FIB—Dalam rangka meningkatkan publikasi hasil penelitian dosen, Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. mengadakan lokakarya penulisan ilmiah untuk publikasi di jurnal yang bereputasi, khususnya jurnal internasional.

 

“Klinik ini merupakan program dekan dalam periode 2017—2021. Tujuan diadakan kegiatan ini ialah meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi hasil penelitian dosen FIB di jurnal yang bereputasi,” ujar Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin M.Si.

 

Lebih lanjut, Dekan FIB Unand mengungkapkan bahwa tujuan diadakan klinik jurnal ini ialah untuk meningkatkan jumlah dosen yang berpredikat profesor. “Saat ini dosen yang profesor di FIB baru sekitar 4% dari 107 dosen. Salah satu faktor penghambat untuk menjadi profesor ialah publikasi di jurnal internasional. Untuk itu, perlu diadakan kegiatan seperti ini secara berkala nantinya.”

Lokakarya ini terdiri atas penjelasan materi tentang teknik penulisan artikel di jurnal dan klinik penyuntingan artikel secara intensif. Keduanya difasilitasi oleh Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. dari Universitas Udayana, Bali. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 4—5 Oktober 2017 ini dilaksanakan di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya. “Terhimpun 15 artikel yang masuk dalam klinik penyuntingan. Kita berharap separuh dari artikel tersebut bisa dipublikasi tahun depan,” tambahnya.

Menurut Dr. Hasanuddin, M.Si., menghadirkan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. sebagai fasilitator karena saat ini ia juga menjadi editor jurnal kajian budaya di Bali.

“Beliau mempunyai track record yang bagus dan juga berasal dari bidang yang sama dengan kita, yaitu kajian budaya,” ungkap Dr. Hasanuddin, M.Si.

Dalam penyampaian materinya, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt.  menuturkan bahwa dalam menulis artikel, khususnya yang ditujukan untuk publikasi di jurnal, penting mencari tahu jurnal mana yang akan dituju. “Dalam menulis artikel, pastikan dulu target jurnalnya, baru kemudian menulis. Jangan menulis, kemudian mencari jurnal yang cocok untuk artikel tersebut,” terangnya.

Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. juga menuturkan bahwa dalam menulis artikel perlu diperhatikan perbedaan antara artikel dan ringkasan disertasi. “Jangan menyamakan artikel jurnal dengan disertasi atau tesis. Jika ingin merngubah ke dalam bentuk jurnal, disertasi atau tesis perlu ditulis ulang,” pesannya.

 

Reporter: Sonia, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

FIB—Jurusan Sastra Inggris FIB Unand mengadakan kuliah umum dengan tema “Technology Integration for Teaching and Learning in the 21st Century” pada Senin (23/10/17) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand. Acara ini merupakan rangkaian acara lustrum ke-7 FIB Unand.

Kuliah umum yang menghadirkan Dr. Anuncius Gumawang Jati, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai pembicara ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan guru bahasa Inggris se-Kota Padang. Dra. Lucy Suraiya, M.A., ketua panitia, memberikan sambutan dengan menyatakan bahwa kuliah umum ini bertujuan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi agar pengajar dan pelajar dapat berpikir kritis.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menyampaikan hal yang senada bahwa segala hal, termasuk pendidikan, perlu terus dikritisi. “Persoalan kehidupan perlu dikritisi. Namun, kritis harus dengan tolok ukur sehingga menghasilkan solusi,” ujar Dr. Hasanuddin, M.Si.

