan makhluk hidup. Tetapi di beberapa batik-batik modern sekarang dibikin oleh pebatik Minang itu banyak yg menggambarkan makhluk hidup,” komentarnya.

“Motif ‘Tari Piring’ misalnya menggambarkan orang yg menari. Lalu ada ‘Kudo Bendi’ atau ‘Kabau Padati’ itu menggambarkan yang ril tentang pedatinya. Harusnya menghindarkan itu. Nah batik-batik yang kita ciptakan itu memang menghindarkan memaparkan gambar makhluk hidup,” Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. mencoba memberi contoh dan membandingkan dengan motif-motif ciptaannya.

Lalu katanya, revitalisasi dari ragam-ragam hiasan punyanya ini telah menghasilkan sejumlah batik-batik baru yang sudah di-HAKI-kan, artinya sudah didaftarkan kepada Kementrian Hukum dan Ham untuk dipatenkan istilahnya.

Ada sekitar 11 motif batik yang hingga hari ini sudah ia patennya katanya, dan baru-baru ini juga ia sudah mengusulkan 10 lagi motif-motif baru untuk dipatenkan.

Setelah dipatenkan, luaran dari motif-motif batik tadi dihilirisasi oleh Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. Ia bekerja sama dengan pengerajin batik Sumatera Barat untuk  menghasilkan batik-batik baru yg unik dari yang lain.

“Kami sudah coba juga memproduksi beberapa motif. Ada sekitar 5 motif yang sudah di-HAKI-kan. Hari ini sudah bisa dibeli di toko ‘Bundo Kandung’, pusat produksi batik di jalan Ratulangi Padang, yang diusahakan oleh saudara alumni kita Muhammad Iqbal, lulusan Sastra Indonesia dahulu, tapi bergerak jadi pengusaha batik,” jelasnya.

Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. menyatakan mitranya tersebut sudah bersedia untuk memproduksi batik dengan memakai motifnya. “Barang siapa yang berminat untuk membeli silahkan cari di situ. Di antara batik-batik yang sudah diproduksi, misalnya motif ‘Ayam Balatiang’. Disana sudah ada saya yang buat tahun 2018. Tahun 2017 ini juga sdh ada. Kemudian ada motif ‘Garundang Mandi’ sudah ada di situ, aneh-aneh,” promosinya.

Dengan memilih salah satu motif batik, yaitu ‘Ayam Jantan’, kemudian ia menjelaskan filosofinya. Menurut ilmunya, ‘Ayam Jantan’ itu menggambarkan bagaimana kerasnya kehidupan, dan ‘Ayam Jantan’ itu adalah simbol dari sebuah perjuangan. Seorang orang besar yang dianggap bisa berhasil yang menjadi harapan masyarakat.

“Ada lagi yang aneh batiknya ‘Unand Ayam Balatiang Jantan’,” tambahnya. Di dalam motif batik itu sebutnya ada lambang Unand. Kemudian, ada ‘Ayam Jantan’ lambang motifnya. Ini katanya merefleksikan Unand itu adalah sebagai sebuah institusi pendidikan yang dibanggakan oleh masyarakat yang menjadi ayam aduan lah oleh masyarakat ditengah ajang pendidikan internasional dan nasional di Indonesia. Jadi ia menyimpulkan itu adalah refleksi dari Unand sebagai kebanggaan orang minang untuk menjadi ‘Ayam Jantan’.

Sebetulnya, ada beberapa motif-motif lain di Sumatera Barat yang sudah ia HAKI-kan, dan ada 40-an lagi motif-motif batik yang belum sempat di-HAKI-kannya..

Selain dari motif-motif asal Sumatera Barat itu katanya, “Hari ini saya juga meneliti tentang artefak seni makam-makam Islam di Aceh. Saya juga menghasilkan beberapa motif baru di Aceh, namun belum saya produksi. Menghasilkan 4 HAKI juga di situ. Ada namanya ‘Syahadah Awan Berarak’. Ada ‘Kalimah Bingkai Kaca’. Itu sudah kita HAKI-kan.”

Terhadap kawan-kawan peneliti di FIB Unand, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. ingin memberi motivasi bahwa sebetulnya dosen-dosen di FIB bisa melahirkan produk-produk terapan dari penelitian-penelitian budaya. Budaya itu katanya punya nilai-nilai, punya produk-produk untuk menjadi modal dasar untuk dijadikan produk terapan.

Selain dari dirinya, sebenarnya kata Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., di FIB Unand dengan ide yang sama ada peneliti lain yaitu Pramono, Ph.D. yang mempergunakan produk budaya tetapi berbeda dengannya yaitu mempergunakan naskah iluminasi. Dengan naskah iluminasi itu ia jadikan produk motif-motif batik sehingga melahirkan motif-motif batik baru menarik lainnya.

Kemudian jelasnya, di Fakultas Ekonomi ada juga Toti Sri mulyani yang melahirkan motif-motif batik dari motif-motif tradisional. Toti Srimulyani katanya mengangkat motif-motif tua dijadikan motif batik. Intinya adalah katanya bagaimana nama-nama motif lama itu dijadikan motif batik. Kalau ‘Kucing Lalok’ itu bagaimana bentuknya dipindahkan dalam bentuk motif-motif batik.

“Beda dengan itu (Toti Sri Mulyani), saya tidak yang lama tetapi membikin sesuatu yang baru. Motifnya beda dengan yang lama tapi jiwa dan filosofinya tidak lari dari tradisi Minangkabau,” ia mencoba membandingkan.

Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. mengharapkan mudah-mudahan Unand tahun ini mengadakan acara khusus untuk peluncuran batik-batik itu ke depan karena prospeknya sangat bagus dan bisa merangkul pengerajin batik yang butuh sokongan dari ilmuan dan intelektual pengembangan batik.

“Mumpung hari ini di Unand kita sudah punya pusat pengembangan batik yang kebetulan saya sendiri ketuanya dan di SK-kan oleh rektor,”

Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. sebutnya sudah mencoba mendatangi LPPM Unand. Kalau bisa menurutnya ada semacam kebijakan dari LPPM untuk menjadikan motif-motif produk Unand ini menjadi bagian dari uniform. “Tidak tahu motif siapa yang akan dipakai. Yang penting produk batik Unand. Kalau rektor menghasilkan sebuah kebijakan menurunkan surat kepada dekan untuk memakai motif-motif produk Unand sebagai baju seragam sangat bagus sekali. Jadi produk kita dipakai Unand sendiri. Ada penghargaan dari hasil sebuah penelitian,” harapnya.

Mengakhiri keterangannya, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. memiliki harapan juga agar bisa melakukan kerjasama dengan pengerajin-pengerajin Sumatera Barat untuk memakai motif-motif produksi Unand.

Tim Humas: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi 

 

 

Read 124 times