Items filtered by date: Mei 2018
02 Mei 2018 In Berita

FIB - Bertempat di Ruang Sidang Dekanat FIB Unand pada Rabu (25/4/2018), Jurusan Sastra Minangkabau laksanakan Kuliah Umum pertama semester genap 2017/2018 bertema “Bedil, Mesiu, dan Mantra Minangkabau: Sejarah Pengetahuan dan Penggunaannya” bersama Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah, peneliti Khasanah Kepustakaan Melayuse dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) Cabang Malaysia-Singapura.

Kuliah Umum tersebut langsung dimoderatori oleh Dr. Pramono, M.Si. sebagai Ketua Jurusan Sastra Minangkabau. Turut hadir juga Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si, serta beberapa dosen Sastra Minangkabau dan dosen lain di lingkungan FIB diantaranya, Drs. M. Yusuf, M.Hum., Dr. Khairil Anwar,M.Si., Dr. Lindawati, M.Hum., Bahren, S.S, M.A., Herry Nurhidayat, S.S, M.A., dan lainnya.

Pada pengantarnya, Dr. Pramono, M.Si. menjelaskan kenapa kemudian Kuliah Umum itu diselenggarakan. “Kenapa kami mengundang Pak Wan Dasuki untuk kuliah umum perdana ini, ini merupakan cikal bakal perbincangan kami dari beberapa pihak di jurusan dan juga seorang budayawan kita, Bung Edi Utama.  Ini adalah pemanasan kita, bukan pembukaan, tapi pemanasan untuk mengadakan Asian Dialog, berkenaan dengan khasanah kebudayaan, khasanah sosial dan humaniora di Asia Tenggara,” jelasnya.

Sebelum Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah menyampaikan materi seluas-luasnya, kesempatan diberikan kepada Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. untuk juga memberikan sambutan dan pandangannya terhadap Kuliah Umum yang akan berlangsung.

Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh Jurusannya sendiri. “Iya, ini adalah awal dari dialog Asian Minangkabau dan tentu adalah terobosan yang bagus. Terimakasih kepada Jurusan Sastra Minangkabau yang telah memberikan semangat,” ungkapnya.

Lalu ia meneruskan sambutannya sebelum membuka acara secara resmi. “Jadi kuliah umum diadakan satu per semester, dan itu akan ditagih harus dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu karena sekarang diatur dengan anggaran, sehingga setiap sebulan itu dikontrol dan pertiga bulan kegiatan sudah direncanakan dan dilaksanakan dalam rentang waktu itu. Jika terlewat, ya tergilas dan tidak boleh di lakukan lagi. Jadi ini sebuah gairah administrasi keuangan dan juga administrasi atmosfer akademik yang relatif kondusif untuk bisa kita laksanakan, sehingga kegiatan-kegiatan ini menjadi semarak di Fakultas ini,” terangnya.

Apa pentingnya mengkaji tentang teknologi pada masa lampau atau tradisi ilmu yang berkaitan dengan senjata api? Bagaimana kemudian ia relevan kepada kita hari ini? merupakan pertanyaan pembuka Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah

Jika dilihat, menurutnya senjata api sangat diapresiasi luar biasa dibandingkan dengan senjata tajam, seperti keris dan lainnya. Senjata api adalah istilah yang dipahami dan dikenal pada saat sekarang, yang dulunya dikenal dengan nama bedil.

Lalu ia melanjutkan pada prinsipnya bedil merujuk pada dua istilah senjata api yang berbeda yaitu artileri dan senjata api ringan atau yang sekarang lebih dikenal dengan senapan yang bisa dikendalikan dan dibawa secara pribadi. Senjata yang berbeda dengan artileri misalnya Lela, Rentaka, dan Meriam yang dapat ditembakkan dengan kapasitas peluru yang bisa mengakibatkan ledakan yang besar, serta bisa menghancur dan memporak-porandakkan kelompok musuh meski dari jarak yang jauh. .

Pada Hikayat Pahang, yang banyak menggambarkan sifat dan situasi pada perang Saudara Pahang (1857-1863), menyebutkan bahwa senjata pribadi yang dipakai orang Melayu, setidaknya ada beberapa jenis, yaitu; kerambit (senjata sulit – dalam kain ikat kepala), keris atau badik (senjata pendek untuk pertikaman jarak dekat), pedang (pertempuran jarak sederhana), lembing (tikaman jarak yang lebih luas atau untuk balingan), dan senapan (tembakan jarak yang lebih jauh daripada balingan lembing).

