Items filtered by date: Maret 2018
09 Maret 2018 In Berita

Sesuai dengan Kalender Akademik Universitas Andalas Tahun 2017/2018, bahwa pelaksanaan Ujian  Tengah Semester (UTS) dilaksanakan tanggal 12 s.d 23 Maret 2018, untuk memperlancar ujian dimaksud berikut jadwal ujian terlampir

 

Demikian disampaikan, atas perhatian diucapkan terima kasih.

 

 

Wakil Dekan I,

 

dto

 

Dr. Ferdinal, M.A.

NIP 196607091992031002

 

08 Maret 2018 In Berita

FIB--Dekan FIB Unand yang diwakili oleh Wakil Dekan II, Drs. Rumbardi, M.Sc. menyelenggarakan secara resmi serah terima jabatan ketua dan sekretaris Jurusan Sastra Inggris periode lama dengan periode baru. Pada Senin, 5 Maret 2018, Dr. Hanafi, M.App.Ling. dan Rika handayani, M.AAPD, M.Hum. menerima jabatan baru dari Dr. Rina Marnita AS, M.A. dan Ayendi, M.Pd., M.Hum.

07 Maret 2018 In Berita

FIB- Salah seorang dosen FIB, Dr. Gusdi Sastra, M.Hum menjadi salah satu pembaca puisi dalam Perayaan 82 Tahun Rusli Marzuki Saria sekaligus peluncuran buku terbaru Rusli Marzuki Saria “Parewa Sato Sekaki” bersama dengan penyair-penyair terkenal lainnya pada Sabtu, 3 Maret 2018 bertempat di Aula Hotel International Mariani- Padang. Rusli Marzuki Saria kerap disapa Papa dikalangan penyair dan sastrawan.

07 Maret 2018 In Berita

Oleh : Sudarmoko (Dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Keinginan dan harapan terhadap berdirinya sebuah Fakultas Sastra di Universitas Andalas dari para tokoh intelektual, budayawan, ulama Sumatera Barat terjawab sudah sejak tahun 1982. Harapan agar dari fakultas ini lahir berbagai kajian, kritik, pengkaji, dan intelektual yang memiliki perhatian pada kebudayaan Minangkabau dan Sumatera Barat pada umumnya. Sebuah fakultas yang juga dapat memberikan sumbangan penting dalam upaya menjaga, meneliti, mewariskan, dan meneruskan nilai-nilai kebudayaan, seperti kajian sejarah, sastra, antropologi, sosiologi, bahasa, dan sebagainya.

Apakah dalam perjalanannya yang akan memasuki usia 36 tahun harapan dan keinginan itu sudah terwujud? Pada satu sisi, Fakultas Sastra yang kini bernama Fakultas Ilmu Budaya ini telah memberikan sumbangan penting, setidaknya pada ranah kebudayaan Sumatera Barat. Kajian-kajian telah banyak dilakukan. Buku-buku dan artikel ilmiah juga terpublikasi di berbagai penerbit, jurnal, dan majalah atau koran. Para dosen dan penelitinya terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah, pendampingan atau staf ahli di berbagai instansi. Alumni yang diluluskan telah mengisi berbagai lapangan pekerjaan dan kegiatan, baik di Sumatera Barat, provinsi-provinsi lain, dan juga di jabatan penting lainnya.

Di sisi lain, harapan lebih dari masyarakat luas tentu saja masih tertumpang. Persoalan-persoalan riil yang dihadapi oleh masyarakat terutama dalam perubahan yang terjadi dalam ranah kebudayaan masih menunggu untuk direspon. Mulai dari persoalan yang praktis sehari-hari hingga persoalan yang lebih konseptual dan filosofis. Mulai dari kesalahan penulisan reklame dan papan pengumuman hingga sejarah adat dan kebudayaan. Dari bahan ajar muatan lokal di sekolah, penggunaan bahasa daerah (Minangkabau), sastra lisan, seni pertunjukan, sastra Indonesia di Sumatera Barat, sastra asing dan penggunaan bahasa asing.

Salah satu persoalan yang paling mendasar, saya kira, adalah bagaimana FIB mampu secara peka melihat dan ikut terlibat dalam memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Dengan kekuatan yang dimilikinya, seperti para dosen yang pakar dalam bidang humaniora, berbagai pertemuan ilmiah yang menjadi forum bagi para pakar dalam membicarakan berbagai persoalan budaya, publikasi ilmiah, penelitian yang telah menghasilkan berbagai rumusan, analisis, data, jaringan peneliti, peta masalah, dan referensi. Mahasiswa yang menghidupkan berbagai kegiatan akademik dan kreatif. Berbagai kerja sama dengan banyak lembaga dan perorangan. Semua potensi ini harus digerakkan untuk menunjukkan keberadaan FIB Unand dalam memberikan kontribusi pemikiran atas persoalan yang terjadi dalam masyarakat dan bangsa Indonesia secara lebih luas.

