19 Oktober 2017

PADANG, HARIANHALUAN.COM--Relair Cinema, sebuah unit kegiatan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, akan menggelar Andalas Film Exhibition (AFE) pada 18 November--3 Desember 2017 di Unand. Direktur AFE, Findo Bramata Sandi, menerangkan, AFE merupakan sebuah festival film tingkat nasional yang diikuti oleh sineas dari seluruh Indonesia. 

Findo menjelaskan, pihaknya mengadakan AFE sebagai wadah bagi sineas di seluruh Indonesia, khususnya sineas di Sumatra Barat, untuk mendiskusikan film-film terbaru yang dibuat oleh sineas muda. Dengan mengikuti AFE, peserta diharapkan menemukan referensi baru terhadap film untuk memproduksi film ke depannya. 

"Ini merupakan AFE pertama. AFE pertama ini bertajuk “Denyut Baru”. Rencana ini akan dijadikan festival tahunan dengan tema yang berbeda. Melalui AFE, kami berharap film di Sumbar makin berkembang dan berkualitas, serta muncul sineas-sineas baru," ujarnya di Padang, Selasa (17/10).

AFE 2017, kata Findo, memiliki tiga agenda pokok, yaitu kelas film, simposium nasional, dan pemutaran film. Pada tiap agenda itu, pemateri, yang terdiri dari sineas, kritikus film, dan pegiat film, akan memberikan materi kepada peserta. Pada kelas film, pemateri mengadakan lokakarya film untuk pelajar.

Sementara itu, pada simposium film, pemateri membicarakan perkembangan film dan peluang dalam bersinema ke depannya. Adapun pada pemutaran film, pemateri memutar film peserta AFE yang sudah dikurasi, memutar film Aceh Doc, dan memutar film CLC Purbalingga. 

Findo mengutarakan, AFE menerima film yang dibuat oleh sineas dengan kategori umum dan pelajar. Untuk kategori umum, AFE menerima film yang diproduksi oleh masyarakat umum dan mahasiswa di Indonesia. Sementara itu, untuk kategori pelajar, AFE menerima film yang dibuat oleh pelajar SLTA di Sumatra Barat. 

Untuk mengadakan AFE, kata Findo, Relair Cinema menerima film bergenre fiksi dan dokumenter umum dari sineas di seluruh Indonesia pada 30 Juli--1 Oktober. Beberapa minggu setelah pembukaan penerimaan film, kurang lebih 50 film masuk ke meja panitia. Menjelang sebulan, jumlah film yang masuk bertambah menjadi 80 film. Setelah pendaftaran ditutup, jumlah film masuk semakin meningkat hingga mencapai 117 judul film. Film-film tersebut akan diseleksi menjadi 25 film, yang akan diputar dan didiskusikan pada jadwal AFE. 

"Film-film yang sudah masuk dikirim dari berbagai daerah, antara lain, Padang, Bukittinggi, Makassar, Bali, Yogyakarta, Padang Panjang, Jakarta, Samarinda, Bandung, Pekanbaru, dan daerah lainnya. Film-film bergenre fiksi mendominasi genre film yang masuk. Durasi filmnya rata-rata 15--25 menit," tuturnya. (h/dib) 

 

Sumber : http://harianhaluan.com/news/detail/67136/relair-cinema-unand-gelar-festival-film-nasional

13 Oktober 2017

Berdasarkan Kalender Akademik Universitas Andalas Tahun Akademik 2017/2018 bahwa pelaksanaan wisuda IV dilaksanakan tanggal 24 s.d 25 November 2017, sehubungan dengan itu maka perlu dilakukan proses pendaftaran dan validasi data calon wisudawan yang dilakukan tanggal 13 s.d 29 Oktober 2017.

Adapun panduan dan contoh proses pendaftaran dan validasi tersebut sebagai berikut :

1. Panduan Registrasi Wisuda Online unduh disini

2. Petunjuk Upload SAPS unduh disini

3. Panduan Validasi Transkrip Nilai Unduh disini

4. Contoh Validasi Transkrip Nilai unduh disini

Demikaian disampaikan, atas perhatian diucapkan terima kasih.

 

Tertanda

ICT FIB

 

 

 

 

12 Oktober 2017

FIB—Setelah sukses menggelar seminar “Perempuan dan Maritim dalam Konteks Sejarah Publik Indonesia” pada Senin (9/10/2017), Jurusan Ilmu Sejarah melanjutkan dengan pemutaran film dokumenter “Rekam Jejak Perusahaan Tambang PT BA-UPO Sawahlunto” dan kuliah umum bersama Hery Sasongko pada Selasa (10/10/2017).

Bertempat di Ruang Seminar FIB Unand, pemutaran film dan kuliah umum ini diawali dengan penandatangan MoU antara FIB dengan CV BW. MoU ditandatangani oleh Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. yang didampingi oleh Ketua Jurusan Sejarah, Dr. Anatona, M.Hum., serta Direktur CV BW Prodata, Zaini Waldani.

Terkait film dokumenter ‘Rekam Jejak Perusahaan Tambang PT BA-UPO Sawahlunto’, film tersebut diproduksi oleh CV BW Prodata. Sejumlah mahasiswa, dosen, dan penikmat film terlibat aktif dalam diskusi film yang menghadirkan Hery Sasongko, dosen muda di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang yang juga merupakan lulusan ISI Yogyakarta.

Film yang berdurasi 30 menit tersebut menceritakan sepak terjang PT BA-UPO dari masa ke masa. Waldani menyatakan bahwa pembuatan film ini didasari oleh adanya rencana penutupan PT BA-UPO pada 2017 ini.