Menurut Dr. Anuncius Gumawang Jati, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), pada era digital ini, mau tak mau seorang pengajar haruslah pandai bermain teknologi. “Zaman dahulu tak ada pilihan lain, suka tidak suka dengan penyampaian dosen, mahasiswa harus terus memperhatikan dosennya. Sekarang, jika mahasiswa tidak menyukai penyampaian dosennya, ia akan mengalihkan perhatian pada smartphone. Ini tentu saja tantangan tersendiri bagi seorang dosen,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dr. Anuncius Gumawang Jati menyatakan bahwa jika cara mengajar tidak diubah, siswa atau mahasiswa tidak akan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru atau dosen. “Seorang pengajar harus pandai memilih kata-kata dalam melarang. Jangan sampai menggunakan kata ‘jangan’ karena generasi sekarang semakin dilarang akan semakin dilakukannya,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, Dr. Anuncius Gumawang Jati memberikan materi terkait inovasi yang perlu dilakukan seorang pengajar, baik guru maupun dosen dalam mengajar. Salah satunya dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran.

Menyikapi inovasi tersebut, sejumlah dosen yang menjadi peserta dalam kuliah umum ini pun dibekali dengan workshop pembuatan bahan ajar berbasis teknologi oleh Dr. Anuncius Gumawang Jati. Dengan tema “Technology Integration in ELT Classroom and Beyond”, workshop diselenggarakan di Ruang Diskusi Lantai 3 Perpustakaan Unand pada Selasa, 24 Oktober 2017.

 

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

FIB—Menutup rangkaian lustrum ke-7, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menyelenggarakan pidato kebudayaan bersama Hilmar Farid, Ph.D., Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Republik Indonesia. Dengan tema “Simpul-Simpul Nasionalisme Kultural dan Desakralisasi Keindonesiaan”, pidato kebudayaan ini diselenggarakan di Convention Hall Unand pada Selasa (17/10/2017).

Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM) FIB Unand memulai acara dengan menyuguhkan Tari Pasambahan dan memakaikan roki (pakaian mempelai) kepada Hilmar Farid, Ph.D. Menurut Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si., pemakaian baju adat tersebut merupakan salah satu cara orang Minangkabau menyambut tamu.

Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menyampaikan laporan kegiatan Lustrum FIB ke-7 dengan memaparkan sejarah lahirnya FIB Unand. “Fakultas Ilmu Budaya pada awalnya bernama Fakultas Sastra dan berdiri pada tahun 1982. Pada tahun 2011, Fakultas Sastra berubah nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Dalam usia 35 tahun ini, FIB dapat dikatakan dewasa dan sudah mapan. Dalam agenda ke depannya, FIB Unand akan menguatkan budaya Minang ke seluruh dunia dengan mewujudkan Unand menjadi pusat kebudayaan Minangkabau.”

Lebih lanjut, Dr. Hasanuddin, M.Si. menyatakan bahwa sejak tahun 1960-an, upaya untuk menciptakan Minangkabau World Center ini sudah mengemuka, namun baru dapat direalisasikan mulai saat ini. “Langkah awal sudah tampak sejak Unand sebagai universitas tertua di Sumatera ini membentuk dan mendirikan Pojok Minangkabau atau Minangkabau Corner beberapa tahun silam,” jelasnya.

Minangkabau Corner atau Pojok Minangkabau merupakan satu-satunya pusat Minangkabau yang ada di Indonesia saat ini. Selain sebagai pusat informasi keminangkabauan, berdirinya Minangkabau Corner bertujuan sebagai pusat pengelolaan pengetahuan tradisional. Menurut Dr. Hasanuddin, M.Si., upaya tersebut dilakukan agar sastra dan budaya Minangkabau dapat terus direvitalisasi, dikembangkan, dan dipertahankan agar tidak punah.

Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A. mendukung upaya yang dilakukan oleh FIB Unand karena pihak universitas memang berharap agar semua fakultas di Unand mampu bersaing dengan universitas yang ada di Pulau Jawa.

“Kita harus meningkatkan kualitas meskipun membutuhkan biaya yang besar,” ungkap Rektor Universitas Andalas.

Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Taufik Efendi, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, mengungkapkan bahwa bahasa dan budaya sebuah bangsa memang harus dikembangkan agar peradaban tersebut tetap bertahan.