Sastra Indonesia dan Persoalan Kebudayaan di Sumatera Barat

Sebagai contoh, dalam bidang sastra Indonesia yang saya tekuni selama ini, Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand telah banyak menghasilkan karya-karya hasil penelitian, kritik-kritik atas karya sastra, pertemuan ilmiah, karya kreatif, yang dilakukan oleh para dosen maupun mahasiswa (termasuk alumninya). Namun demikian, masih terasa ada jarak antara aktivitas akademik di kampus dengan lingkungan terdekatnya, yang menjadi fokus dan kajian utamanya yaitu sastra Indonesia di Sumatera Barat. Lahan luas ini masih belum terolah dengan baik dan tuntas. Mulai dari sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat, pemikiran dan pandangan dunia para pengarang dari Sumatera Barat, penerbit-penerbit yang pernah dan masih menerbitkan karya-karya sastra, para pembaca dan bagaimana proses penerimaan karya mereka, sumber-sumber penciptaan yang dapat ditelusuri, hingga penulisan profil-profil penulis, komunitas, dan tokoh-tokoh penting dalam dunia kepenulisan dan pemikiran. Beberapa kamus dan direktori serta biografi para pengarang Sumatera Barat telah dihasilkan. Namun belum memberikan gambaran yang mendalam dan konseptual bagi dunia sastra di Sumatera Barat. Demikian juga dengan sisi linguistik dan kebahasaan, baik yang terjadi dalam masyarakat maupun yang digunakan dalam ragam sastranya.

Sastra Indonesia yang ada di FIB dapat lebih berperan dalam menjaga keberlangsungan sastra Indonesia. Harus dimunculkan gagasan utama yang menjadi perhatian penting dan digali secara terus menerus. Apalagi, kita tahu bersama, bagaimana posisi dan sumbangan penting para sastrawan yang berasal dari Sumatera Barat dalam kancah sastra Indonesia. Jika tidak dipikirkan dan dilakukan, maka kita akan kehilangan peluang untuk mengkaji dan mengantarkan hasil kajian tentang pandangan dunia para pengarang, dan juga pemikiran-pemikiran penting mereka yang saya yakin para kritikus yang ada di Sumatera Barat, khususnya di FIB Unand, dapat menjelaskannya dengan baik. Dalam pandangan saya, inilah yang salah satu kemungkinan besar yang dapat dimunculkan oleh para akademisi di FIB Unand dalam pertarungan wacana akademis di Indonesia bahkan di tingkat internasional. Sekaligus juga sebagai penyeimbang bagi berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti asing yang memiliki perhatian pada kebudayaan Minangkabau dan Sumatera Barat.

Dalam konteks membangun wacana ini, keberadaan Jurusan Sastra Daerah Minangkabau juga akan menjadi bagian penting yang dapat mengakselerasi harapan serupa di atas. Sastra (lisan) Minangkabau, dalam berbagai bentuknya, menghadirkan narasi-narasi besar yang belum sepenuhnya dibahas. Ada sisi estetika yang menarik dan berpeluang untuk dihadirkan dan disumbangkan dalam kajian sastra di Indonesia. Pilihan dan kekayaan diksi, kontradiksi dan ambiguitas bahasa, bentuk tutur dan kesantunan, hingga wacana yang dibangun dalam sastra (lisan) Minangkabau merupakan wilayah yang belum banyak dijajaki.

Jurusan Sejarah pun dapat membantu untuk melengkapi eksplorasi terhadap kekayaan budaya Sumatera Barat dengan memperkuat kajian lokal. Sejarah intelektual, agama, ekonomi, pendidikan, politik, seni, adat, dan seterusnya harus digali dengan pandangan-pandangan dan analisis yang segar dan baru. Pendekatan kontemporer dalam kajian sejarah memungkinkan hal-hal yang selama ini belum banyak diungkap dapat dipertimbangkan. Tantangan yang ada di depan mata bukan sekadar peristiwa atau tokoh yang secara historis penting, namun juga hal-hal yang kecil dan terabaikan harus diberi tempat. Sejarah pasar, nagari, keluarga, jalur transportasi, angkot atau kendaraan umum, teknologi, rumah dan arsitektur, masjid, pertemuan-pertemuan atau rapat agama atau adat, dan sebagainya dapat menjadi tema-tema yang menarik untuk dikembangkan.

Kajian regionalisme seperti ini sudah saya usulkan sejak tahun 2008. Saya melihat bahwa untuk bidang kebudayaan, Sumatera Barat dapat menjadikan dirinya sebagai sebuah contoh untuk kajian yang sifatnya komprehensif dan secara historis memiliki nilai yang luar biasa. Road map penelitian yang jika FIB Unand dapat merumuskannya dalam kajian-kajian yang dilakukan oleh para pakarnya berkemungkinkan besar akan dapat menjawab harapan para pendiri dan inisiator Fakultas Sastra pada masa awal berdirinya. Tentu saja ini hanya sebuah kemungkinkan di antara banyak kemungkinan lainnya. Yang diperlukan adalah bagaimana agar dapat muncul koordinasi, perencanaan, dan strategi yang lebih efektif dan berkelanjutan dalam memaksimalkan peran dan posisi FIB Unand dalam keilmuan dan pengetahuan di lingkungannya.

Wacana dan arah ilmu pengetahuan yang dikembangkan haruslah dapat menggerakkan masyarakat akademik dan umum untuk merasa terlibat. Apalagi kini sudah berdiri empat program pascasarjana (sejarah, linguistik, sastra, dan kajian budaya), yang dalam tingkat pembelajaran tentu menawarkan daya dan keterampilan analitis bagi mahasiswanya. Sebuah pencapaian yang besar dalam perjalanan FIB Unand selama lebih dari tiga dekade ini. Kesempatan ini tentu saja harus diisi dengan berbagai perbaikan dalam melengkapi perangkat yang dibutuhkan bagi iklim akademik yang lebih tinggi, seperti perpustakaan, pertemuan ilmiah, publikasi, penelitian, dan lainnya. Bagaimana pun juga, selamat berulang tahun, dies natalis, yang ke-36 untuk FIB Unand.