Idrus Sensei, Dosen Sastra Jepang FIB Unand, Raih Penghargaan dari Walikota Saitama, Jepang

20 Maret 2017
Idrus, S.S., M.Hum., mendapat penghargaan dari Kota Saitama, Jepang
Idrus, S.S., M.Hum., mendapat penghargaan dari Kota Saitama, Jepang

FIB—Dosen Jurusan Sastra Jepang FIB Universitas Andalas,  Idrus, S.S., M.Hum., mendapat penghargaan dari Kota Saitama, Jepang. Tepatnya pada 22 Februari 2017, ia meraih penghargaan Honorary Citizen of Saitama City Japanさいたま市国際友好名誉市民(Saitama shi Kokusai Yuukou Meiyo Shiminshou).

Idrus, S.S., M.Hum., Dosen Sastra Jepang FIB Unand.
Idrus, S.S., M.Hum., Dosen Sastra Jepang FIB Unand.

Menurut Idrus, S.S., M.Hum., penghargaan Honorary Citizenship tersebut diberikan kepada orang-orang yang memberikan sumbangsih dalam bidang pendidikan, bahasa, sastra, dan budaya. Penghargaan tersebut juga diberikan kepada seseorang yang mendukung kinerja penduduk kota dalam kegiatan bernilai tinggi untuk kepentingan bangsa atau seluruh umat manusia.

Terkait penghargaan yang diterimanya, Idrus Sensei, panggilan akrab mahasiswa kepada Dosen Sastra Jepang ini, ia mendapatkan penghargaan karena mempelajari bahasa dan budaya Jepang, lalu mengajarkannya di luar negeri sehingga dapat meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai Jepang.

Penghargaan ini langsung diberikan oleh Walikota Saitama dalam rangkaian Long Term Training Program for Foreign Teachers of the Japanese Language yang diselenggarakan pada 6 September 2016 dan berakhir pada 24 Februari 2017 lalu. Pihak penyelenggaranya ialah The Japan Foundation yang sangat mengutamakan pengajar bahasa Jepang dengan syarat utama ketentuan, yaitu telah lulus level 2 uji kemampuan bahasa Jepang.

Hal ini tentunya menjadi sebuah semangat baru bagi Idrus Sensei sebagai pengajar bahasa Jepang di Indonesia. “Saya mengajarkan bahasa Jepang kepada orang asing sejak tahun 2006 melalui program  Long term Training Program for Foreign Teachers of the Japanese Language. Saya diberi kesempatan melihat dan mempelajari metode pengajaran bahasa Jepang terbaru sehingga menjadi salah seorang seorang dosen di FIB Universitas Andalas yang memiliki sertifikat pengajaran bahasa untuk orang asing. Melalui program ini, saya juga melihat lebih dekat berbagai macam bentuk budaya Jepang, seperti Kabuki, Shamisen, Taiko, Rakugo, dan Yabusame sehingga lebih meningkatkan pemahaman akan budaya Jepang. Melihat bagaimana Jepang mempertahankan budayanya, membuat saya jadi semakin mencintai dan menghargai budaya Minang khususnya dan budaya Indonesia umumnya.”

Idrus Sensei menyatakan bahwa ia akan aktif kembali mengajar pada akhir Maret 2017 ini dan akan menerapkan metode pembelajaran yang baru dipelajari pada program tersebut. “Saya berharap kemampuan berbahasa Jepang mahasiswa sastra Jepang FIB Universitas Andalas meningkat setelah berlakunya metode pembelajaran yang saya terapkan. Pada program tersebut, pembelajar bahasa Jepang dapat menggunakan bahasa Jepang pada situasi yang sesungguhnya sehingga bahan ajar yang digunakan dapat berbentuk media visual, seperti manga, anime, dan dorama.”

Lebih lanjut, Idrus Sensei menyatakan bahwa pembelajar bahasa asing, khususnya pembelajar bahasa Jepang, seharusnya sudah semakin tertolong dengan kemajuan tekonologi saat ini yang memudahkan untuk belajar, seperti youtube dan berbagai aplikasi pengajaran bahasa Jepang lainnya.

“Untuk belajar bahasa Jepang, baik di Indonesia maupun di Jepang, pada dasarnya sama. Yang membedakannya hanya lingkungan saja. Di Jepang, lingkungan mendukung. Secara tidak langsung, kita dipaksa untuk melihat tulisan-tulisan berbahasa Jepang. Kita terbiasa untuk mendengar bahasa Jepang secara langsung. Namun pada dasarnya sama, jika kita bersungguh-sungguh, tentu bisa mempelajari bahasa Jepang dengan mudah di Indonesia.”

Idrus Sensei berharap agar para pengajar bahasa Jepang di Indonesia dapat mencari kesempatan untuk ikut dalam pelatihan pengajaran bahasa Jepang untuk orang asing yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation atau kesempatan-kesempatan dari program lain.

Selain mengajar bahasa Jepang, Idrus Sensei juga banyak melakukan penelitian, di antaranya yang paling berkesan adalah mendapatkan hibah penelitian dari Sumitomo Foundation sebanyak 2 kali (2012 dan 2016) dengan dua tim yang yang berbeda, yaitu Sudarmoko dan Fithyani Anwar. Judul penelitian tersebut ialah ‘Perception of Young People in West Sumatra toward Japanese Values and Cultures through Japanese Comics’ dan ‘A Brief Overview of The Japanese Literature Major at Universities in Indonesia’.

Penelitian Idrus Sensei juga telah dipublikasikan dalam berbagai jurnal nasional, di antaranya Metafora Deskripsi Fisik Tokoh Wanita dalam Novel Noruwei no Mori Karya Murakami Haruki  yang dimuat di Jurnal Puitika tahun 2015 dan Pelanggaran Prinsip-Prinsip Kerja Sama pada Iklan Toyota Versi Doraemon-Nobita BBQ yang dimuat di Jurnal Arbitrer tahun 2015.

Hasil penelitian Idrus Sensei juga diseminarkan dalam berbagai seminar internasional. Di antaranya “International Seminar Lexicology and Lexicography Indonesia University” pada tahun 2014 dan “International Seminar SCL on Japanese Language Education and Roles of the The Teacher Universitas Padjadjaran Bandung” pada tahun 2013.

Selain menerima penghargaan serta menulis beberapa penelitian dalam jurnal, Idrus Sensei juga menjadi interpreter bahasa Jepang pada berbagai seminar atau workshop. Di antaranya pada “Seminar Sehari Sinergi Perguruan Tinggi dengan Lembaga Pemerintah dalam Upaya Penyelamatan Naskah Kuno” bertempat di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tahun 2013 dan “Interpreter Bahasa Jepang pada “Workshop Konservasi Naskah Kuno BKSNT” di  Padang pada tahun 2011.  

 

Reporter: Dini Alvionita, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Read 755 times