“Sesungguhnya suatu suku bangsa telah mati apabila bahasa dan budaya suku bangsa tersebut tidak digunakan lagi,” tutur Taufik Efendi berharap agar masyarakat Minangkabau terus melestarikan bahasa dan budaya yang dimiliki.

Dalam pidatonya, Hilmar Farid mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh melupakan dimensi historis karena Indonesia disatukan oleh pergulatan sejarah. “Merawat nation tidak bisa hanya dengan ceramah atau dengan menyanyikan lagu kebangsaan saja. Konkretkanlah bangsa dalam diri dengan membuat riwayat kebangsaan menjadi bagian dari pengalaman pribadi,” tutur Hilmar Farid.

Bagi Hilmar Farid, sebuah kebudayaan akan menjadi kuat jika dijadikan pengalaman pribadi masyarakatnya. Oleh karena, setiap masyarakat Indonesia perlu menyiapkan strategi untuk mengakrabkan diri dengan sejarah dan kebudayaan agar nasionalisme terawat dengan baik.

 

Humas FIB: Lusi Andriani, Ria Febrina, dan Gading Rahmadi

 

PADANG, HARIANHALUAN.COM--Relair Cinema, sebuah unit kegiatan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, akan menggelar Andalas Film Exhibition (AFE) pada 18 November--3 Desember 2017 di Unand. Direktur AFE, Findo Bramata Sandi, menerangkan, AFE merupakan sebuah festival film tingkat nasional yang diikuti oleh sineas dari seluruh Indonesia. 

Findo menjelaskan, pihaknya mengadakan AFE sebagai wadah bagi sineas di seluruh Indonesia, khususnya sineas di Sumatra Barat, untuk mendiskusikan film-film terbaru yang dibuat oleh sineas muda. Dengan mengikuti AFE, peserta diharapkan menemukan referensi baru terhadap film untuk memproduksi film ke depannya. 

"Ini merupakan AFE pertama. AFE pertama ini bertajuk “Denyut Baru”. Rencana ini akan dijadikan festival tahunan dengan tema yang berbeda. Melalui AFE, kami berharap film di Sumbar makin berkembang dan berkualitas, serta muncul sineas-sineas baru," ujarnya di Padang, Selasa (17/10).

AFE 2017, kata Findo, memiliki tiga agenda pokok, yaitu kelas film, simposium nasional, dan pemutaran film. Pada tiap agenda itu, pemateri, yang terdiri dari sineas, kritikus film, dan pegiat film, akan memberikan materi kepada peserta. Pada kelas film, pemateri mengadakan lokakarya film untuk pelajar.

Sementara itu, pada simposium film, pemateri membicarakan perkembangan film dan peluang dalam bersinema ke depannya. Adapun pada pemutaran film, pemateri memutar film peserta AFE yang sudah dikurasi, memutar film Aceh Doc, dan memutar film CLC Purbalingga. 

Findo mengutarakan, AFE menerima film yang dibuat oleh sineas dengan kategori umum dan pelajar. Untuk kategori umum, AFE menerima film yang diproduksi oleh masyarakat umum dan mahasiswa di Indonesia. Sementara itu, untuk kategori pelajar, AFE menerima film yang dibuat oleh pelajar SLTA di Sumatra Barat. 

Untuk mengadakan AFE, kata Findo, Relair Cinema menerima film bergenre fiksi dan dokumenter umum dari sineas di seluruh Indonesia pada 30 Juli--1 Oktober. Beberapa minggu setelah pembukaan penerimaan film, kurang lebih 50 film masuk ke meja panitia. Menjelang sebulan, jumlah film yang masuk bertambah menjadi 80 film. Setelah pendaftaran ditutup, jumlah film masuk semakin meningkat hingga mencapai 117 judul film. Film-film tersebut akan diseleksi menjadi 25 film, yang akan diputar dan didiskusikan pada jadwal AFE. 

