Items filtered by date: April 2017
28 April 2017 In Berita

FIB—Labor Penulisan Kreatif (LPK) mengadakan workshop kepenulisan pada Jumat dan Sabtu (14—15 April 2017). Sekitar 20 orang peserta dari berbagai jurusan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas mengikuti workshop yang diselenggarakan dalam rangka perekrutan anggota baru. Dalam melatih minat peserta LPK, dihadirkan empat orang pemateri, yaitu Dr. Ivan Adilla, Pinto Anugrah, Ramoun Apta, dan S. Metron Masdison.

Di kafe Uniang Kamek, peserta diberikan materi tentang kepenulisan. Lalu, mereka langsung mempraktikkan dengan cara menulis esai, cerpen, atau puisi. Setelah peserta menulis, pemateri melakukan evaluasi terkait tulisan peserta tersebut.  

Pada hari pertama, kegiatan dimulai dengan sharing tentang kepenulisan dari pemateri dari Dr. Ivan Adila, M.Hum. Ia menceritakan pengalamannya ketika masih kuliah. Dia berpikir bahwa menulis dapat memberikan banyak peluang. Ia mencari peluang yang besar, lalu mulai menulis cerita rakyat, cerita pendek, dan esai.

“Saya terharu jika mengingat-ingat ketika anak saya melihat tulisan bapaknya di koran. Dia bilang, ini papa saya. Dia bangga dan senang sekali. Ketika itu, usianya masih delapan tahun,” ujar Dr. Ivan Adilla berbagi pengalaman menulis.

Bagi Dr. Ivan Adilla, menulis dapat menyalurkan emosi. “Menulis haruslah dalam suasana yang enak. Dalam suasana marah, kita tidak bisa menulis,” ujarnya kemudian.

Dr. Ivan Adilla memperkenalkan cara menemukan ide, menulis, dan mengevaluai tulisan. Selain itu, peserta workshop juga diberikan arahan mengenai strategi kepenulisan. Dr. Ivan Adilla menuturkan bahwa pekerjaan menulis juga membutuhkan strategi.

“Seorang penulis harus mempunyai strategi, misalnya melihat dan mempelajari kecendrungan suatu media hingga ideologi media tersebut. Kemudian, kecenderungan tersebut dijadikan panduan dalam menulis,” ujar Dr. Ivan Adilla.

Lebih lanjut, Dr. Ivan Adilla juga menjelaskan strategi dalam menerbitkan karya. “Kita perlu melihat kekosongon atau celah yang memungkinkan untuk diisi. Misalnya, di sebuah koran, tidak banyak yang menulis tentang cerita anak atau esai. Yang harus kita lakukan ialah menulis salah satunya,” paparnya.

Tidak hanya memperoleh materi, peserta juga melakukan observasi dengan berjalan kaki dari FIB menuju panorama Fakultas Teknik melalui jalan lingkar selatan Unand, melewati gedung pascasarjana, dan kembali ke FIB. Observasi ini merupakan metode menulis melalui pengamatan yang diajarkan oleh Pinto Anugrah, S.S. M A.

“Observasi merupakan pijakan dari lahirnya sebuah karya. Dari observasi yang merupakan pengalaman empirislah, kemudian penulis bisa berimajinasi,” ungkap Pinto Anugrah, penulis sekaligus alumni Jurusan Sastra Indonesia.

Terkait pengalaman menulisnya, Pinto Anugerah mengungkapkan bahwa ia biasanya mulai menulis ketika subuh hingga pukul 8 pagi, dan membaca dilakukan pada malam hari dari pukul 10 hingga tertidur.

“Setiap orang punya kebiasan berbeda. Intinya, masing-masing orang punya waktu nyamannya sendiri. Salah satu upaya, yaitu mendirikan sebuah rumah kepenulisan. Tujuannya hanya untuk ketekunan menulis.  Kandang Pandati, misalnya. Menurut saya, jika kita sudah masuk dalam sebuah bidang jangan lakukan setengah-setengah, totalitaslah. Saya percaya bahwa menulis itu merupakan 90 persen bagian dari studi dan 10 persen bagian dari bakat,” ungkap Pinto Anugrah.

S. Metron Masdison, pemateri selanjutnya yang juga merupakan alumni Jurusan Sastra Indonesia menceritakan pengalaman sejumlah penulis Indonesia yang tak asing bagi mahasiswa sastra.

