Zurmailis, M.Hum, Dosen Sastra Indonesia FIB Unand, Raih Doktor Bidang Sejarah Sastra

12 Juli 2018

FIB: Diwisuda pada tanggal 19 April 2018 lalu, Zurmailis, M.Hum., resmi meraih gelar ‘Doktor’ bidang Sejarah Sastra dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebenarnya ia tidak sendirian saat diwisuda untuk pencapaian jenjang pendidikan akademik tertinggi tersebut, Diah Noverita, M.Hum., teman dan kolega sejawatnya dari Jurusan Sastra Minangkabau FIB Unand juga turut serta.

Zurmailis, M.Hum. yang dahulunya berhasil menamatkan S2 di UGM, tercatat kembali sebagai mahasiswa S3 di perguruan tinggi yang sama, yaitu di sana sejak tahun 2009. Ia baru bisa menyelesaikan ujian tertutupnya tahun 2016. Kemudian, berselang hingga lebih kurang dua tahun berikutnya baru ia bisa menamatkan kuliah S3-nya.

Judul disertasinya berkenaan dengan doksologi lembaga kebudayaan yang berperan penting dalam menentukan arah kebudayaan Indonesia. Doksologi itu seperti yang diartikannya yaitu semacam anutan ideologi tertentu, kebebasan budaya yang bersumber dari pandangan sebuah organisasi budaya dunia, CCF (Congress for Cultural Freedom) yang kegiatannya secara diam-diam didanai CIA.

“Pandangan yang mendasar sebagai titik pijak penelitian saya bersumber dari teori Genetic Structuralism Pierre F. Bourdieu yang melihat pentingnya menelisik relasi antara struktur sosial dan agen yang terlibat sebagai pendukung struktur,” jelasnya.

“Saya meneliti Dewan Kesenian Jakarta dengan produk budaya yang dihasilkan sebagai bentuk kekerasan simbolik yang mempengaruhi orientasi pelaku budaya dan arah perkembangan kebudayaan,” tambahnya menjelaskan.

Selama menapaki pendidikan S3 di UGM, ia mengungkapkan pengalaman manis sepertinya lebih banyak menghinggapi dari yang getirnya.

“Suasana akademis dan fasilitas UGM sangat menunjang kemajuan belajar mahasiswa. Pengalaman pahitnya paling-paling berkenaan dengan masalah klasik,  kurang uang,” ucapnya yang memperoleh beasiswa BPPS selama tiga tahun dengan perpanjangan satu semester.

Kemudian ia mengomentari bahwasanya di sana (UGM) orang-orang lebih bermurah hati berbagi informasi sehingga lebih mudah mendapat bahan bacaan yang dibutuhkan untuk kepentingan disertasinya.

“Yang paling berkesan rasa persaudaraan antar mahasiswa. Kesulitan yang kita alami kita hadapi bersama. S3 bukan hanya jalan memperoleh gelar, tapi mengasah diri untuk lebih jadi manusia,” ucapnya lagi.

Atas pencapaian berhasil sukses meraih gelar ‘Doktor’ ini ia sangat berterimakasih kepada semua orang dan lembaga yang berkaitan dengan studinya yang tidak dapat disebutkannya satu persatu.

Ucapan yang mesti ia sebut dan sampaikan terhadap pengalaman manis atau pahit, yang benar-benar menjadi guru yang mengajari tentang hidup yang berada dibalik ini semua yaitu orang tua, terkhusus kepada Ibunya, orang yang paling besar jasanya, tempat ia menghaturkan rasa terimakasih terdalam.

Tim Humas: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 294 times