Minggu, 05 Agustus 2018 00:01

Dr. Aslinda, M.Hum., Linguis FIB Unand Bidang Sosiopragmatik Sapaan di Minangkabau

FIB - Dr. Aslinda, M.Hum. berbagi tentang kegiatan dan kendala yang ia jalani dari awal hingga ia berhasil menamatkan S3-nya di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) kepada Tim Humas FIB pada Senin (9/7/2018) di koridor FIB Unand.

Dr. Aslinda, M.Hum. tamat S2 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2001. Selang beberapa tahun setelah itu tepatnya bulan Agustus tahun 2007, ia melanjutkan studi S3 ke Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Setelah berproses agak cukup lama, pada tanggal 30 Oktober 2015, ia mengikuti ujian tertutup. Setelah itu ia merevisi disertasinya. Setelah selesai disertasi tersebut diperbaiki, lalu ia menterjemahkannya dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu. Tahun 2016 semua urusan baru selesai, dan tepatnya tanggal 5 November 2017, ia diwisuda karena di UKM tersebut wisuda dilaksanakan cuma sekali dalam setahun.

Untuk biaya S3-nya di UKM itu, pada tahun pertamanya katanya ia bayar sendiri. Dua tahun berikutnya ia dapat beasiswa on going dari Dikti. Beasiswa tersebut boleh diperpanjang, namun katanya harus membuat Setkap dari Kementerian Pendidikan dan Sekretaris Negara. Setiap tahun diurus sebutnya tapi tidak pernah selesai atau ada hasilnya. Sehingga ia tidak bisa memperpanjang beasiswa.

Mujurnya, Dr. Aslinda, M.Hum., sewaktu ia kuliah S3 tersebut mulai akhir semester 2 sampai semester 5, dan disambung lagi satu semester, jadi kira-kira dua tahun, diangkat sebagai Research Assistant (RA) atau Asisten Peneliti oleh dosennya di sana. Posisi itu jarang-jarang bisa didapatkan dan tidak semua mahasiswa bisa.

“Saya memang agak lama selesai. Setelah mengambil mata kuliah Bahasa Melayu 2, beberapa kali dipilih menjadi asisten peneliti. Saya Alhamdulillah dapat kesempatan rezki mungkin. Ketika presentasi-presentasi itu beliau mungkin melihat kemampuan kita. Jadi di situ saya diminta hadir dalam pertemuan mereka, lalu mereka tanya jawab segala macam. Sudah itu mereka bertanya apakah mau bergabung menjadi RA kami? Saya katakan ya,” ucapnya.

Kebetulan kata Dr. Aslinda, M.Hum., judul penelitian dosennya tersebut juga tentang ‘Sapaan di Perguruan Tinggi’ juga, tapi penelitian dosennya berbeda dengan dirinya. Dosennya meneliti sapaan yang ada di Malaysia yang terdiri dari 3 etnis, Melayu, India, dan Cina. Jadi lebih bervariasi. Jadi tiap minggu itu katanya mereka diskusi sehingga ia harus booking tempat dan makanan.

“Dapat allowance, biaya kuliah dibayarkan dari proyek penelitian itu. Uang telekomunikasi, hard disk external, dan kertas dikasih sampai semester 5, sehingga bisa beli mobil yang layak. Sempat ia setelah itu menjadi sopir menggunakan mobil itu untuk mengantarkan dan menjemput mahasiswa dan kenalannya ke bandara. Waktu itu tidak ada lagi pekerjaan lain. Kalau kerja lain terikat, tidak bisa dengan anak,” tuturnya.  

Sebagai Asisten Peneliti ia harus mencari literature review, harus mengambil data, menganalisis data. Ia mendapat pengalaman bagaimana meneliti, bagaimana membuat questioner, dan bagaimana mengolah SPSS. Itulah yang ia terapkan dalam disertasinya.

“Banyak kemudahan sebenarnya di UKM dan beruntungnya saya karena saya RA di greeting (sapaan), dan yang saya buat tentang sapaan. Referensinya bisa saya bawa pulang. Ketika kita jadi RA kita semuanya diberi fasilitas. Suruh beli buku dan buku itu jadi milik pribadi. Di sana baiknya juga ketika jadi asisten peneliti, kami menulis di scopus juga. Itulah pengalaman saya menulis di scopus. Lalu presentasi-presentasi di jurnal internasional,” ia menuturkan.

Pada semester 5, Dr. Aslinda, M.Hum. sudah mulai mengerjakan proposalnya. Namun di saat yang sama ia memang agak aktif juga dalam bidang organisasi kampus.

“Jadi di situ agak terkendala juga mengerjakan proposal. Kegitan saya terlalu banyak di organisasi. Disertasi jalan juga, tapi lambat seperti keong. Ada Student International tentang sosial dan kemanusiaan. Itu banyak kegiatannya, dan terakhir itu Persatuan Cendikiawan Minang Malaysia sebagai setia usaha agung (sekretaris). Jadi sibuk juga mengurus organisasi itu. Orang-orang yang kita urus itu orang-orang yang hebat-hebat di Malaysia. Orang asli Malaysia, tapi asalnya dari Minangkabau,” ia menyebutkan alasan kedua yang melambatkan studinya.