“Habis bangun, ya langsung menulis. Seno, dia menulis sekali duduk dan langsung menulis 1000 kalimat. Putu wijaya, kabarnya, di samping mobilnya, terdapat mesin tik. Jika dia terkena macet, dia akan menulis. Jika dia ada bahan menulis, dia akan segera menulis. Saya tidak percaya bakat yang ada hanya kerja keras dan ikrar. Menulis itu tidak ada panduannya. Orang yang suka menulis, tetapi tidak suka baca, sama dengan orang yang tidak makan, tetapi buang air. Saya sangat salut dengan Gus tf. Ia betul-betul bekerja sebagai penulis seperti orang kantoran. Menulis itu butuh kerja rutin dan konsisten. Selain itu, harus menyisakan waktu untuk menulis dan membaca. Terlebih lagi, kita jangan menulis karena  melihat dari honor. Itu hanya soal bonus.”

Setelah S. Metron memaparkan kisah-kisah kepenulisan para pemateri dan para sastrawan, peserta diberi materi menulis dengan menggunakan teknik musik. Baginya, musik didengarkan, lalu para peserta mulai menulis berdasarkan musik yang telah didengar tersebut.

Pada hari kedua, para peserta dan pemateri berjalan di sekitar kampus untuk mengasah ketajaman panca indra dan olahrasa. Setelah itu, para peserta menuliskan tentang apa yang mereka lihat selama dalam perjalanan.

Setelah dua hari mengikuti workshop, Sabrina Fadilah, salah seorang peserta workshop mengaku mendapatkan banyak materi, ilmu, dan arahan dari empat orang pemateri. “Saya mendapatkan banyak ilmu seputar dunia kepenulisan. Salah satu materi yang berkesan ialah observasi sebab kita tidak hanya diajarkan mengandalkan daya ingat, namun juga pengamatan,” ungkapnya.

Pada akhir acara workshop, para peserta yang aktif dan paling sering menjawab pertanyaan, diberi hadiah berupa buku oleh panitia. Para peserta menerima sejumlah buku dengan genre yang berbeda agar mampu dijadikan bahan untuk menulis. Mereka ialah Melia Roza, Suci, dan Defina.

Setelah workshop, para peserta pun secara resmi menjadi anggota aktif di LPK dan akan memulai kegiatan yang berlangsung di LPK untuk seterusnya.

 

Reporter: Dini Alvionita dan Sonia, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi

27 April 2017 In Berita
Dari kiri : Dr. Hasanuddin, M.Si (Dekan terpilih periode 2017-2022), Prof. Dr. Herwandi, M. Hum, Dr. Rina Marnita, MA.

FIB—Dr. Hasanuddin, M.Si., terpilih sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Periode 2017—2021. Dalam rapat pemilihan senat fakultas yang diadakan di Ruang Seminar FIB Unand pada Rabu, 25 April 2017, Dr. Hasanuddin berhasil meraih suara terbanyak, yakni 13 suara. Sementara calon dekan lainnya, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. berada pada urutan kedua dan meraih sebanyak 8 suara, serta Dr. Rina Marnita, M.Hum. berada pada urutan ketiga dan meraih sebanyak 5 suara.

Perolehan suara tersebut berbanding terbalik dengan perolehan suara pada rapat forum dosen yang diadakan pada Senin, 17 April 2017 lalu. Pada pemilihan tersebut, suara terbanyak diraih oleh Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., lalu diikuti oleh Dr. Rina Marnita, M.Hum., dan Dr. Hasanuddin, M.Si. (Baca juga link http://fib.unand.ac.id/index.php?option=com_k2&view=item&id=110:prof-herwandi-peroleh-suara-terbanyak-dalam-pemilihan-calon-dekan-fib-unand-periode-2017-2021&Itemid=303)

Meskipun berbanding terbalik, terpilihnya Dr. Hasanuddin, M.Si. sebagai Dekan FIB Unand periode 2017—2021 menunjukkan bahwa proses pemihan dekan telah berlangsung sesuai dengan Peraturan Senat FIB Unand No. 01 Tahun 2017 tanggal 16 Februari 2017. Dalam peraturan tersebut, dinyatakan bahwa seorang dekan dipilih berdasarkan suara terbanyak melalui rapat senat terbuka. Jika calon dekan lebih dari tiga, pemilihan harus dilakukan melalui dua tahap, yaitu melalui rapat forum dosen dan rapat senat terbuka.

Dr. Hasanuddin, M.Si.
Dekan terpilih periode 2017-2022 Dr. Hasanuddin, M.Si.

Sejak pemilihan calon dekan melalui rapat forum dosen, Dr. Hasanuddin telah mengungkapkan bahwa ia bertekad untuk mewujudkan Fakultas Ilmu Budaya sebagai fakultas yang dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Ia menyatakan bahwa keadaan FIB Unand selama empat tahun ke depan harus memiliki identitas yang kuat dan memberi manfaat kepada masyarakat luas. “Ibarat sebuah pohon, FIB tidak hanya menjadi pohon yang rindang, melainkan harus menjadi pohon yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,” ungkap Dr. Hasanuddin, M.Si.