Meskipun senjata api ringan banyak digunakan dalam peperangan di negeri-negeri Melayu, seperti Hikayat Siak atau Tuhfat al-Nafis, senjata api ringan juga digunakan untuk berburu. Seperti halnya juga dalam Kisah Pelayaran Abdullah, Abdullah Munshi (1960) menunjukkan bahwa sekitar tahun 1830-an di Kelantan, bedil-bedil yang disebut dengan senapan sekarang  juga digunakan untuk menembak burung belibis.

Clifford dan Swettenham (1895), menyebutkan bahwa bedil adalah istilah yang popular di Pantai Timur negeri Melayu, Kelantan, Terengganu, Patani, dan Pahang.

Berdasarkan pengamatan Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah, hampir tidak ditemukan penelitian-penelitian yang memberikan fokus khusus kepada bedil. Kajian-kajian yang disebutkan itu, lebih berbentuk penelitian sejarah, selain arkeologi seni dan yang menyorot aspek-aspek yang ada pada artileri. Dengan kata lain, sampai pada tahun 2009, tulisan tentang bedil dalam konteks yang menjelaskan sebuah tradisi ilmu atau budaya materialnya.

Tapi sepuluh tahun terakhir ini jelasnya, subjek bedil mendapat perhatian yang luas, meski kebanyakan pengkaji tidak dapat menetapkan dengan jelas konteksnya. Para peneliti lebih bersemangat berbicara tentang teknologi bedil Melayu yang  lebih canggih dan hebat daripada teknologi penjajah Portugis atau Barat yang lain. Malahan memfaktakan teknologi bedil ditemui oleh orang Melayu, dan telah dibawa dan digunakan pula di Jepang.

Terus katanya bedil merupakan sebuah warisan teknologi Portugis: menerusi spesifikasi material bedil yang disebut sebagai istinggar. Jika Sun Laichen mengatakan artileri muncul di alam Melayu setidak-tidaknya pada awal abad ke-15 berdasarkan faktor perdagangan dan fungsi Melaka sebagai key point penyebarannya.

Lalu Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah bertanya secara retorika untuk berinteraksi dengan peserta Kuliah Umum. “Maka bilakah pula kita berkenalan dengan teknologi istinggar?” tanyanya.

Jawabnya, Istinggar berasal dari perkataan Portugis, espingarda – merujuk kepada esmerilhao de mecha, sebuah fusil kuno berlaras panjang dan berhulu pendek. Teknologi senjata api ringan ini dikatakan berasal dari Nuremberg sekitar abad ke-15 tetapi perkembangan bentuknya yang kemudian disebut espingarda itu berdasarkan kemahiran pertukangan Bohemia.

Kemudian lanjutnya, hubungan orang Portugis dengan orang Jerman kemudian menghasilkan sebuah teknologi berbeda dengan apa yang berkembang di Italia, Prancis, Sepanyol, dan England – yang dibawa kemudian ke Goa, India; pengkalan Portugis yang awal di Asia. Menurut Daehnhardt (1994) paten Bohemia inilah yang tersebar ke Asia – alam Melayu, Korea, China dan Jepang. Khusus di alam Melayu, pembuatan istinggar bermula di Sri Lanka pada pertengahan abad ke-16, sebelum ia diimitasi serta diadaptasi oleh masyarakat setempat.

Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah lalu menyimpulkan materi yang telah disampaikannya yaitu:

  1. Kajian tentang bedil sebagai senjata api ringan masih jarang ditemukan dan perlu diperbanyak tulisan serta bibliografinya.
  2. Banyak kajian pada sekarang ini tidak melihat secara lebih terbuka bedil dan hubungannya dengan Minangkabau sebagai sebuah tradisi.
  3. Sumber Barat menyebutkan bahwa istinggar dibuat oleh orang Minangkabau maka kajian ini tentu harus diperdalam lagi
  4. Orang Minangkabau sangat dekat dengan bedil, maka ini perlu dilihat lebih dalam lagi
  5. Naskah ilmu bedil merupakan bahan terpenting untuk menanggapi persoalan tradisi bedil di Minangkabau.

 

(Reporter: Jusman, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi)

02 Mei 2018 In Berita

FIB - Khairul Haq, satu-satunya perwakilan HIMA sejarah angkatan 2016, mengikuti  Seminar Nasional dengan tema “Internasionalisasi Sejarah Lokal Dalam Memperkuat Identitas Budaya Nusantara” dan Rapat Kerja Nasional Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (IKAHIMSI) bertempat di Auditorium Universitas PGRI Yogyakarta untuk kepengurusan dua tahun ke depan dari tanggal 26 - 30 Maret 2018 lalu.