Items filtered by date: Oktober 2017
25 Oktober 2017 In Berita

FIB—Jurusan Sastra Inggris FIB Unand mengadakan kuliah umum dengan tema “Technology Integration for Teaching and Learning in the 21st Century” pada Senin (23/10/17) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand. Acara ini merupakan rangkaian acara lustrum ke-7 FIB Unand.

Kuliah umum yang menghadirkan Dr. Anuncius Gumawang Jati, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai pembicara ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan guru bahasa Inggris se-Kota Padang. Dra. Lucy Suraiya, M.A., ketua panitia, memberikan sambutan dengan menyatakan bahwa kuliah umum ini bertujuan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi agar pengajar dan pelajar dapat berpikir kritis.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menyampaikan hal yang senada bahwa segala hal, termasuk pendidikan, perlu terus dikritisi. “Persoalan kehidupan perlu dikritisi. Namun, kritis harus dengan tolok ukur sehingga menghasilkan solusi,” ujar Dr. Hasanuddin, M.Si.

Menurut Dr. Anuncius Gumawang Jati, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), pada era digital ini, mau tak mau seorang pengajar haruslah pandai bermain teknologi. “Zaman dahulu tak ada pilihan lain, suka tidak suka dengan penyampaian dosen, mahasiswa harus terus memperhatikan dosennya. Sekarang, jika mahasiswa tidak menyukai penyampaian dosennya, ia akan mengalihkan perhatian pada smartphone. Ini tentu saja tantangan tersendiri bagi seorang dosen,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dr. Anuncius Gumawang Jati menyatakan bahwa jika cara mengajar tidak diubah, siswa atau mahasiswa tidak akan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru atau dosen. “Seorang pengajar harus pandai memilih kata-kata dalam melarang. Jangan sampai menggunakan kata ‘jangan’ karena generasi sekarang semakin dilarang akan semakin dilakukannya,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, Dr. Anuncius Gumawang Jati memberikan materi terkait inovasi yang perlu dilakukan seorang pengajar, baik guru maupun dosen dalam mengajar. Salah satunya dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran.

Menyikapi inovasi tersebut, sejumlah dosen yang menjadi peserta dalam kuliah umum ini pun dibekali dengan workshop pembuatan bahan ajar berbasis teknologi oleh Dr. Anuncius Gumawang Jati. Dengan tema “Technology Integration in ELT Classroom and Beyond”, workshop diselenggarakan di Ruang Diskusi Lantai 3 Perpustakaan Unand pada Selasa, 24 Oktober 2017.

 

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

20 Oktober 2017 In Berita

FIB—Menutup rangkaian lustrum ke-7, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menyelenggarakan pidato kebudayaan bersama Hilmar Farid, Ph.D., Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Republik Indonesia. Dengan tema “Simpul-Simpul Nasionalisme Kultural dan Desakralisasi Keindonesiaan”, pidato kebudayaan ini diselenggarakan di Convention Hall Unand pada Selasa (17/10/2017).

Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM) FIB Unand memulai acara dengan menyuguhkan Tari Pasambahan dan memakaikan roki (pakaian mempelai) kepada Hilmar Farid, Ph.D. Menurut Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si., pemakaian baju adat tersebut merupakan salah satu cara orang Minangkabau menyambut tamu.

Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menyampaikan laporan kegiatan Lustrum FIB ke-7 dengan memaparkan sejarah lahirnya FIB Unand. “Fakultas Ilmu Budaya pada awalnya bernama Fakultas Sastra dan berdiri pada tahun 1982. Pada tahun 2011, Fakultas Sastra berubah nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Dalam usia 35 tahun ini, FIB dapat dikatakan dewasa dan sudah mapan. Dalam agenda ke depannya, FIB Unand akan menguatkan budaya Minang ke seluruh dunia dengan mewujudkan Unand menjadi pusat kebudayaan Minangkabau.”

Lebih lanjut, Dr. Hasanuddin, M.Si. menyatakan bahwa sejak tahun 1960-an, upaya untuk menciptakan Minangkabau World Center ini sudah mengemuka, namun baru dapat direalisasikan mulai saat ini. “Langkah awal sudah tampak sejak Unand sebagai universitas tertua di Sumatera ini membentuk dan mendirikan Pojok Minangkabau atau Minangkabau Corner beberapa tahun silam,” jelasnya.

Minangkabau Corner atau Pojok Minangkabau merupakan satu-satunya pusat Minangkabau yang ada di Indonesia saat ini. Selain sebagai pusat informasi keminangkabauan, berdirinya Minangkabau Corner bertujuan sebagai pusat pengelolaan pengetahuan tradisional. Menurut Dr. Hasanuddin, M.Si., upaya tersebut dilakukan agar sastra dan budaya Minangkabau dapat terus direvitalisasi, dikembangkan, dan dipertahankan agar tidak punah.

Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A. mendukung upaya yang dilakukan oleh FIB Unand karena pihak universitas memang berharap agar semua fakultas di Unand mampu bersaing dengan universitas yang ada di Pulau Jawa.

“Kita harus meningkatkan kualitas meskipun membutuhkan biaya yang besar,” ungkap Rektor Universitas Andalas.

Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Taufik Efendi, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, mengungkapkan bahwa bahasa dan budaya sebuah bangsa memang harus dikembangkan agar peradaban tersebut tetap bertahan.

