Rektor Unand Hadiri Rapat Senat Terbuka Fakultas Ilmu Budaya Andalas Pagi Ini

07 Maret 2017
Senat FIB Unand dan Rektor Unand di Lustrum FIB Unand
Senat FIB Unand dan Rektor Unand di Lustrum ke-7 FIB Unand

FIB—Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas memperingati Lustrum ke-7 atau 35 tahun berdirinya FIB Unand (dahulu Fakultas Sastra) pada hari ini, Selasa, 7 Maret 2017. Bertempat di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya, saat ini sedang diselenggarakan Rapat Senat Terbuka yang dihadiri oleh Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA.

Rektor Universitas Andalas : Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E. M.BA.
Rektor Universitas Andalas : Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E. M.BA.

Sejumlah tamu juga ikut hadir dalam rapat senat ini di antaranya dekan dan wakil dekan di lingkungan Universitas Andalas, alumni, stakeholder, dan mahasiswa. Menurut Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. phil. Gusti Asnan, peringatan Lustrum FIB VII  ini merupakan acara peringatan dan juga acara mawas diri.

"Dalam lustrum ini, akan diadakan berbagai macam iven dalam kurun waktu 1 tahun. Jika balik ke belakang, dalam kurun waktu 6 atau 7 tahun, tidak ada perayaan lustrum atau dies natalis di FIB sebab ada peraturan dari pimpinan demikian. Namun, ternyata dua tahun belakangan, beberapa fakultas lain masih memperingati lustrum ini. Oleh karena itu, hari ini FIB ikut memperingat lustrum fakultas," ujar Prof. phil. Gusti Asnan dalam bincang santai dengan wartawan pada Senin, 6 Maret 2017.

Bagi Dekan FIB, saat ini, usia FIB Unand sudah mencapai 35 tahun dan merupakan usia yang sudah tak muda lagi. "Acara lustrum ini merupakan refleksi dan muhasabah diri tentang apa saja yang harus dibenahi dari FIB itu sendiri. Ke depannya, akan banyak rintangan dan tantangan yang datang di FIB Unand," jelasnya.

Meskipun demikian, Dekan FIB Unand mengungkapkan bahwa ada kado yang diterima fakultas dalam lustrum ini, yaitu tiga prodi sudah mencapai akreditasi A, yaitu Prodi Sastra Jepang, Prodi Sastra Indonesia, dan Prodi Ilmu Sejarah. Sementara itu, Prodi Sastra Inggris dan Prodi Sastra Daerah Minangkabau masih mendapat akreditasi B.

“Satu hal yang menjadi loncatan besar Fakultas Ilmu Budaya ialah Prodi Sastra Jepang mendapat akreditasi A yang sebelumnya terakreditasi. Saya melihat alumni Prodi Sastra Jepang semangat memberikan informasi tentang tempat mereka bekerja sehingga borang program studi mampu mencapai passing yang tinggi,” jelas Dekan FIB Unand.

Prof. Dr. phil Gusti Asnan juga menyatakan bahwa Fakultas Imu Budaya patut bersyukur karena selain akreditasi tiga program studi di FIB yang sudah mencapai A, juga telah diterimanya SK dan dibukanya program studi S2 bidang Ilmu Sastra dan bidang Ilmu Kajian Budaya.

“Fakultas Ilmu Budaya telah memiliki empat program studi S2, yaitu Linguistik, Ilmu Sejarah, Ilmu Sastra, dan Ilmu Kajian Budaya,” ungkap Dekan FIB Unand.

Selain itu, sebuah capaian besar yang telah diraih oleh FIB Unand ialah jumlah mahasiswa yang mencapai 1700 orang pada tahun ini. “Tentunya, dengan passing grade yang ditingkatkan dan persaingan yang semakin ketat untuk masuk ke FIB ini,” jelas Prof. Dr. phil. Gusti Asnan.

Civitas akademika FIB Unand pun pada hari ini telah terdiri atas 111 orang dosen dengan jumlah 23 dosen sudah menyandang gelar doktor dan 83 dosen yang menyandang gelar S2.

Dalam catatan Lustrum VII ini, Dekan FIB Unand masih merasakan keprihatinan terkait penelitian atau jurnal internasional yang sulit dicapai oleh dosen dan mahasiswa FIB. Baginya, hal ini berbanding jauh dengan bidang eksakta yang sangat mudah dicapai oleh dosen, serta dengan kuantitas yang banyak. Dekan FIB Unand mengakui bahwa sivitas akademika maupun mahasiswa FIB masih sedikit yang menulis di jurnal.

Menanggapi keprihatinan dekan ini, Dr. Lindawati, M.Hum., Dosen Prodi Sastra Daerah Minangkabau menyatakan bahwa persoalan  jurnal jangan sampai menjadi indikasi FIB Unand untuk larut dalam keprihatinan. “Kita harus menulis walaupun dalam jurnal yang diwajibkan pemerintah ini ada dampak buruknya dengan sistem kapitalis. Tapi, kita tidak boleh diam, kita juga harus menerbitkan jurnal terakreditasi. Jadikan itu sebagai kewajiban untuk menulis. Yah, walaupun dengan mengajukan akreditasi saja kita harus membayarnya dengan sangat mahal,” ungkapnya.

Tak hanya persoalan, sivitas akademika FIB Unand menyadari masih banyak yang harus dibenahi dari FIB. Di antaranya dibahas lebih lanjut dalam rapat senat terbuka pagi. Dalam rapat senat terbuka ini, Dosen Prodi Sastra Daerah Minangkabau, Dr. Pramono, M.Hum. telah menyampaikan orasi ilmiahnya tentang Syair untuk Syiar.

Tak hanya rapat senat terbuka, Yudhi Andoni, S.S., M.Hum., Ketua Pelaksana Lustrum VII FIB Unand menyatakan bahwa selanjutnya akan ada jalan santai pada 11 Maret 2017 yang digelar pimpinan fakultas bersama dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni. Selanjutnya, pada Juli hingga Oktober 2017, akan diadakan seminar nasional dan internasional, temu alumni, launching 35 buku staf dosen FIB, pengabdian masyarakat berupa bina lingkungan di Nagari Batu Busuak, dan Pekan Budaya dalam rangkaian lustrum FIB ke-7.

“Pada pekan budaya, akan diberikan anugerah kebudayaan kepada personal dan juga komunitas yang berkontribusi dalam dunia kebudayaan di Sumatera Barat,” jelas Yudhi Andoni, S.S., M.A.

 

Reporter: Dini Alvionita, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Read 457 times