Kamis, 14 Maret 2019 09:49

Dr. Fadlillah, M.Si., Dosen Sastra Indonesia, Sampaikan Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-37 FIB Unand

Foto 1: Dr. Fadlillah, M.Si. pada kesempatan orasi ilmiah acara Dies Natalis ke-37 FIB Unand

 

FIB - Dr. Fadlillah, M.Si., Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand, menyampaikan orasi ilmiah dengan judul Rumah Makan pada Novel Ular Keempat Karya Gus tf Sakai: Kajian Cultural Studies Sastra di depan anggota senat, dosen, mahasiswa, dan para tamu undangan pada acara peringatan Dies Natalis FIB Unand ke-37 yang dilaksanakan di Ruang Seminar FIB Unand pada tanggal 13 Maret 2019.

 

Di awal orasi ilmiahnya, Dr. Fadlillah, M.Si. menyalami seluruh undangan baik yang berkesempatan hadir maupun yang tidak berkesempatan hadir, seperti Rektor, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kearsipan dan Perpustakaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya, Balai Pelestarian Cagar Budaya, Kepala Balai Bahasa, dan Kepala Bank Nagari Cabang Unand Sumatera Barat. Kemudian ucapan salam ditujukannya kepada Pimpinan, Ketua, Anggota Senat, Panitia Dies Natalis, Guru Besar, Dosen, Tenaga Pendidikan, dan selanjutnya Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unand.

 

Hari itu merupakan hari yang penting bagi FIB Unand. Pada hari itu juga  Dr. Fadlillah, M.Si. diberi kepercayaan dan kesempatan untuk menyampaikan orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis almamater yang dicintainya.

 

“Pada kesempatan yang berbahagia ini, dengan segala kerendahan hati, izinkanlah saya untuk menyampaikan orasi ilmiah dengan judul Rumah Makan Padang pada novel Ular Keempat karya Gus tf Sakai Kajian Cultural Studies Sastra,” Dr. Fadlillah, M.Si. membuka orasinya dengan suara yang lantang dan lugas.

 

Berikut ini adalah teks orasi ilmiah yang disampaikan Dr. Fadlillah, M.Si. disertai dengan ilustrasi beberapa foto ketika acara orasi berlangsung:

 

Hadirin yang mulia,

Sastra pada hakekatnya merupakan representasi sejarah kemanusiaan dan sejarah peradaban, yang dihadirkan dengan metaforis dan simbolik yang indah. Dalam pengertian lain, sastra adalah representasi sejarah yang simbolik. Kehadiran sastra sebagai sejarah simbolik disebabkan ada persoalan-persoalan sejarah yang tidak memungkinkan untuk dikemukakan secara terus terang dan telanjang, ada sejarah yang tidak mungkin telanjang dalam rentangan perdaban kemanusiaan. Di samping sebagai strategi pertahanan atau benteng dari musuh dan gelombang zaman. Alasan ini menyangkut strategi, politik kekuasaan, kecanggihan teknologi penghadiran sejarah. Oleh sebab itu teknologi penghadiran sejarah dengan sastra merupakan hal yang sofistikatif. Salah satunya dengan sastralah data-data dan fakta sejarah disimpan secara teknologi simbolik. Salah satu alasan sastra diapresiasi secara intelektual adalah untuk diungkapkan data-data dan fakta sejarah yang tersembunyi.

Sejarah dalam sastra hadir dalam bentuk konotatif dan semiotifikasi. Kebudayaan-kebudayaan yang cerdas dari suatu bangsa di masa lalu cendrung menghadirkan sejarah dalam bentuk sastra. Walaupun karya sastra itu dihadirkan (yang sebagian orang menganggap) secara sepele seperti populer, dongeng, mitos, legenda. Bukan tidak mungkin hal ini diperuntukkan supaya para penguasa imperialis sulit untuk mengubah sejarah mereka.

Cultural studies sastra, berangkat dari teks kecil dan populer, menelusuri jejak, tanda, penanda, ikon dan simbol dalam estetika postmodern. Dalam pandangan cultural studies sastra, satu jejak yang terkecil  pada karya sastra, tidak luput dari representasi diskursus. Adapun teori yang kuat untuk cultural studies sastra adalah diskursus Foucault, sebagaimana diungkapkan Barker (2004:29,33). Cultural studies sastra (Barker,2008:31,32,35), menggunakan metode dekonstruksi Derrida (1974:7) dan teori pemikiran diskursus Foucault (1989:204,1980:155,1977:204).