“PT BA-UPO rencananya akan ditutup pada tahun 2017 ini karena tidak ekonomis lagi. Pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan. Oleh karena itulah, kita mencari alternatif membuat sesuatu yang bisa menghasilkan. Alternatif tersebut antara lain dapat berupa pembuatan film dokumenter, pendirian museum, dan perpanjangan izin operasional hingga lima tahun ke depan sebagai opsi terakhir,” ungkap Waldani.

Film tersebut mengisahkan bahwa PT BA-UPO berkali-kali mengalami masa sulit, namun berhasil bangkit kembali. Karena itu, sangat disayangkan jika harus ditutup. PT BA-UPO merupakan salah satu perusahaan besar yang pernah memberi kehidupan bagi masyarakat Indonesia, khususnya Kota Sawahlunto. Memang sangat disayangkan jika harus ditutup. Inilah pesan yang disampaikan film tersebut.

Peserta nonton bersama dan kuliah umum cukup banyak, mulai dari mahasiswa Unand, STKIP PGRI Sumbar, dan UIN Imam Bonjol. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan kuliah umum oleh Hery Sasongko. Ia mengungkapkan bahwa film menjadikan sejarah memiliki tempat untuk eksis.

“Sejarah juga mendapatkan makna sebagai kisah dari peristiwa melalui film. Selain itu, film juga sebagai dokumentasi dan pengarsipan,” tutur Sasongko.

Bagi Hery Sasongko, hal tersebut memberi ruang tersendiri bagi mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah. “Sering kali muncul pertanyaan, akan jadi apa setelah lulus dari Jurusan Sejarah?. Pertanyaan itu terjawab dengan membuat kreativitas dalam menyampaikan sejarah. Salah satunya dengan pembuatan film. Apalagi, pada era teknologi ini, banyak yang lebih senang menonton daripada membaca,” ungkap Hery Sasongko.

Menyambut hal tersebut. Dekan FIB telah mewacanakan adanya sertifikat pendamping ijazah untuk mahasiswa FIB. “Telah ada wacana FIB akan memberikan sertifikat pendamping ijazah kepada mahasiswa. Sertifikat ini nantinya akan memudahkan mahasiswa menuju dunia kerja. Namun, kita tidak sembarangan memberikan sertifikat. Kita akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait guna melakukan uji kompetensi, salah satunya dengan CV BW Prodata untuk mahasiswa yang berminat dalam bidang perfilman atau audio visual,” jelas Dr. Hasanuddin, M.Si., Dekan FIB Unand.

 

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

    

10 Oktober 2017

FIB—Jurusan Sejarah FIB Unand mengadakan seminar dengan tema “Perempuan dan Maritim dalam Konteks Sejarah Publik Indonesia” pada Senin (9/10/2017) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand.  Ini kali pertama Jurusan Sejarah mengadakan seminar bekerja sama dengan Lembaga Dapur Kultur. Pada tahun sebelumnya, Lembaga Dapur Kultur mengadakan seminar serupa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unand.

Pada acara ini, juga diadakan penandatanganan MoU antara Lembaga Dapur Kultur dengan Fakultas Ilmu Budaya. MOU ditandatangani oleh Hariyaldi Kurniawan sebagai perwakilan dari Lembaga Dapur Kultur dan Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum., Wakil Dekan III sebagai perwakilan FIB Unand.

Seminar ini menghadirkan tiga orang pembicara, yakni Krisna Murti, seorang seniman alumni ITB; Prof. Dr. phil Gusti Asnan, Guru Besar Jurusan Sejarah FIB Unand; dan Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum., dosen Universitas Negeri Padang. Ketiga pembicara membicarakan tema dengan sisi yang berbeda. Krisna Murti berbicara tentang sejarah dan teknologi, khususnya foto dan video; Gusti Asnan berbicara tentang sejarah maritim dan kreativitas; sementara Siti Fatimah berbicara tentang perempuan dan sejarah maritim sebagai industri wisata.

Krisna Murti dengan kemampuan photoshop-nya menghadirkan kembali tokoh-tokoh yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. Ia juga menjadikan mainan sebagai alternatif dalam menunjang kreativitas. Uniknya, ia menghadirkan tokoh-tokoh tersebut dengan dirinya sendiri sebagai model. Jadilah, Krisna Murti berbagai tokoh wayang, penari perempuan, dan lainnya.

Sementara itu, Gusti Asnan menyatakan bahwa perempuan ialah impian para pelaut. Hal ini kemudian membuat salah seorang peserta seminar, Sri Haryati, berkomentar bahwa jika demikian berarti perempuan ialah korban para pelaut. “Jika memang Anda, sebagai perempuan, merasa sebagai korban, ungkapkanlah. Anda bisa mengungkapkan lewat novel sejarah misalnya. Umumnya, kita mengenal para perompak ialah para lelaki. Khalayak umum banyak yang tidak mengetahui bahwa perempuan juga pernah menjadi perompak. Hal ini tentunya menarik jika diungkapkan melalui novel sejarah,” jelas Gusti Asnan.

Kemudian, Siti Fatimah menyoroti perempuan-perempuan pesisir, lebih khususnya perempuan di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan. “Pada kalangan nelayan, ada yang disebut ‘hari kalam’. Pada hari kalam ini, nelayan tidak melaut. Mereka akan menghabiskan waktu bermain domino atau sabung ayam. Pada waktu inilah, perempuan nelayan berperan. Perempuan-perempuan nelayan di Mandeh akan mencari lokan untuk dijual. Dengan demikian, pada hari kalam, perempuanlah yang berperan dalam perekonomian,” jelas Siti Fatimah.

Seminar yang diadakan di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand ini berjalan lanjar. Peserta yang hadir tidak hanya dari Unand saja, tetapi juga dari berbagai instansi, yakni dari STKIP PGRI Padang, UIN Imam Bonjol, dan ISI Padang Panjang.

 

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi