Sabtu, 04 Agustus 2018 00:09

Menjadi Kegiatan yang Pertama, Phenom, Forum Diskusi Mahasiswa FIB Unand, Beri Pandangan tentang “Media Sosial & Manusia”

FIB- Senin, (30/7/18), Forum Diskusi Mahasiswa FIB Unand yang menamai dirinya Phenom mengadakan kegiatan diskusi untuk pertama kalinya di Balairuang FIB Unand dengan tema “Media Sosial & Manusia”. Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa FIB dan beberapa mahasiswa dari fakultas lain yang ada di lingkungan Unand.

Terdapat empat orang pembicara dalam kegiatan diskusi itu, yaitu: Adi Osman (Jurusan Sastra Inggris), dengan topik “Dialektika Swafoto”; Muhaimin Nurrizqy (Jurusan Sastra Indonesia), yang membahas materi dengan judul “Kita Telah Menjadi Data di Media Sosial”; Roby Satria dengan materi “Manusia Bertopeng di Media Sosial”; dan terakhir Anissa Irfayuli (Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia), dengan topik pembahasan “Kebebasan Dalam Media Sosial”. 

Andesta Herli W, selaku salah satu penggagas berdirinya Phenom menjelaskan bahwa nama Phenom diambil dari Bahasa Inggris yaitu phenomenon yang secara harfiah berarti fenomena. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tujuan dibentuknya forum ini adalah sebagai wadah untuk membicarakan fenomena-fenomena yang terjadi hari ini.

“Kami tidak menginginkan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita hari ini hanya hadir dan lewat begitu saja. Akan tetapi, kami menginginkan agar ada pembicaraan, ada pandangan, dan ada kajian yang lebih mendalam mengenai fenomena tersebut. Nah, itulah alasan mendasar kenapa forum diskusi Phenom ini kami bentuk,” ujarnya saat ditemui setelah acara diskusi berakhir.

Kemudian, Adi Osman yang merupakan pembicara pertama diskusi dengan kajian “Dialektika Swafoto” menjelaskan bahwa swafoto adalah gejala yang mengendarai narsisme dalam media sosial meskipun tidak selalu negatif. Menurutnya, tiang utama dari narsisme itu sendiri adalah popularitas. Kecendrungan swafoto yang mudah mendapatkan like dan komentar melanggengkan hukum kaya semakin kaya terlihat jelas dalam semesta ini. Semakin banyak mengunggah diri, semakin banyak pengikut di media sosial baik di Instagram, FB, Twitter, dan media sosial lainnya maka akan semakin banyak like dan komen serta akan semakin populer individu tersebut.

“Souza dan kawan-kawan (2015) menemukan pengunggah swafoto meningkat 900 kali dari tahun 2012 hingga 2014. Asumsi pertama mereka adalah ada beberapa kecendrungan pengguna untuk mengunggah swafoto. Pertama, kecendrungan sebagai individu yang berdaya (empowerment), berkuasa penuh akan presentasi diri di laman media sosialnya. Kedua, sebagai bagian komunitas, menguatkan kehadiran dirinya sebagai bagian dari komunitas. Ketiga, sebagai warga dunia, kosmopolit, merasa semua orang toleran dan dapat dipercaya,” tuturnya.

Temuan lain Souza dan kawan-kawan (2015), seperti disampaikan Adi Osman bahwa perempuan merupakan pengunggah swafoto terbanyak, kecuali di Negara Nigeria dan Mesir. Ia menambahkan hal itu mereka hubungkan dengan kondisi kultural dengan asumsi jika tingkat kesadaran, kesetaraan, dan berdaya wanita yang tinggi di suatu negara, maka akan banyak perempuan yang mengunggah swafotonya. Hal ini juga tidak begitu akurat karena ada faktor lain yang belum terhitung dari kondisi manusia yaitu psikologis misalnya.