"Film-film yang sudah masuk dikirim dari berbagai daerah, antara lain, Padang, Bukittinggi, Makassar, Bali, Yogyakarta, Padang Panjang, Jakarta, Samarinda, Bandung, Pekanbaru, dan daerah lainnya. Film-film bergenre fiksi mendominasi genre film yang masuk. Durasi filmnya rata-rata 15--25 menit," tuturnya. (h/dib) 

 

Sumber : http://harianhaluan.com/news/detail/67136/relair-cinema-unand-gelar-festival-film-nasional

Berdasarkan Kalender Akademik Universitas Andalas Tahun Akademik 2017/2018 bahwa pelaksanaan wisuda IV dilaksanakan tanggal 24 s.d 25 November 2017, sehubungan dengan itu maka perlu dilakukan proses pendaftaran dan validasi data calon wisudawan yang dilakukan tanggal 13 s.d 29 Oktober 2017.

Adapun panduan dan contoh proses pendaftaran dan validasi tersebut sebagai berikut :

1. Panduan Registrasi Wisuda Online unduh disini

2. Petunjuk Upload SAPS unduh disini

3. Panduan Validasi Transkrip Nilai Unduh disini

4. Contoh Validasi Transkrip Nilai unduh disini

Demikaian disampaikan, atas perhatian diucapkan terima kasih.

 

Tertanda

ICT FIB

 

 

 

 

FIB—Setelah sukses menggelar seminar “Perempuan dan Maritim dalam Konteks Sejarah Publik Indonesia” pada Senin (9/10/2017), Jurusan Ilmu Sejarah melanjutkan dengan pemutaran film dokumenter “Rekam Jejak Perusahaan Tambang PT BA-UPO Sawahlunto” dan kuliah umum bersama Hery Sasongko pada Selasa (10/10/2017).

Bertempat di Ruang Seminar FIB Unand, pemutaran film dan kuliah umum ini diawali dengan penandatangan MoU antara FIB dengan CV BW. MoU ditandatangani oleh Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. yang didampingi oleh Ketua Jurusan Sejarah, Dr. Anatona, M.Hum., serta Direktur CV BW Prodata, Zaini Waldani.

Terkait film dokumenter ‘Rekam Jejak Perusahaan Tambang PT BA-UPO Sawahlunto’, film tersebut diproduksi oleh CV BW Prodata. Sejumlah mahasiswa, dosen, dan penikmat film terlibat aktif dalam diskusi film yang menghadirkan Hery Sasongko, dosen muda di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang yang juga merupakan lulusan ISI Yogyakarta.

Film yang berdurasi 30 menit tersebut menceritakan sepak terjang PT BA-UPO dari masa ke masa. Waldani menyatakan bahwa pembuatan film ini didasari oleh adanya rencana penutupan PT BA-UPO pada 2017 ini.

“PT BA-UPO rencananya akan ditutup pada tahun 2017 ini karena tidak ekonomis lagi. Pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan. Oleh karena itulah, kita mencari alternatif membuat sesuatu yang bisa menghasilkan. Alternatif tersebut antara lain dapat berupa pembuatan film dokumenter, pendirian museum, dan perpanjangan izin operasional hingga lima tahun ke depan sebagai opsi terakhir,” ungkap Waldani.

Film tersebut mengisahkan bahwa PT BA-UPO berkali-kali mengalami masa sulit, namun berhasil bangkit kembali. Karena itu, sangat disayangkan jika harus ditutup. PT BA-UPO merupakan salah satu perusahaan besar yang pernah memberi kehidupan bagi masyarakat Indonesia, khususnya Kota Sawahlunto. Memang sangat disayangkan jika harus ditutup. Inilah pesan yang disampaikan film tersebut.

Peserta nonton bersama dan kuliah umum cukup banyak, mulai dari mahasiswa Unand, STKIP PGRI Sumbar, dan UIN Imam Bonjol. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan kuliah umum oleh Hery Sasongko. Ia mengungkapkan bahwa film menjadikan sejarah memiliki tempat untuk eksis.

