Selasa, 14 Maret 2017 08:37

UKM FIB Unand Relair Hadirkan Film Turah di Gedung Kuliah Unand

FIB—Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Relair Cinema kembali mengadakan pemutaran dan diskusi film di Ruang Seminar Gedung I Universitas Andalas. Pada Kamis, 9 Maret 2017, film Turah karya Wicaksono Wisnu Legowo ini diputar.

Pemutaran film ini merupakan kegiatan rutin UKM Relair Cinema yang dinamai dengan Layar Terkembang. Layar Terkemang merupakan ruang apresiasi film yang secara rutin memutar film dari komunitas perfilman, institut seni, dan perguruan tinggi.

Berbeda dengan Layar Terkembang yang biasa diadakan pada malam hari dan tidak dipungut biaya, kali ini penonton baru bisa menikmati film dengan membayar uang masuk minimal sebesar Rp20.000,-. Uang masuk ini tidak sama dengan tiket karena uang masuk ini menunjukkan bahwa penonton telah memberikan donasi untuk mendukung prosuksi film alternatif di Indonesia.

“Kami menggunakan sistem donasi, bukan sistem tiket. Penonton minimal berdonasi sebesar Rp20.000,-. Tiket seperti halnya di bioskop yang hanya memberikan manfaat hiburan, sistem donasi sama dengan edukasi, diskusi, gotong royong, dan pendistribusian film alternatif,” papar Mahareta Iqbal Jamal selaku Direktur Relair Cinema.

Pemutaran film ini terselenggara berkat kerja sama anatara Relair dengan Fourcolofilm. Film yang berdurasi 82 menit ini bercerita tentang sebuah perkampungan yang terletak di Jawa Tengah. Namanya Kampung Tirang. Kampung ini terisolir karena tanpa listrik dengan penduduk yang kurang lebih 15 kepala keluarga miskin, serta hanya mengandalkan Juragan Darso sebagai pemodal.

Turah dalam pengertian katanya ialah sisa atau kalah. Turah adalah kesadaran semu karena masyarakatnya telah menerima kondisi mereka yang miskin tanpa berpikir mereka bisa lebih baik dari itu,” papar Dra. Yunarti, M.Hum., narasumber dalam diskusi tentang Film Turah.

Sementara itu, menurut Muhaimin Nurrizqy, sutradara Wicaksono Wisnu Legowo menghadirkan film dengan teknik kamera yang tidak biasa. “Film ini tidak ada memotong antara frame yang satu dengan frame yang lainnya. Menampilkan long time shoot yang membuat kita berpikir apa sebetulnya yang sedang disuguhkan sutradara,” papar Muhaimin Nurrizqy, pemateri dan juga merupakan anggota Relair Cinema.

Di sisi lain, Film Turah ternyata belum mampu menarik minat penonton untuk  menyaksikan film ini dan bersdiskusi. Jumlah penonton pada saat pemutaran tidak mencapai 20 orang.

“Sikap paling optimis untuk melihat jumlah penonton ini ialah kurang meluasnya informasi sehingga tidak banyak yang tahu akan diadakannya layar terkembang ini. Untuk ke depannya, panitia akan lebih menggencarkan publikasi,” ujar Dra. Yunarti, M.Hum.

Menanggapi hal tersebut, Findo Bramata ini menyatakan bahwa pemutara ini menjadi langkah awal yang baik dalam pemutaran film alternatif. “Untuk langkah awal, semangat kami terbayarkan oleh penonton meskipun hanya sedikit. Sebelumnya, film produksi Relair pernah diputar di Makassar dengan tempat pemutaran yang bagus dan  jumlah penonton hanya 12 orang,“ tutur mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia ini.

Meskipun demikian, keadaan penonton hari ini tidak menciutkan semangat anggota Relair untuk memproduksi, menonton, dan mendistribusikan film alternatif. “Masih ada film seperti ini di Indonesia. Film seperti inilah yang harus kita tonton. Film tidak hanya hollywood dan tidak hanya di bioskop,’’ tutup Muhaimin Nurrizqy.

 

Reporter: Sonia, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Read 586 times