“Beberapa peneliti lain juga menunjukkan manfaat positif dari swafoto dan bermedia sosial dalam aspek psikologi. Hal ini mengarah pada isu kesendirian dan kesepian (loneliness). Kedua isu ini merupakan suatu bentuk masalah kesehatan yang beresiko tinggi jaman ini (Pittman & Reich, 2016). Maka dari itu, semakin tinggi aktivitas pengguna di media sosial maka akan mengurangi rasa kesendirian pengguna media sosial tersebut (Pittman & Reich, 2016),“ tuturnya.

Berikutnya, materi “Kita Telah Menjadi Data di Media Sosial” disampaikan oleh Muhaimin Nurrizqy. Ia menyampaikan bahwa manusia itu sesungguhnya rentan di dalam media sosial. Artinya adalah bahwa manusia di dalam media sosial yang berupa data dan data tersebut rentan untuk dicuri. Hampir semua orang di dunia mempunyai android katanya dan mereka yang mempunyai android tersebut sudah pasti mempunyai akun di media sosial online. Menurutnya, akun mereka itu pasti menyimpan data diri mereka walaupun hanya alamat email, nomor telepon, atau alamat rumah.

Tambahnya lagi, semua data itu tersimpan di ruang yang abstrak atau yang dalam istilah Muhaimin Nurrizqy ruang itu disebut “Lubang Cacing”.

“Jika memang orang-orang yang mempunyai akun ini mengisi data mereka dengan serampangan dan main-main, tetap kode ip-address HP- nya bisa diketahui. Setiap android dan komputer dilengkapi dengan sistem pelacak yang bernama GPS. Dimana saja dan kapan saja kita akan mudah terlacak oleh sistem itu. Ekstremnya, tidak ada yang bisa lari dari tekhnologi mutakhir hari ini, “ jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sekarang manusia hidup di dunia gambar, citra-citra visual tersebar di mana-mana. Salah satu platform media sosial yang terkenal dan banyak penggunanya itu sebutnya adalah Instagram dan di Instagram banyak sekali gambar tersebar.

“Baik di Instagram maupun media sosial lainnya, gambar adalah hal yang paling vital. Gambar merupakan citra yang paling utuh, misalnya dalam menjelaskan sesuatu atau menjelaskan diri dengan foto diri. Semakin gambar tersebut memiliki resolusi yang baik dan detail maka gambar itu semakin nikmat untuk dilihat dan kita sebagai manusia dengan mata yang indah, tentu lebih tertarik melihat gambar yang jelas dan bersih,“ ujarnya.

Dikatakan Muhaimin Nurrizqy, gambar yang kita posting setiap hari akan berubah menjadi data dalam “Lubang Cacing” tadi. Wajah kita yang setiap saat kita tampilkan, mengupdate foto profil tiap sebentar. Hal ini akan menambah koleksi data baru bagi tubuh dunia yang tidak kasat mata Internet.

“Pertanyaan saya adalah apakah kita tahu dimana foto-foto kita itu disimpan? Apakah kita tahu siapa orang-orang dibalik pemilik platform media sosial? Karna High Defenition atau yang sering kita sebut HD sangat diiginkan orang banyak. HP keluaran baru yang tiap sebentar memenuhi pasar dengan kecanggihan kameranya jangan-jangan pada suatu tempat, pada sebuah kebutuhan kelompok atau individu tertentu, wajah atau barangkali kita secara tubuh luar-dalam telah diciptakan semacam kloning dalam film-film futuristic Hollywood. Contoh dekatnya dalam film Mission Imposible: Fall Out, ketika penjahat dikloning dengan hanya membutuhkan foto wajahnya. Dengan kecanggihan teknologi militer apa yang tidak bisa dilakukan? Hal inilah yang menurut saya harus jadi perhatian bagi kita bersama,” tegasnya.

Di akhir diskusinya, Muhaimin Nurrizqy menyarankan bahwa pada era millennium ini individu dituntut untuk kritis terhadap apapun termasuk dalam bermedia sosial. Baginya, hanya ada tiga solusi atas kegiatan bermedia sosial ini. Pertama, memberikan “segar-segar” data kita kepada sesuatu yang tidak kita ketahui. Kedua, kita memilih data-data yang akan kita berikan. Ketiga, kita tidak memberikan data kita sama sekali. 