“Sejarah juga mendapatkan makna sebagai kisah dari peristiwa melalui film. Selain itu, film juga sebagai dokumentasi dan pengarsipan,” tutur Sasongko.

Bagi Hery Sasongko, hal tersebut memberi ruang tersendiri bagi mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah. “Sering kali muncul pertanyaan, akan jadi apa setelah lulus dari Jurusan Sejarah?. Pertanyaan itu terjawab dengan membuat kreativitas dalam menyampaikan sejarah. Salah satunya dengan pembuatan film. Apalagi, pada era teknologi ini, banyak yang lebih senang menonton daripada membaca,” ungkap Hery Sasongko.

Menyambut hal tersebut. Dekan FIB telah mewacanakan adanya sertifikat pendamping ijazah untuk mahasiswa FIB. “Telah ada wacana FIB akan memberikan sertifikat pendamping ijazah kepada mahasiswa. Sertifikat ini nantinya akan memudahkan mahasiswa menuju dunia kerja. Namun, kita tidak sembarangan memberikan sertifikat. Kita akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait guna melakukan uji kompetensi, salah satunya dengan CV BW Prodata untuk mahasiswa yang berminat dalam bidang perfilman atau audio visual,” jelas Dr. Hasanuddin, M.Si., Dekan FIB Unand.

 

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

    

FIB—Jurusan Sejarah FIB Unand mengadakan seminar dengan tema “Perempuan dan Maritim dalam Konteks Sejarah Publik Indonesia” pada Senin (9/10/2017) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand.  Ini kali pertama Jurusan Sejarah mengadakan seminar bekerja sama dengan Lembaga Dapur Kultur. Pada tahun sebelumnya, Lembaga Dapur Kultur mengadakan seminar serupa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unand.

Pada acara ini, juga diadakan penandatanganan MoU antara Lembaga Dapur Kultur dengan Fakultas Ilmu Budaya. MOU ditandatangani oleh Hariyaldi Kurniawan sebagai perwakilan dari Lembaga Dapur Kultur dan Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum., Wakil Dekan III sebagai perwakilan FIB Unand.

Seminar ini menghadirkan tiga orang pembicara, yakni Krisna Murti, seorang seniman alumni ITB; Prof. Dr. phil Gusti Asnan, Guru Besar Jurusan Sejarah FIB Unand; dan Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum., dosen Universitas Negeri Padang. Ketiga pembicara membicarakan tema dengan sisi yang berbeda. Krisna Murti berbicara tentang sejarah dan teknologi, khususnya foto dan video; Gusti Asnan berbicara tentang sejarah maritim dan kreativitas; sementara Siti Fatimah berbicara tentang perempuan dan sejarah maritim sebagai industri wisata.

Krisna Murti dengan kemampuan photoshop-nya menghadirkan kembali tokoh-tokoh yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. Ia juga menjadikan mainan sebagai alternatif dalam menunjang kreativitas. Uniknya, ia menghadirkan tokoh-tokoh tersebut dengan dirinya sendiri sebagai model. Jadilah, Krisna Murti berbagai tokoh wayang, penari perempuan, dan lainnya.

Sementara itu, Gusti Asnan menyatakan bahwa perempuan ialah impian para pelaut. Hal ini kemudian membuat salah seorang peserta seminar, Sri Haryati, berkomentar bahwa jika demikian berarti perempuan ialah korban para pelaut. “Jika memang Anda, sebagai perempuan, merasa sebagai korban, ungkapkanlah. Anda bisa mengungkapkan lewat novel sejarah misalnya. Umumnya, kita mengenal para perompak ialah para lelaki. Khalayak umum banyak yang tidak mengetahui bahwa perempuan juga pernah menjadi perompak. Hal ini tentunya menarik jika diungkapkan melalui novel sejarah,” jelas Gusti Asnan.