“Sesungguhnya suatu suku bangsa telah mati apabila bahasa dan budaya suku bangsa tersebut tidak digunakan lagi,” tutur Taufik Efendi berharap agar masyarakat Minangkabau terus melestarikan bahasa dan budaya yang dimiliki.

Dalam pidatonya, Hilmar Farid mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh melupakan dimensi historis karena Indonesia disatukan oleh pergulatan sejarah. “Merawat nation tidak bisa hanya dengan ceramah atau dengan menyanyikan lagu kebangsaan saja. Konkretkanlah bangsa dalam diri dengan membuat riwayat kebangsaan menjadi bagian dari pengalaman pribadi,” tutur Hilmar Farid.

Bagi Hilmar Farid, sebuah kebudayaan akan menjadi kuat jika dijadikan pengalaman pribadi masyarakatnya. Oleh karena, setiap masyarakat Indonesia perlu menyiapkan strategi untuk mengakrabkan diri dengan sejarah dan kebudayaan agar nasionalisme terawat dengan baik.

 

Humas FIB: Lusi Andriani, Ria Febrina, dan Gading Rahmadi

 

19 Oktober 2017 In Berita

PADANG, HARIANHALUAN.COM--Relair Cinema, sebuah unit kegiatan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, akan menggelar Andalas Film Exhibition (AFE) pada 18 November--3 Desember 2017 di Unand. Direktur AFE, Findo Bramata Sandi, menerangkan, AFE merupakan sebuah festival film tingkat nasional yang diikuti oleh sineas dari seluruh Indonesia. 

Findo menjelaskan, pihaknya mengadakan AFE sebagai wadah bagi sineas di seluruh Indonesia, khususnya sineas di Sumatra Barat, untuk mendiskusikan film-film terbaru yang dibuat oleh sineas muda. Dengan mengikuti AFE, peserta diharapkan menemukan referensi baru terhadap film untuk memproduksi film ke depannya. 

"Ini merupakan AFE pertama. AFE pertama ini bertajuk “Denyut Baru”. Rencana ini akan dijadikan festival tahunan dengan tema yang berbeda. Melalui AFE, kami berharap film di Sumbar makin berkembang dan berkualitas, serta muncul sineas-sineas baru," ujarnya di Padang, Selasa (17/10).

AFE 2017, kata Findo, memiliki tiga agenda pokok, yaitu kelas film, simposium nasional, dan pemutaran film. Pada tiap agenda itu, pemateri, yang terdiri dari sineas, kritikus film, dan pegiat film, akan memberikan materi kepada peserta. Pada kelas film, pemateri mengadakan lokakarya film untuk pelajar.

Sementara itu, pada simposium film, pemateri membicarakan perkembangan film dan peluang dalam bersinema ke depannya. Adapun pada pemutaran film, pemateri memutar film peserta AFE yang sudah dikurasi, memutar film Aceh Doc, dan memutar film CLC Purbalingga. 

Findo mengutarakan, AFE menerima film yang dibuat oleh sineas dengan kategori umum dan pelajar. Untuk kategori umum, AFE menerima film yang diproduksi oleh masyarakat umum dan mahasiswa di Indonesia. Sementara itu, untuk kategori pelajar, AFE menerima film yang dibuat oleh pelajar SLTA di Sumatra Barat. 

Untuk mengadakan AFE, kata Findo, Relair Cinema menerima film bergenre fiksi dan dokumenter umum dari sineas di seluruh Indonesia pada 30 Juli--1 Oktober. Beberapa minggu setelah pembukaan penerimaan film, kurang lebih 50 film masuk ke meja panitia. Menjelang sebulan, jumlah film yang masuk bertambah menjadi 80 film. Setelah pendaftaran ditutup, jumlah film masuk semakin meningkat hingga mencapai 117 judul film. Film-film tersebut akan diseleksi menjadi 25 film, yang akan diputar dan didiskusikan pada jadwal AFE. 

"Film-film yang sudah masuk dikirim dari berbagai daerah, antara lain, Padang, Bukittinggi, Makassar, Bali, Yogyakarta, Padang Panjang, Jakarta, Samarinda, Bandung, Pekanbaru, dan daerah lainnya. Film-film bergenre fiksi mendominasi genre film yang masuk. Durasi filmnya rata-rata 15--25 menit," tuturnya. (h/dib) 

 

Sumber : http://harianhaluan.com/news/detail/67136/relair-cinema-unand-gelar-festival-film-nasional

13 Oktober 2017 In Berita

Berdasarkan Kalender Akademik Universitas Andalas Tahun Akademik 2017/2018 bahwa pelaksanaan wisuda IV dilaksanakan tanggal 24 s.d 25 November 2017, sehubungan dengan itu maka perlu dilakukan proses pendaftaran dan validasi data calon wisudawan yang dilakukan tanggal 13 s.d 29 Oktober 2017.

Adapun panduan dan contoh proses pendaftaran dan validasi tersebut sebagai berikut :

1. Panduan Registrasi Wisuda Online unduh disini

2. Petunjuk Upload SAPS unduh disini

3. Panduan Validasi Transkrip Nilai Unduh disini

4. Contoh Validasi Transkrip Nilai unduh disini

Demikaian disampaikan, atas perhatian diucapkan terima kasih.

 

Tertanda

ICT FIB