Jumat, 03 Agustus 2018 05:39

FIB Unand Adakan Kuliah Umum “Language and Values: Dekorasi Bahasa Pada Angkot dan Bus Minangkabau” Bersama David Reeve

FIB - Atas inisiasi Ketua Jurusan Sastra Minangkabau, Pramono, Ph.D., ketika ia bertemu dengan David Reeve di Belanda, akhirnya Kuliah Umum bersama David Reeve dengan tema “Language and Values: Dekorasi Bahasa pada Angkot dan Bus Minangkabau” kepada mahasiswa dan dosen di lingkungan FIB Unand terlaksana pada Kamis, 26 Juli 2018, bertempat di Ruang Sidang Dekanat FIB Unand.

Kuliah umum ini dibuka langsung oleh Dr. Hasanuddin, M.Si., selaku Dekan FIB Unand dan sebagai moderator adalah Ketua Jurusan Sastra Minangkabau, yaitu Pramono, Ph.D. 

David Reeve, sejarawan yang memiliki ketertarikan terhadap fenomena bahasa, merupakan Wakil Direktur ACICIS (The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies) dan penulis buku “Angkot & Bus Minangkabau: Budaya Pop & Nilai-Nilai Budaya Pop”.  

Pertama-tama David Reeve akan memberikan Kuliah Umum tersebut dia mengungkapkan rasa khawatir dan gugupnya karena pesertanya berasal dari orang Minangkabau sendiri. Apakah itu sebenarnya atau sekadar ice breaking, tapi kelihatannya ia ahli benar tentang fenomena bahasa yang akan disampaikannya tersebut.

Dalam Kuliah Umum yang dipaparkannya dengan gayanya yang kocak dan dikuti oleh ketawa riuh dari peserta, David Reeve berkata bahwa menurutnya tulisan-tulisan yang ada pada angkot dan bus di Minangkabau merupakan suatu bentuk hasil kebudayaan pop yang belum disadari oleh masyarakat Minang itu sendiri. 

David Reeve melihat bahwa ada beberapa tema utama yang ia temui pada angkot dan bus yang ada di Minangkabau. 

“Berdasarkan pengamatan saya, saya menemui ada beberapa tema pada angkot dan bus yang ada di Minangkabau. Pertama, kita bisa melihat tema mobil/olahraga/kecepatan pada kata seperti racer, racing, helldriver, grand prix, motor trend, speed, dan lainnya. Kedua ada tema berupa kata-kata kekuasaan/status sosial dapat kita lihat pada kata extra, king palace, viper, royal blood, glory, executive class. Ketiga, tema mengenai pria yang kuat atau macho tergambar dalam kata leader, hunter, sailor man, maestro, master, samurai, domination.  Keempat, kita juga bisa lihat ada tema kota-kota atau budaya barat misalnya seperti metropolis, Arizona, Florida, Baywatch, Disney Land, Master City, evolution. Kelima, yaitu tema keluarga misalnya Ahmad brother, six family, CHANIA my sweet daughter. Keenam, kita bisa melihat tema mengenai romantisisme seperti pada kata don’t forget me, memory, feeling, come back, only you, romance,” ungkapnya.

Penggunaan bahasa pada angkot dan bus di Minangkabau, dikatakan David Reeve lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris. Hal ini terlihat dari penelitian yang ia lakukan pada 780 angkot yang ada.

“Berdasarkan penelitan pada 780 angkot tersebut, saya menemukan bahwa tulisan yang ada pada angkot dan bus di Minangkabau 58% menggunakan Bahasa Inggris, 31% menggunakan Bahasa Indonesia, dan 12% menggunakan Bahasa Minangkabau,” jelasnya.

Dikatakan David Reeve, angkot dengan dekorasi yang menarik menghasilkan untung yang lebih besar jika dibandingkan dengan angkot tanpa dekorasi.

“Angkot yang bagus sekali dan sukses dekorasinya menghasilkan untung dua kali lipat. Jadi ini salah satu bentuk penanaman modal. Seni hanya akan berakar kuat kalau ada money dan ini dibenarkan oleh dekan ekonomi dulu. Dia menjelaskan pertama kali bahwa alasan sopir angkot mendekorasi angkotnya dengan tulisan-tulisan tersebut adalah karena keuntungan. Kalau dekorasinya sukses, untungnya akan besar dan begitu juga sebaliknya,” pungkasnya.

David Reeve mengatakan bahwa perlu adanya campur tangan pemerintah mengenai budaya pop yang ada di angkot dan bus di Minangkabau ini. Hal ini dikarenakan tulisan yang ada di angkot merupakan suatu bentuk kreativitas anak bangsa dan sangat menarik bagi orang asing atau orang luar negeri.

“Pemerintah sepertinya sangat anti dengan angkot dan ingin menghapuskannya dengan sering melakukan razia tentang atribut-atribut angkot. Kenapa pemerintah begitu anti dengan budaya pop seperti ini? Menurut saya budaya pop ini bisa dilestarikan dengan merangkul dan mengontrol sopir angkotnya karena ini merupakan suatu bentuk kreativitas anak  bangsa dan hal seperti ini sangat menarik bagi kami para bule,” ujarnya. 

Peserta kuliah umum yang terdiri dari para dosen dan mahasiswa sangat antusias dengan tema yang dihadirkan oleh David Reeve. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diberikan oleh para peserta kepadanya ketika sesi tanya jawab. Sebagai balasannya David Reeve memberi bukunya tentang dekorasi angkot tersebut secara cuma-cuma kepada beberapa penanya terbaik.

Pertanyaan ini misalnya seperti apakah Bapak bertanya kepada sopir angkot mengenai apa alasan mereka menulis tulisan-tulisan tersebut di angkotnya? Apa representasi sosial atau ideologi dari tulisan yang ada di bus dan angkot terhadap masyarakat Minangkabau? Apakah Bapak pernah duduk di Angkot dengan musik yang vulgar dan bagaimana tanggapan Bapak mengenai hal ini?, dan lain sebagainya.

Atas masukan dan pertanyaan dari para dosen dan mahasiswa yang antusias mendengar dan memperhatikan, David Reeve sangat berterimakasih karena ada hal-hal yang belum dijangkaunya dan luput dari perhatiannya.

Reporter: Mita Handayani, Editor: Ayendi: Admin: Gading Rahmadi

Read 140 times