Melanjutkan diskusi, pada giliran pembicara ketiga, Roby Satria, dengan materinya “Manusia Bertopeng di Media Sosial” menyampaikan bahwa topik itu diambil ‘berangkat’ dari pertanyaan apa sebenarnya yang dicari setiap orang pada media sosial?

“Saya mencoba menerka untuk jawaban dari pertanyaan ini. Menurut saya salah satu jawabannya adalah sebuah keberadaan atau hak untuk diakui ketika tidak mendapat tempat di dunia nyata. Hal itu dilakukan karena adanya rasa kurang percaya diri, tekanan dari individu atau golongan tertentu, memiliki masalah dalam berinteraksi di dunia nyata, atau bahkan pengaruh status sosial, sehingga mereka menjadikan media sosial sebagai sebuah ‘pelarian’. Dengan cara mereka menampakkan diri di media sosial, hal ini mengindikasikan bahwa media sosial merupakan salah satu tempat bagi mereka untuk mencari keberadaan mereka yang tidak mereka peroleh di dunia nyata,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa cara pengguna menampakkan diri di media sosial bisa melalui foto, video, caption, atau teks. Apapun cara yang dilakukan terangnya, dihalalkan, meskipun hanya sebagai sebuah pencitraan. Yang berkulit hitam bisa diputihkan, yang berjerawat bisa dihilangkan, mengutip kata-kata orang besar dan lain sebagainya, demi sebuah pengakuan dan pengikut yang banyak, tak ayal bahkan mempermalukan diri sendiri.

“Individu yang demikian menurut Carl Gustav Jung merupakan individu yang tidak dapat menyesuaikan diri ke dunia luar dengan baik. Sehingga, individu bersembunyi di balik topeng dengan tujuan untuk menciptakan kesan tertentu pada orang lain dengan menyembunyikan hakikat pribadi yang sebenarnya. Maka setiap pengguna akan dituntut membentuk topeng yang akan digunakan di media sosial. Semakin bagus topeng tersebut maka akan semakin banyak pengikut dan keberadaannya akan semakin berpengaruh. Begitulah media sosial bekerja membentuk penggunanya,” pungkasnya.

Anissa Irfayuli, pembicara dengan topik pembahasan terakhir, yaitu “Kebebasan Dalam Media Sosial” tidak mau kalah dengan pembahas sebelumnya menjelaskan bahwa manusia dengan bermedia sosial menunjukkan kesadaran bahwa ia sedang berada dan terlibat dalam siklus modernitas. Kesadaran tersebut menurutnya merupakan perwujudan dan keinginan untuk memperoleh pengakuan tentang keberadaannya sebagai bagian dari suatu kelompok. Keikutsertaan dalam bermedia sosial dan terlibat aktif dalam penggunaannya adalah salah satu alternatif untuk mengkonkretkan kesadaran tersebut.

“Cara menunjukkan bahwa seseorang turut hadir dalam konteks tersebut adalah dengan mengeksplorasi keseharian, kekuasaan, kekayaan, bahkan persoalan individu yang sifatnya sangat personal ke media sosial, baik itu melalui foto, teks, maupun video. Alat ukur untuk melihat seberapa aktivitas tersebut diminati oleh orang lain adalah melalui like, subscribe, dan komentar di kolom komentar. Alat ukur tersebut dapat melihat seberapa seseorang lebih eksis dibandingkan dengan orang lainnya. Betapa fananya melihat eksistensi di dunia maya,” ungkapnya.

Dalam pandangan Anissa Irfayuli, hal paling penting dalam bermedia sosial adalah tentang kesadaran mengontrol sikap-sikap hedonis dan dapat menjadikan media sosial sebagai medium eksistensi yang tepat untuk mengaktualisasikan diri dan kebebasan.

Ia menyimpulkan bahwa sebebas-bebasnya manusia, yang paling tidak boleh bebas adalah pikiran untuk mengobyektifikasi orang lain.

Reporter: Mita Handayani, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 153 times