Senin, 04 Maret 2019 13:18

HMJ Sastra Indonesia FIBUnand Adakan Panggung Puisi 2019 Bertema “Peran Ibu pada Literasi Masa Ini”

Foto: Penyampaian materi oleh tiga pemakalah pada cara seminar yang menjadi bagian dari acara Panggung Puisi 2019 di Ruang Seminar FIB Unand

FIB - HMJ Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)mengadakan acara Panggung Puisi 2019 dengan tema “Peran Ibu pada Literasi Masa Ini” pada Sabtu, 2 Maret 2019 di dua tempat berbeda, yaitu diRuang Seminar dan Medan nan Balinduang FIB Unand..

Acara yang dibuka langsung oleh Wakil Dekan III FIB Unand, Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum. tersebut, turut dihadiri oleh Dr. Aslinda, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Sastra Indonesia; Dr. Zurmailis,M.Hum., selaku Pembina HMJ Sastra Indonesia; dan juga Sastrawati SumateraBarat, Prof. Dr. Ir. Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib, M.P. atau lebih dikenal dengan nama penaUpita Agustine.

Acara itu merupakan ajang apresiasi untuk kepenyairan wanita di Sumatera Barat. “Acaraini dilaksanakan untuk mengapresiasi kepenyairan wanita di Sumatera Barat, dan kitamengangkat tokoh ibu Upita Agustine karena beliau memang sudah sangat lama berkarya,” ujarFathan Raizalle Fassa selaku Ketua Pelaksana.

Acara itu dikemas dalam dua bentuk aktivitas berbeda, yaitu acara Seminar yang diadakan siang hari di Ruang Seminar dan Pementasan Puisi pada malam hari di Medan nan Balinduang FIB Unand. “Siang ini kita seminar di Ruang Seminar, dibuka untuk umum jadi ngak (tidak) harus mahasiswa sini yang datang.Nanti ada buk Lilik (dosen), Aulia sama Giffari (mahasiswa aktif Sastra Indonesia, angkatatang 2017) yang akan jadi pemakalah.Terusmalamnya kita akan pementasan di Medan nan Balinduang.Akan ada penampilan dari 10kelompok dan penampilan dari UKM/Hima,” ujar Diah selaku Koor.Acara.

 

Acara Panggung Puisi 2019 ini sendiri sudah dipersiapkan sejak semester lalu, denganpeserta dari mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2018, dan panitia dari mahasiswa Sastra Indonesiaangkatan 2017, dan sutradara untuk penampilan peserta dari mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2016.

Panggung puisi 2019 merupakan wadah untuk mengapresiasi kepenyairan wanita di Sumatera Barat, khusunya Upita Agustine. Acara yang berlangsung pada tanggal 2 Maret 2019 ini menghadirkan 3 orang pemakalah yaitu Dr. Zurmailis, M.Hum., Aulia Rahmadhanti, dan M. Giffarie Arif.

Dalam pemaparan makalahnya pada acara Panggung Puisi 2019, Aulia membicarakan tentang Eksistensi Kepenyairan Wanita, bagaimana sejarah mencatat hanya sedikit nama penyair wanita yang berhasil muncul kepermukaan. Sebenarnya penyair wanita itu sangat banyak seperti penyair lelaki, namun hanya sedikit yang dikenal berperan dalam perkembangan literasi Indonesia.

Giffari dalam makalahnya lebih memberikan apresiasi kepada Puti Reno Rudha Thaib.Makalahnya yang berjudul Menjadi Ibu bagi Karya Sastra, membicarakan tentang peran Puti Reno Raudha Thaib terhadap puisinya. Proses kreatif penciptaan karya berperan besar dalam kualitas karya. Pengalaman, pengetahuan, perasaan, dan nalar menjadi faktor utama dalam proses kreatif.

“Menjadi ibu bagi karya sastra berarti harus melalui perjalanan yang panjang, sebagaimana perjalanan Puti reno Raudha Thaib mendapat didikan yang bijaksana, kritis, dan luhur sejak dini,” ujar Giffarie.

Makalah yang terakhir oleh Dr. Zurmailis M.Hum., yaituMembaca Kumpulan Puisi Nyanyian Anak Cucu, Membaca Peran Ibu Pada Literasi Masa Ini. Dia mengemukakan bahwa  beberapa puisi dari “Nyanyian Anak Cucu” karya Upita Agustine menggunakan tokoh implied yang membahasakan pembaca dengan panggilan anakku’.

“Beliau seakan mengamati dan mengawasi pengalaman generasi baru yang mewarisi perpecahan, eksploitasi alam dan manusia, degradasi nilai, dan standar hidup. Dan tokoh implisit dalam puisi ini masih mengharap dan memastikan bahwa ditengah kepahitan hidup yang diwarisi, generasi baru itu masih dapat mengevaluasi dan mempertanyakan sebab atas segalanya sekaligus mempertanyakan arah yang mereka tuju,” ujar Zurmailis.

Upita Agustine sendiri sangat mengapresiasi acara Panggung Puisi 2019 ini, dan ia berharap agar acara ini terus berlanjut untuk tahun-tahun yang akan datang, dan tidak diadakan pada hari libur agar bukan hanya mahasiswa sastra saja yang dapat menghadirinya. “Ini yang jarang kita lakukan. Kita lebih cenderung mengenal orang diluar, sementara kita punya banyak tapi tak pernak kita angkat,Padahal kita tidak kalah!” ujarnya.

Dia juga mengharapkan lahirnya penyair-penyair wanita yang lain. “Urang minang ko musti banyak padusi menyair, sebab dalam hiduiknyo, tu urang Minang ko baguru ka alam, alam ko manginspirasi awak ko . (orang Minang harus banyak memiliki perempuan yang menjadi penyair, karena dalam hidupnya orang minang belajar kepada alam, alam yang menginspirasi kita),” harapnya mengakhiri.

Reporter : Aisya Rizano Putri, Editor: Ayendi, Admin: Tri Eka Wira

Read 117 times