Dr. Hasanuddin, M.Si. yang saat ini sedang menjabat sebagai wakil dekan bidang kemahasiswaan FIB periode 2013—2017 menyatakan secara khusus melalui wawancara dengan tim redaksi website fakultas (Kamis, 13/4/2017), ia akan memberikan perubahan yang lebih baik jika terpilih menjadi dekan.

“Saya telah menyampaikan permasalahan yang ada di fakultas. Sebagai dekan terpilih, saya juga akan menampung semua pendapat dan niat calon dekan yang tidak terpilih. Terpilihnya saya, ini merupakan suatu hal yang berat dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan nantinya. Tentunya, saya perlu dukungan dari berbagai pihak,” ungkapnya.

Dra. Efri Yades, Dosen Jurusan Sastra Indonesia mengungkapkan bahwa terpilihnya Dr. Hasanuddin, M.Si. untuk periode selanjutnya diharapkan dapat memimpin FIB lebih baik. Setiap persoalan yang dihadapi, baik oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga akademik, diharapkan dapat diperhatikan oleh dekan terpilih. “Semoga setiap program kerja yang disampaikan pada rapat forum dosen dan juga rapat senat terbuka dapat direalisasikan dan tidak hanya menjadi janji semata.”

Dr. M. Yusdi, M.Hum., Ketua Program Studi S2 Linguistik mengungkapkan bahwa pemilihan dekan periode ini dilaksanakan dengan baik berkat kerja sama panitia. “Ucapan selamat dan terima kasih patut kita sampaikan kepada Dr. Syafril dan panitia pemilihan dekan lainnya karena berhasil menyelenggarakan pemilihan hingga diperoleh Dr. Hasanuddin, M.Si. sebagai dekan terpilih,” ujarnya ketika memberikan selamat kepada Dr. Syafril, M.Hum.

Prof. Dr. phil. Gusti Asnan Dekan FIB Periode 2013-2017

Dekan FIB Unand, Prof. phil. Gusti Asnan mengungkapkan bahwa Dr. Hasanuddin, M.Si. yang terpilih sebagai Dekan FIB periode selanjutnya sesungguhnya memiliki kemampuan dan keunggulan yang tentunya diharapkan dapat membawa FIB menjadi lebih baik ke depannya. “Kita berharap FIB semakin baik ke depannya,” ungkapnya.

Humas FIB: Dini Alvionita, Ria Febrina, dan Gading Rahmadi

20 April 2017 In Pengumuman

Berdasarkan surat dari Wakil Rektor I Nomor : 5157/UN16.WR1/PP/2017 perihal Batas Studi Program Studi S2 dan S3 pada Program Pascasarjana Universitas Andalas dengan ini disampaikan bahwa sesuai dengan Peraturan Akademik Universitas Andalas Nomor 3 Tahun 2016 pasal 69 ayat 2 dan 3 bahwa:

  1. Mahasiswa Program Strata dua (S2) yang telah kuliah efektif 8 (delapan) semester (Angkatan 2013 dan sebelumnya) harus sudah selesai tanggal 31 Juli 2017.
  2. Mahasiswa program strata tiga (S3) yang telah kuliah efektif 14 (empat belas) semester (Angkatan 2010 dan sebelumnya) harus sudah selesai tanggal 31 Juli 2017.

Berdasarkan butir 1 (satu) dan butir 2(dua) tersebut di atas, mahasiswa yang tidak dapat menyelesaikan studinya sesuai batas waktu yang telah ditetapkan, maka mahasiswa tersebut tidak dapat lagi melanjutkan studi (DO). Universitas Andalas memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang tidak dapat menyelesaikan studinya sampai batas waktu tersebut diatas, dapat mengajukan permohonan pengunduran diri yang diketahui oleh Ketua Program Studi dan Dekan/Wakil Dekan I Fakultas dengan melunasi semua tunggakan SPP. Mahasiswa yang bersangkutan dapat mendaftar kembali dengan nomor BP baru dengan mempertimbangkan mata kuliah yang sudah lulus.

Demikian disampaikan, atas perhatian diucapkan terimakasih.

an. Dekan,

ttd

Wakil Dekan I FIB Unand

 

NB : Surat Resmi silahkan unduh dibawah ini:

 

17 April 2017 In Berita

6 Balon Dekan periode 2017-2021 sedang memaparkan Visi, Misi dan Program Kerja (VMPK)FIB—Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., bakal calon dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas mendapatkan suara terbanyak dalam rapat forum dosen/pemilihan tingkat dosen untuk pemilihan calon dekan periode 2017—2021, pada Senin, 17 April 2017. Sebanyak 28 suara diperoleh bakal calon nomor 4 tersebut dari 79 dosen aktif FIB Unand yang memberikan hak suara di Ruang Seminar Fakultas.