Kemudian, Siti Fatimah menyoroti perempuan-perempuan pesisir, lebih khususnya perempuan di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan. “Pada kalangan nelayan, ada yang disebut ‘hari kalam’. Pada hari kalam ini, nelayan tidak melaut. Mereka akan menghabiskan waktu bermain domino atau sabung ayam. Pada waktu inilah, perempuan nelayan berperan. Perempuan-perempuan nelayan di Mandeh akan mencari lokan untuk dijual. Dengan demikian, pada hari kalam, perempuanlah yang berperan dalam perekonomian,” jelas Siti Fatimah.

Seminar yang diadakan di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand ini berjalan lanjar. Peserta yang hadir tidak hanya dari Unand saja, tetapi juga dari berbagai instansi, yakni dari STKIP PGRI Padang, UIN Imam Bonjol, dan ISI Padang Panjang.

 

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

Berdasarkan Kalender Akademik Universitas Andalas Tahun Akademik 2017/2018, bersama ini disampaikan bahwa jadwal Ujian Tengah Semester IUTS) dilaksanakan tanggal 25 September s.d 06 Oktober 2017, untuk mendukung kelancaran pelaksanaa ujian tersebut berikut Surat pengantar dan jadwal Ujian Terlampir.

 

lampiran :

1. Surat Pengantar unduh disini

2. jadwal UTS Semester Ganjil 2017/2018 unduh disini

 

Demikian disampaikan atas perhatian diucapkan terima kasih

 

 

Wakil Dekan I,

 

Dto

 

Dr. Ferdinal, M.A

NIP 196607091992031002

 

 

FIB—Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand), Dr. Hasanuddin, M.Si., menyambut tiga orang pejabat baru FIB Unand yang dilantik oleh Rektor Universitas Andalas pada 31 Agustus 2017 lalu sebagai Wakil Dekan I, II, dan III. Ketiga orang pejabat baru yang disambut itu ialah Dr. Ferdinal, M.A., (Wakil Dekan I), Dr. Rumbardi, M.Sc. (Wakil Dekan II), dan Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum. (Wakil Dekan III). Ketiga pejabat tersebut disambut dalam acara “Serah Terima Teknis Jabatan Wakil Dekan I, II, III Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas” pada Selasa, 3 September 2017, di Ruang Seminar FIB Unand.

Dekan FIB Unand Periode 2013—2017, Prof. Dr. phil. Gusti Asnan, membuka serah terima tersebut dengan mengucapkan selamat kepada pejabat baru FIB Unand. “Pertama-tama, saya, Pak Oktavianus, dan Pak Nopriyasman mengucapkan selamat kepada Bapak Hasanuddin, Bapak Ferdinal, Bapak Rumbardi, dan Ibu Imelda karena terpilih menjadi dekan dan wakil dekan baru FIB Unand. Merujuk kepada statement akhir dari Pak Dekan, saya setuju sekali mengenai kebersamaan yang dibangun di FIB ini. Insha Allah, kebersamaan tersebut dapat dibangun. Saya berharap kebersamaan itu dapat ditonjolkan di samping sikap-sikap dan harapan-harapan yang kita tuju. Yang kedua, saya pribadi dan juga atas nama tim yang lama, mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang telah bekerja sama selama ini bersama kami,” tuturnya.

