20 November 2017

Untuk melengkapai berkas pengisian LKD Dosen untuk Semester Ganjil 2017 berikut Surat Keputusan Pengangkatan Dosen Tetap dan Dosen Luar Biasa sebagai Pengampu Mata Kuliah Semester Ganjil dan Genap 2016/2017 terlampir

1. Surat Keputusan Pengangkatan Dosen Tetap dan Dosen Luar Biasa sebagai Pengampu Mata Kuliah Semester Ganjil unduh

2. Surat Keputusan Pengangkatan Dosen Tetap dan Dosen Luar Biasa sebagai Pengampu Mata Kuliah Semester Ganjil  unduh

 

Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

 

Wakil Dekan I FIB,

 

Dr. Ferdinal, M.A

NIP 196607091992031002

 

06 November 2017

FIB—Dalam rangka meningkatkan publikasi hasil penelitian dosen, Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. mengadakan lokakarya penulisan ilmiah untuk publikasi di jurnal yang bereputasi, khususnya jurnal internasional.

 

“Klinik ini merupakan program dekan dalam periode 2017—2021. Tujuan diadakan kegiatan ini ialah meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi hasil penelitian dosen FIB di jurnal yang bereputasi,” ujar Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin M.Si.

 

Lebih lanjut, Dekan FIB Unand mengungkapkan bahwa tujuan diadakan klinik jurnal ini ialah untuk meningkatkan jumlah dosen yang berpredikat profesor. “Saat ini dosen yang profesor di FIB baru sekitar 4% dari 107 dosen. Salah satu faktor penghambat untuk menjadi profesor ialah publikasi di jurnal internasional. Untuk itu, perlu diadakan kegiatan seperti ini secara berkala nantinya.”

Lokakarya ini terdiri atas penjelasan materi tentang teknik penulisan artikel di jurnal dan klinik penyuntingan artikel secara intensif. Keduanya difasilitasi oleh Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. dari Universitas Udayana, Bali. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 4—5 Oktober 2017 ini dilaksanakan di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya. “Terhimpun 15 artikel yang masuk dalam klinik penyuntingan. Kita berharap separuh dari artikel tersebut bisa dipublikasi tahun depan,” tambahnya.

Menurut Dr. Hasanuddin, M.Si., menghadirkan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. sebagai fasilitator karena saat ini ia juga menjadi editor jurnal kajian budaya di Bali.

“Beliau mempunyai track record yang bagus dan juga berasal dari bidang yang sama dengan kita, yaitu kajian budaya,” ungkap Dr. Hasanuddin, M.Si.

Dalam penyampaian materinya, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt.  menuturkan bahwa dalam menulis artikel, khususnya yang ditujukan untuk publikasi di jurnal, penting mencari tahu jurnal mana yang akan dituju. “Dalam menulis artikel, pastikan dulu target jurnalnya, baru kemudian menulis. Jangan menulis, kemudian mencari jurnal yang cocok untuk artikel tersebut,” terangnya.

Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. juga menuturkan bahwa dalam menulis artikel perlu diperhatikan perbedaan antara artikel dan ringkasan disertasi. “Jangan menyamakan artikel jurnal dengan disertasi atau tesis. Jika ingin merngubah ke dalam bentuk jurnal, disertasi atau tesis perlu ditulis ulang,” pesannya.

 

Reporter: Sonia, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

25 Oktober 2017

FIB—Jurusan Sastra Inggris FIB Unand mengadakan kuliah umum dengan tema “Technology Integration for Teaching and Learning in the 21st Century” pada Senin (23/10/17) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand. Acara ini merupakan rangkaian acara lustrum ke-7 FIB Unand.

Kuliah umum yang menghadirkan Dr. Anuncius Gumawang Jati, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai pembicara ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan guru bahasa Inggris se-Kota Padang. Dra. Lucy Suraiya, M.A., ketua panitia, memberikan sambutan dengan menyatakan bahwa kuliah umum ini bertujuan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi agar pengajar dan pelajar dapat berpikir kritis.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menyampaikan hal yang senada bahwa segala hal, termasuk pendidikan, perlu terus dikritisi. “Persoalan kehidupan perlu dikritisi. Namun, kritis harus dengan tolok ukur sehingga menghasilkan solusi,” ujar Dr. Hasanuddin, M.Si.

Menurut Dr. Anuncius Gumawang Jati, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), pada era digital ini, mau tak mau seorang pengajar haruslah pandai bermain teknologi. “Zaman dahulu tak ada pilihan lain, suka tidak suka dengan penyampaian dosen, mahasiswa harus terus memperhatikan dosennya. Sekarang, jika mahasiswa tidak menyukai penyampaian dosennya, ia akan mengalihkan perhatian pada smartphone. Ini tentu saja tantangan tersendiri bagi seorang dosen,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dr. Anuncius Gumawang Jati menyatakan bahwa jika cara mengajar tidak diubah, siswa atau mahasiswa tidak akan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru atau dosen. “Seorang pengajar harus pandai memilih kata-kata dalam melarang. Jangan sampai menggunakan kata ‘jangan’ karena generasi sekarang semakin dilarang akan semakin dilakukannya,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, Dr. Anuncius Gumawang Jati memberikan materi terkait inovasi yang perlu dilakukan seorang pengajar, baik guru maupun dosen dalam mengajar. Salah satunya dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran.