Selanjutnya, secara berturut-turut suara terbanyak yang diperoleh masing-masing bakal calon dekan lainnya ialah Dr. Rina Marnita, M.A. sebanyak 15 suara, Dr. Hasanuddin, M.Si. sebanyak 12 suara, Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. sebanyak 10 suara, Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. sebanyak 4 suara, dan Dr. Maizufri, M.S. sebanyak 2 suara. Sementara itu, sebanyak 8 suara dinyatakan batal karena pemilih menyilang surat suara dan memilih lebih dari satu balon dekan.

Ketua Panitia Pemilihan Dekan FIB Unand periode 2017—2021, Dr. Syafril, M.Hum., menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen FIB Unand karena telah menggunakan hak suara dalam penjaringan bakal calon dekan menjadi calon dekan FIB Unand Periode 2017—2021. Selanjutnya, pada 26 April 2016, ketiga calon dekan tersebut akan dipilih oleh anggota senat menjadi Dekan FIB Unand periode 2017—2021.

Terkait balon dekan FIB Unand, Dr. Syafril, M.Hum. mengungkapkan bahwa panitia telah mengundang dan mendaulat sejumlah dosen yang dianggap memenuhi persyaratan umum. “Sebanyak 15 orang dosen dinyatakan memenuhi syarat, lalu panitia menghubungi secara langsung dan memberikan berkas pendaftaran kepada bakal calon dekan tersebut,” ungkap Dr. Syafril, M.Hum.

“Alhamdulillah, pada hari terakhir pendaftaran, sebanyak enam bakal calon dekan mendaftar kepada panitia,” ujar Dr. Syafril, M.Hum.

Dengan jumlah enam orang bakal calon dekan tersebutlah, panitia melakukan dua tahap pemilihan dekan, yaitu melalui rapat forum dosen (RFD) yang diselenggarakan hari ini, 17 April 2017 dan rapat senat pemilihan calon dekan terpilih pada 26 April 2017.

Dr. Syafril, M.Hum. mengungkapkan bahwa jumlah enam orang bakal calon dekan tersebut telah menunjukkan bahwa dosen FIB Unand memiliki kepedulian untuk keberlangsungan FIB pada masa yang akan datang agar fakultas menjadi lebih baik.

Dekan FIB Unand, Prof. phil. Gusti Asnan, juga mengungkapkan bahwa pemilihan calon dekan FIB tahun ini merupakan pemilihan dengan jumlah balon dekan terbanyak sepanjang sejarah FIB Unand. “Dalam pemilihan ini, keenam calon memiliki talenta. Masing-masing juga mempunyai sesuatu untuk FIB.”

Lebih lanjut, Prof. phil. Gusti Asnan menyatakan bahwa terpilihnya tiga calon dekan FIB periode 2017—2021 menunjukkan bahwa dosen FIB Unand telah melakukan pemilihan dekan secara intelektual. Menurutnya, pemilihan dekan itu berbeda dengan pemilihan politik. “Ini pemilihan intelektual. Dekan yang akan memimpin FIB harus mampu menstimulasi kita untuk berubah. Saya memang berharap dosen FIB Unand dapat memilih secara intelektual,” jelas Prof. phil. Gusti Asnan.

Sebelum pemilihan calon dekan FIB Unand ini, telah dilakukan penyampaian visi, misi, dan program kerja oleh keenam bakal calon dekan FIB Unand periode 2017—2021. Lalu, dilaksanakan debat calon yang dimoderatori oleh dosen Jurusan Sastra Inggris, Dr. Diah Tjahaya Iman, M.Litt.

Dalam menyampaikan visi, misi, dan program kerja (VMPK), keenam bakal calon dekan memiliki waktu selama 15 menit secara bergiliran sesuai dengan nomor urut bakal calon dekan. Keenam calon tersebut telah mengungkapkan visi, misi, dan program kerja yang akan dilaksanakan jika terpilih sebagai dekan FIB Unand. Dosen FIB Unand pun menentukan pilihan salah satunya berdasarkan visi, misi, dan program kerja tersebut.

Pada saat penyampaian visi, misi, dan program kerja, beberapa balon dekan mengungkapkan bahwa terpilih atau tidaknya mereka sebagai dekan, diharapkan visi, misi, dan program kerja yang telah dirancang dan dinyatakan dapat membangun keberlangsungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas ke depannya, diharapkan dapat dilaksanakan oleh dekan terpilih.

 

Humas FIB: Ria Febrina dan Gading Rahmadi