Wakil Dekan I Periode 2013—2017, Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. juga mengucapkan selamat kepada Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. beserta para wakil yang terpilih menjadi pejabat FIB yang baru. “Sudah menjadi tren di Unand, Wakil Dekan III itu dijabat oleh perempuan. Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dijabat oleh Ibu Era, Wakil Dekan FISIP dijabat oleh perempuan juga, Wakil Dekan Ilmu Keperawatan juga perempuan. Memang jarang sekali perempuan yang menjabat selama ini, kecuali Direktur Pascasarjana yang lama, Ibu Prof. Dr. Nurhayati Hakim. Bagi kita, perubahan ini juga patut diapresiasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. mengucapkan penghargaan yang tinggi dan ucapan terima kasih kepada segenap sivitas akademika Fakultas Ilmu Budaya Unand. “Pada awal saya dilantik sebagai WD I, pada tahun pertama itu, sistem drop out (DO) sudah ketat diberlakukan. Pada saat yang sama, sistem LAD juga dimulai. Artinya, dinamika perkerjaan sangat tinggi sekali. Perlu saya singgung di fakultas mengenai manajemen tim bahwa manajemen tim FIB sangat diapresiasi dan dicontoh oleh fakultas lain. Mengapa demikian? Dekan dan wakil dekan saiyo sakato, sehilir semudik. Jarang-jarang saya lihat di Unand bahwa dekan dan wakil dekan bisa berada dalam satu mobil bersama dan pergi makan bersama,” ungkap Prof. Oktavianus yang berharap agar tradisi tersebut dapat dipertahankan oleh Dekan FIB yang baru beserta jajaran.

Sambutan Dekan dan Wakil Dekan FIB Unand Periode 2013—2017 tersebut menjadi catatan bagi Dekan FIB Unand Periode 2017—2021 agar ke depannya dapat menata FIB dengan kebersamaan yang sama. Selanjutnya, acara serah terima pun dilaksanakan antara pejabat tersebut. Wakil Dekan I yang lama memberikan data arsip kepada Wakil Dekan I yang baru dalam bentuk sebuah laptop dan tab. Penyerahan data dan arsip juga dilakukan oleh Wakil Dekan II lama, Dr. Nopriyasman, M.Hum. kepada Wakil Dekan II yang baru, Dr. Rumbardi, M.Sc.

Sebagai bentuk apresiasi kepada pejabat baru, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Hasanuddin, M.Si. menyerahkan kenang-kenangan kepada Dekan dan Wakil Dekan FIB Periode 2013—2017.  

 

Humas FIB: Rafli Aditya, Ria Febrina, Gading Rahmadi

FIB—Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas periode baru, 2017—2021, Dr. Hasanuddin, M.Si. melantik 73 mahasiswa sebagai wisudawan pada Sabtu (26/8/2017). Mereka berasal dari Program Studi Sastra Jepang sebanyak 32 orang, Program Studi Sejarah dan Sastra Inggris sebanyak 21 orang, Program Studi Sastra Indonesia sebanyak 11 orang, dan Program Studi Sastra Minangkabau sebanyak 9 orang. Di antara para wisudawan tersebut, sebanyak enam orang dinobatkan sebagai bintang aktivis kampus karena pengabdian dan prestasi yang diraih selama mengikuti perkuliahan.

Dekan FIB Unand, Dr. Hassanudin, M.Si., dalam kata sambutan mengungkapkan bahwa di Fakultas Ilmu Budaya untuk tahun mendatang, akan didirikan sebuah lembaga sertifikasi profesi agar setiap mahasiswa yang tamat dapat bekerja sesuai kompetensi yang dimiliki pada sertifikat pendamping ijazah (SPI). Ada sejumlah profesi-profesi tertentu yang bisa dijalani oleh alumni FIB Unand, yakni penerjemah, jurnalistik, editor,  penulis, kritikus, dan aktor.

“Atas restu dari bapak-bapak dan ibu-ibu, kita akan membuat sebuah lembaga sertifikasi profesi agar setelah tamat mahasiswa memiliki sertifikat pemdamping ijazah dengan profesi-profesi tertentu. Hal ini diharapkan dapat terwujud secepatnya,” ungkap Dr. Hasanuddin, M.Si.

Kepada wisudawan tersebut, disampaikan juga bahwa wisudawan bisa melanjutkan studi di FIB. “Untuk calon mahasiswa kami di program studi S-2, kami sudah menyediakan empat jurusan di pascasarjana FIB Unand, yaitu Linguistik, Sejarah, Ilmu Sastra, dan Kajian Budaya. Jika Saudara tidak melanjutkan studi, saya juga percaya bahwa wisudawan/wisudawati tahun ini mertuupakan angkatan potensial untuk terjun ke dunia kerja,” ujar Dekan FIB Unand.