Kajian Cultural studies sastra tidak lagi lihat secara intrinsik dan struktural formalis, tetapi dikaji dalam paradigma teks, tanda, jejak dan simbol yang kecil, yang terletak di mana saja, namun (terutama) selalu dimulai dari bagian pinggir atau akhir. Adapun tanda dan simbol kecil yang terletak pada bagian akhir dalam novel Ular Keempat (2005) karya Gus tf Sakai adalah teks Rumah Makan Padang. Dari tanda, jejak pada teks  Rumah Makan Padang ditemukan jaringan teks, bagai suatu lanskap, tentang jejak kebudayaan bangsa Minangkabau, yang melatari karakter tokoh dan cerita pada novel UK.

Keberadaan sastra sebagai representasi kebudayaan mempunyai alasan yang kuat, karena ia merupakan fakta berselimut, sebagaimana  Kleden (2004:434,435), berpendapat bahwa pada fiksi ternyata banyak fakta. Bahkan lebih jauh Kleden berani mengatakan bahwa sulit untuk memisahkan sastra dan karya ilmiah; dia menolak dengan tegas tentang pernyataan sastra sebagai total dunia imajiner yang berlawanan dengan dunia kenyataan empiris. Dia menantang bila dikatakan sastra sesesuatu yang  the other dari dunia empiris atau sastra merupakan fiksi murni yang berseberangan dan tak tersentuh dengan dunia fakta. Oleh sebab itu, dengan kehadiran paradigma pandang postmodernisme atau post-positivisme, dalam konteks ini, ungkapan  Kleden itu sangat mendapat tempat pada pendekatan cultural studies sastra yang membawa perobahan baru dalam memahami posisi kajian sastra.

Penelitian cultural studies sastra sesungguhnya mengkaji bagaimana representasi diskursus kebenaran dan artikulasi sastra terhadap sejarah, kekuasaan, kebudayaan, di samping membaca jejak-jejak fakta, terutama dalam  konteks budaya, ideologi dan kekuasaan, sebagai suatu diskursus. Dalam paradigma post-positivisme,  pada dekade ini, berpijak pada rumusan teori, bahwa tidak ada fakta yang murni fakta ketika fakta itu direpresentasikan kembali, oleh sebab itu dalam representasi fiksi ada fakta. Hal itu disebabkan dunia postmodern menolak obyektifitas. Dengan demikian, fiksi tidak mungkin dan mustahil hadir murni kefiksiannya, bahkan, bukan tidak mungkin tidak masuk akal ada fiksi yang murni, tanpa ada fakta agak sedikit pun (Zoest,1980:3). Sebagaimana realitas bagi manusia (Junus,1985:3), tak mungkin dapat lepas dari imajinasi, manusia tidak mungkin melihat realitas tanpa imajinasi. Dengan demikian, fiksi adalah fakta yang berselimut atau tertutup rapi.

 

Hadirin yang mulia,

Salah satu diskursus Foucault yang digunakan pada Cultural studies sastra adalah arkeologi. Adapun diskursus arkeologi cultural studies sastra pada teks rumah makan Padang pada novel UK, merupakan bentuk pengkajian pada situs (lokasi) tertentu dan berarti menggali “tempat-tempat lokal” terjadinya praktik-praktik diskursif, dan membuktikan adanya diskontiniu diskursuf (Barker, 2004a:11). Epistime tentang teks Padang dikaji dalam praktik diskursus dengan kondisi historis yang dibentuk dan dikendalikan suatu kekuasaan.

