Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., Arkeolog FIB Unand yang Bergelut dengan Artefak Seni

11 Juli 2018

FIB- Pada lokasi dan waktu yang bersamaan setelah diwawancarai oleh Tim Humas FIB Unand terkait dengan hilirisasi dan komersialisasi ciptaan motif-motif batiknya pada Minggu (8/7/2018) di Lapangan Tenis dekat PKM Unand, kemudian atas wawancara berikutnya, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. memberikan keterangan seputar profil aktifitas Tridharma Perguruan Tinggi yang telah digelutinya selama ini. 

Di awal pemaparannya, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. langsung menekankan bahwa penelitian S3-nya berhubungan dengan Arkeologi Seni.

“Kalau saya sendiri bidang di S1 Sejarah Indonesia. Penelitian saya tentang ‘Tuanku Lareh’ dan buku saya sudah keluar tentang itu. Kemudian S2, pendidikan saya tentang Arkeologi Islam. Di S3 juga tentang Arkeologi Islam khususnya Arkeologi Seni. Penelitian saya tentang kaligrafi makam di Aceh. Fokus penelitian saya sebetulnya adalah Arkeologi Seni,”paparnya.

Agar bersentuhan bidang kajiannya saat ini dengan mata kuliah yang ia ampu, sehingga ucapnya, mata kuliah yang ia ajar hari ini adalah Sejarah Kebudayaan, Sejarah Kesenian, Etnoarkeologi, dan Teori Kebudayaan.

Untuk roadmap penelitian, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. bersandar kepada roadmap penelitian Unand. Ada tema katanya bernama ‘Karakter Bangsa dan Sumber Daya Manusia (SDM). Karakter bangsa itu lalu ia terjemahkan ke dalam penelitian-penelitian tentang kebudayaan, sejarah, dan seni. Lalu ungkapnya, FIB Unand juga mengarahkannya pada penelitian-penelitian kebudayaan, bahasa, sastra. “Nah kebetulan kita Sejarah menterjemahkan ke dalam penelitian tentang sejarah, kebudayaan, dan seni,” katanya.

Akhir-akhir ini, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. lebih fokus kepada daerah penelitian di Aceh, di mana sebelumnya hanya terfokus di Sumatera Barat.

Kemudian Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. mengungkapkan ada beberapa penelitiannya yang sudah dibukukan. “Untuk Aceh sudah dua buku saya tentang kaligrafi. Satu adalah judulnya ‘Bungo Kalimah, Kaligrafi Aceh dalam Balutan Tasauf’. Yang kedua judulnya ‘Katalogus Kaligrafi Makam di Aceh’,” ujarnya.

Lalu ia berharap agar mudah-mudahan tahun ini, dan tahun depan ia bisa melahirkan produk buku baru tentang Aceh. “Buku saya akhir-akhir ini kalau di lihat dalam Sinta itu ada sekitar 6-7 buah kalau tidak salah,” ujarnya.

Karena kebetulan penelitian-penelitiannya bergelut dengan bidang seni, membuat Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. bisa menjalin kerjasama dengan pemerintah Dharmasraya. Pada tahun lalu ia bekerjasama dengan pemerintah disitu untuk pengembangan batik di Dharmasraya.

“Kita mengadakan FGD tentang pengembangan batik di situ. Baru-baru ini kita berusaha untuk mengajukan pembuatan desa wisata kampung batik di Dharmasraya. Sampai hari ini belum ada realisasinya. Saya sudah bawa Forum Layanan Informasi dan Ilmu Pengetahuan Teknologi ke Dharmasraya tapi belum ada hasilnya,” ungkapnya.

Namun demikian, meskipun belum berhasil mewujudkan impiannya, ia sempat membantu dari beberapa permasalahan yang muncul dari perbatikan Sumatera Barat. Pada tahun 2016 lalu katanya ada kekisruhan bahwa ada seorang pengusaha mengklaim bahwa batik ‘Tanah Liek’ itu adalah punya hak dagang mereka sendiri dan tidak boleh orang memakai.

“Nah pada tahun 2016 saya mengorganisir kawan-kawan membikin suatu komunitas batik. Lalu kemudian berjuang secara bersama-sama sampai ke Jakarta, sampai ke Kementrian, bahwa menyatakan batik ‘Tanah Liek’ itu milik komunitas bukan milik pribadi. Nah saya sampai presentasi di LKAM Sumbar dan presentasi sampai ke Dirjen HAKI di Jakarta membawa kawan-kawan pecinta batik juga termasuk pengerajin. Akhirnya tuntutan kita di jakarta diterima oleh Dirjen HAKI,” jelasnya dengan senang.

“Bahkan, oleh Gubernur Sumbar dikeluarkan surat pernyataan bahwa ‘Batik Tanah Liat’ itu adalah hasil dari nenek moyang kita, tidak boleh diklaim oleh perorangan dan masyarakat sudah mulai kembali nyaman bekerja,” tambahnya lagi.

Tentang keberadaan Jurusan Arkeologi di Indonesia, ia menyatakan paradigmanya berkembang dengan baik. Disebutkannya ada sekitar lima jurusan atau prodi bidang tersebut di Indonesia, yaitu di Sumatera ada satu yaitu di Jambi, di UI juga satu, di UGM satu, diUnhas satu, dan di Udayana satu juga .

Diungkapkannya lagi dahulu Unand telah berusaha untuk mendirikan Jurusan Arkeologi, tapi ia tidak tahu apa kendalanya. Namun demikian ungkapnya prospek arkeologi itu sangat jelas dan berguna untuk masyarakat.

Lalu apa pentingnya arkeologi bagi masyarakat? Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. terlebih dahulu menjelaskan bahwa Arkeologi sama dengan Sejarah, yaitu memberikan pengalaman tentang sejarah masa lalu, namun arkeologi beranjak dari benda-benda.

“Jadi kalau itu yang dikembangkan di Sumbar sangat bagus juga karena Sumatera Barat memiliki peninggalan-peninggalan arkeologi yang kaya sekali. Kalau kita bagi sejarah itu atas periodesasi mulai dari pra-sejarah, sampai kepada Hindu, Budha, Islam, sampai ke kehidupan modern, maka Sumbar punya peninggalan sejarah yang kaya sekali akan artefak,” ujarnya.

“Kalau pengembangan untuk prodi, sangat bagus untuk didirikan, cuman untuk SDM kita di Unand, Arkeologi itu saya sendiri. Itu yang jadi kesulitan barangkali,” pungkasnya.

Tim Humas: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 125 times