Menyikapi inovasi tersebut, sejumlah dosen yang menjadi peserta dalam kuliah umum ini pun dibekali dengan workshop pembuatan bahan ajar berbasis teknologi oleh Dr. Anuncius Gumawang Jati. Dengan tema “Technology Integration in ELT Classroom and Beyond”, workshop diselenggarakan di Ruang Diskusi Lantai 3 Perpustakaan Unand pada Selasa, 24 Oktober 2017.

 

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

20 Oktober 2017

FIB—Menutup rangkaian lustrum ke-7, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menyelenggarakan pidato kebudayaan bersama Hilmar Farid, Ph.D., Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Republik Indonesia. Dengan tema “Simpul-Simpul Nasionalisme Kultural dan Desakralisasi Keindonesiaan”, pidato kebudayaan ini diselenggarakan di Convention Hall Unand pada Selasa (17/10/2017).

Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM) FIB Unand memulai acara dengan menyuguhkan Tari Pasambahan dan memakaikan roki (pakaian mempelai) kepada Hilmar Farid, Ph.D. Menurut Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si., pemakaian baju adat tersebut merupakan salah satu cara orang Minangkabau menyambut tamu.

Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menyampaikan laporan kegiatan Lustrum FIB ke-7 dengan memaparkan sejarah lahirnya FIB Unand. “Fakultas Ilmu Budaya pada awalnya bernama Fakultas Sastra dan berdiri pada tahun 1982. Pada tahun 2011, Fakultas Sastra berubah nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Dalam usia 35 tahun ini, FIB dapat dikatakan dewasa dan sudah mapan. Dalam agenda ke depannya, FIB Unand akan menguatkan budaya Minang ke seluruh dunia dengan mewujudkan Unand menjadi pusat kebudayaan Minangkabau.”

Lebih lanjut, Dr. Hasanuddin, M.Si. menyatakan bahwa sejak tahun 1960-an, upaya untuk menciptakan Minangkabau World Center ini sudah mengemuka, namun baru dapat direalisasikan mulai saat ini. “Langkah awal sudah tampak sejak Unand sebagai universitas tertua di Sumatera ini membentuk dan mendirikan Pojok Minangkabau atau Minangkabau Corner beberapa tahun silam,” jelasnya.

Minangkabau Corner atau Pojok Minangkabau merupakan satu-satunya pusat Minangkabau yang ada di Indonesia saat ini. Selain sebagai pusat informasi keminangkabauan, berdirinya Minangkabau Corner bertujuan sebagai pusat pengelolaan pengetahuan tradisional. Menurut Dr. Hasanuddin, M.Si., upaya tersebut dilakukan agar sastra dan budaya Minangkabau dapat terus direvitalisasi, dikembangkan, dan dipertahankan agar tidak punah.

Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A. mendukung upaya yang dilakukan oleh FIB Unand karena pihak universitas memang berharap agar semua fakultas di Unand mampu bersaing dengan universitas yang ada di Pulau Jawa.

“Kita harus meningkatkan kualitas meskipun membutuhkan biaya yang besar,” ungkap Rektor Universitas Andalas.

Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Taufik Efendi, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, mengungkapkan bahwa bahasa dan budaya sebuah bangsa memang harus dikembangkan agar peradaban tersebut tetap bertahan.

“Sesungguhnya suatu suku bangsa telah mati apabila bahasa dan budaya suku bangsa tersebut tidak digunakan lagi,” tutur Taufik Efendi berharap agar masyarakat Minangkabau terus melestarikan bahasa dan budaya yang dimiliki.

Dalam pidatonya, Hilmar Farid mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh melupakan dimensi historis karena Indonesia disatukan oleh pergulatan sejarah. “Merawat nation tidak bisa hanya dengan ceramah atau dengan menyanyikan lagu kebangsaan saja. Konkretkanlah bangsa dalam diri dengan membuat riwayat kebangsaan menjadi bagian dari pengalaman pribadi,” tutur Hilmar Farid.

Bagi Hilmar Farid, sebuah kebudayaan akan menjadi kuat jika dijadikan pengalaman pribadi masyarakatnya. Oleh karena, setiap masyarakat Indonesia perlu menyiapkan strategi untuk mengakrabkan diri dengan sejarah dan kebudayaan agar nasionalisme terawat dengan baik.

 

Humas FIB: Lusi Andriani, Ria Febrina, dan Gading Rahmadi