Kepada wisudawan, Dekan FIB Unand mewakili civitas akademika di lingkungan fakultas meminta maaf kepada para wisudawan jika pada saat menempuh pendidikan ada yang merasa tersinggung dan tidak terlayani dengan baik. “Maafkanlah kami. Jikalau ada di antara wisudawan yang berbuat, telah terlebih dahulu kami maafkan, kecuali soal utang-piutang karena hal itu harus diselesaikan dengan pihak yang bersangkutan,” tutur Dekan FIB Unand, Dr. Hassanudin, M.Si.

Lulusan terbaik FIB Unand, Ilvi Rahmi, dari Program Studi Sastra Jepang, mengucapkan syukur dan ucapan terima kasih kepada orang tua dan seluruh dosen yang telah memberikan ilmu kepadanya sehingga dapat meraih IPK tertinggi, yakni 3,70. Ia mengungkapkan ke depannya setiap wisudawan pasti bisa melanjutkan perjuangan, baik akan studi S-2 ataupun bekerja. “Dima bumi dipijak, di situ langik dijunjuang. Dima ado usaho, di situ ado jalan,” ujarnya dalam bahasa Jepang.

Ir. Zulferi, M.Pd., orang tua wisudawan dari Tessa Qurrata Aini mengucapkan selamat kepada wisudawan/wisudawati atas nama seluruh orang tua yang berbahagia pada hari tersebut. “Kami juga mengucapkan selamat kepada Pak Dekan yang baru dilantik. Semoga FIB menjadi lebih maju dari sebelumnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan dan panitia pelaksana yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menyampaikan pembukaan  sebagai wakil dari pada wisudawan. Saya meminta maaf kepada para orang tua karena tidak semuanya bisa saya hubungi untuk menanyakan apa yang ingin disampaikan. Pertama, saya mengucapkan terima kasih kepada dekan dan seluruh jajaran, serta bapak ibu ketua jurusan, termasuk dosen yang mensukseskan proses belajar anak kami. Dalam pengamatan saya, beberapa hal yang menarik di FIB Unand, wisudawan diiringi oleh kesenian Minangkabau. Hal ini tidak saya lihat di fakultas lain. Kemudian, dari segi pelayanan, yang sangat berkesan bagi saya ialah saat bimbingan skripsi, dosen pembimbing sekarang berbeda dengan kami dulu pada tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Dosen pembimbing bisa bisa dihubungi via handphone. Bagi saya, hal tersebut merupakan kemajuan yang sangat membantu anak kami,” ungkap orang tua dari Tessa Qurrata Aini.

Di luar acara pengukuhan wisudawan, wisudawan terbaik FIB Unand, Ilvi Rahmi mengungkapkan bahwa ia memiliki cita-cita untuk menyambung pendidikan S-2. Akan tetapi,  hal tersebut dimungkinkan jika ia mendapat beasiswa. Sementara itu, orang tua wisudawan dari Khairunnisa mengungkapkan bahwa ia melihat nilai lulusan saat ini sangat bagus. “Kalau kita melihat wisuda kali ini, nilai mereka bagus dan rata-rata indeks prestasi mereka tinggi. Hanya saja ketika mendapat pekerjaan, terkadang nilai tidak berhubungan dengan jenis pekerjaan. Mendapatkan pekerjaan pada hari ini menurut saya tergantung rezeki. Ada lulusan terbaik, tapi lama mendapat pekerjaan ataupun mereka bekerja tidak sesuai jurusan,” ungkap Ilya Sofnita, orang tua dari Khairunnisa. Menurutnya, kebijakan Dekan FIB Unand yang akan menyediakan sertifikat pendamping ijazah diharapkan dapat mengatasi hal tersebut.

 

Humas FIB: Rafli Aditya, Ria Febrina, dan Gading Rahmadi