“Ada Presidennya Prof. Gazali. Beliau itu punya perusahaan di dalam dan luar negeri. Jadi fellow juga di universitas terutama di Malaysia, sampai ke Turki, ke Amerika. Jadi timbalan presidennya, bapak Astaman nama beliau. Itu anak dari menteri Asyah Gani, menteri perempuan pertama di Malaysia, dua sampai tiga kali berturut turut jadi menteri,” ia mencontohkan orang-orang ternama itu.

Organisasi itu katanya jika mau bernego dengan atase kependidikan di KBRI atau dengan kedutaaan, mereka selalu membawa dirinya untuk mencari dana.

“Jadi ketika ada atase kebudayaan itu, diajak untuk cari dana segala macam, jadi bernegosiasi. Kawan-kawan selalu memberi kepercayaan kepada saya, jadi bundo kandung, dan terakhir saya fokus menulis,” katanya.

Judul disertasi Dr. Aslinda, M.Hum adalah “Sapaan dalam Bahasa Minangkabau: Sebuah Kajian Sosiopragmatik”. Sapaan-sapaan itu jelasnya bukan sapaan-sapaan seperti biasa.

“Memang ketika saya presentasi proposal, kata penguji proposal ‘Untuk apa lagi buat sapaan! Toh Dr. Media Sandra Kasih sudah menjadi Doktor di Universiti Putra Malaysia dengan sapaan itu. Lalu saya jelaskan sapaan yang diberikan diteliti oleh Dr. Media Sandra Kasih adalah sapaan dari ego kita, menyapa seperti ibu, bapak, saudara, kakek, nenek, dan adik. Sementara saya, sapaan itu dalam pembuka percakapan: selamat pagi, assalamualaikum, kama tu surang se mah, jadi lebih ke itu. Tapi Ibuk juga sapaan pak, buk, etek, amak itu masuk tapi ada tambahannya. Bisa kama tu, e rancak bana kini mah, memang sepertinya orang Minang itu terlalu kepo, ingin tahu urusan orang lain, tapi padahal sebenarnya itu adalah basa-basi, bukan ingin tahu sebetulnya,” jelasnya.

Dari hasil penelitannya tersebut, Dr. Aslinda, M.Hum. menemukan hubungan sapaan dengan kesantunan dalam kato nan ampek.

“Tesis saya waktu master yaitu Kato nan Ampek. Lalu di Ph.D ini saya lanjutkan ke sapaan itu tapi hubungannya juga dengan Kato nan Ampek, juga dengan kesantunan berbahasa. Lalu saya di situ menggabungkan kesantunan berbahasa dari Brown Levinson, dan Kato nan Ampek bahasa Minangkabau,” katanya.

Untuk studi kasusnya sendiri, Dr. Aslinda, M.Hum. melakukannya di Unand karena banyak sekali keluhan dari masyarakat mengapa anak muda sekarang kesantunannya sudah kurang.

“Lalu itu yang saya teliti dan saya dapatkan hasil memang sebahagian memang kurang santun dan kesantunan itu sepertinya tidak didasari oleh sapaan itu. Misalnya, pak, buk. Mereka pakai pak, buk juga, seperti ketika saya meneliti membuat questioner di asrama mahasiswa. Pertanyaannya ketika tong sampah tidak ada bagaimana anda bertanya ke pimpinan. Lalu ia menjawab ‘Sarancak iko kampus, tong sampah ciek se indak ado do’, seperti itu. Sangat tidak santun mereka. Jadi memang kadang-kadang kita lihat mereka menggunakan pak juga. ‘Sarancak iko Pak kampus, kama ka dibuang sampah ko Pak?’ Dia menggunakan Pak juga sebagai penanda kesantunan tetapi kalimat yang mengikuti sapaan Pak itu tidak sesuai sebetulnya dengan kesantunan orang Minang,” ia memaparkan sambil memberi contoh datanya.

Hasil yang Dr. Aslinda, M.Hum. dapatkan lagi tentang mahasiswa di Unand, khususnya yang ia teliti yaitu lebih cendrung menggunakan bahasa Indonesia, dan itu di dalam ragam non-formal. Dalam ragam formal memang dipahami katanya mereka harus menggunakan bahasa Indonesia.

Kemudian dari temuan selanjutnya yang lebih tidak setia menggunakan bahasa Minang, bahasa Ibu, itu adalah perempuan. Yang laki-laki masih setia menggunakan bahasa ibunya.

“Perempuan walaupun SMA-nya berasal dari kampung, sampai di universitas, di Teknik waktu itu saya mewawancarai, mereka berbicara dengan kawan mereka menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesianya juga bahasa Indonesia amburadul. Dia tidak mau do. Di situ tampak berprestise. Di situ menganggap sudah pintar, sudah kuliah di Unand, sudah di perguruan tinggi. Kalau dulu-dulu iyalah mereka menjadi orang kampung, masih sekolah di kampung. Tapi saat ini mereka sudah menjadi mahasiswa Unand. Jadi mereka lebih banyak berbangga diri. Dalam budaya Minang, berbangga diri itu tidak baik,” paparnya lagi.

Hasil-hasil temuan itu kata Dr. Aslinda, M.Hum. sudah ia sampaikan juga di RRI satu kali dan TVRI dua kali. Mereka mengundangnya untuk menyampaikan topik bagaimana berbahasa di perguruan tinggi.

Tim Humas: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

 

Read 109 times