Dimulai dari teks rumah makan Padang yang merupakan teks yang berada di pinggir alur penceritaan novel UK, bukan teks utama, dan juga bukan pusat cerita, tema, alur dan tokoh. Rumah makan Padang, hanya beberapa kali disebut dalam novel UK (2005:170). Kajian arkeologi sastra cultural studies dimulai pada teks rumah makan Padang yang populer itu, sebagai tanda, tetapi bukan tanda dalam pengertian struktural intrinsik. Tanda pada cultural studies sastra dalam diskursus teks, representasi, artikulasi, emansipatoris. Sebagaimana kajian cultural studies (Sardar dan Van Loon, 2001:17-19), tentang teks  kari (gulai rempah) dan balti (wadah, kendi) sebagai tanda representasi diskursus restoran India dan kolonialis Inggris terhadap bangsa India, representasi ketertindasan dan artikulasi emansipatoris, keterpinggiran.

Persoalan ini mau tidak mau dimulai dari pertanyaan, bagaimana sejarah tentang  -apa sebabnya (mengapa)-  bangsa Minangkabau menyebut dirinya sebagai orang Padang. Kapan pertama kali orang Minangkabau dalam sejarah menyebut diri sebagai orang Padang. Di mana, dan siapa yang menggagas dan bagaimana peristiwa atau sejarah peralihan identitas Minangkabau menjadi identitas orang Padang.

Asal kata dan sebutan Orang Padang tidak dimulai dari trauma peristiwa perang saudara (PRRI dengan APRI), sebagai kasus pelarian identitas. Menurut Hadler (Genta Budaya, 1 Agustus-Oktober 1995, hal.61), jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, di Batavia sudah ada Rumah Makan Padang, sebab pada tahun 1910 sudah ada iklan Rumah Makan Padang di suratkabar Soenting Melayoe. Demikian juga pada suratkabar Pemandangan, tanggal 28 Mei 1937, pada masa pemerintahan Hindia Belanda (Suryadi, Singgalang, tanggal 13 Juli 2014). Dengan demikian, istilah Orang Padang atau Rumah Makan Padang sudah ada sejak pemerintahan Hindia Belanda. Dari kajian arkeologi cultural studies sastra dapat diungkapkan bahwa Orang Padang merupakan diskursus epistime yang dibangun pemerintah Hindia Belanda.

Selanjutnya ketika ditelusuri, apakah sebelum kedatangan bangsa Belanda sudah ada Rumah Makan Padang? Sampai di sini memang tidak ditemukan data sejarah nama Rumah Makan Padang, dan juga tidak mungkin dan tidak logis, karena Padang sebelum kedatangan bangsa Belanda hanya merupakan taratak  kecil (dusun) yang tidak dikenal, milik kaum VIII Suku, terletak di muara sungai Batang Arau (Kato,2005:65, Colombijn,2006:9,49-59, Amran,1988:369, Asnan,2007:21-37). Pada pihak lain, hanya ditemukan pada sastra lisan  Koba Gombang dan Tuongku (Seta, Wak, Al azhar dan  Zuarman Ahmad, 2009:125), nama “rumah makan Minangkabau” atau “rumah makan Minang”,  sebelum kedatangan bangsa Belanda. Dengan demikian Rumah Makan Padang sebelum pemerintahan Hindia Belanda tidak ada, yang ada Rumah Makan Minangkabau, (dikenal) dengan nama tempat makan minum anak Minangkabau, adapun di Minangkabau disebut dengan Lapau. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa nama Rumah Makan Padang merupakan diskursus kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda, sebelumnya rumah makan itu bernama Rumah Makan Minangkabau, atau di ranah Minang namanya lapau.

Secara perlahan dan sistemik identitas jati diri bangsa Minangkabau dihapus atau dipecah (diputus atau dicabut) oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika Raja Alam meninggal, maka diumumkan bahwa gelar Yang Dipertuan tidak ada lagi. Penghampusan gelar ini karena Residen de Stuers berpendapat bahwa Minangkabau yang dulu “harus tetap dalam keadaan dilupakan seperti yang telah ditentukan oleh jalannya sejarah” (Dobbin,2008:242. cf: Kundera,2000:262,263).

Foto 2: Dr. Fadlillah, M.Si. sedang menyampaikan orasi ilmiah di depan seluruh hadirin di Ruang Seminar FIB Unand pada tanggal 13 Maret 2019

Adapun ketika Indonesia merdeka, setelah peristiwa perang PRRI, pemerintah Indonesia kembali mengukuhkan nama Sumatra’s Westkust atau Sumatra Barat. Secara strategi politik, hal ini melumpuhkan, mengecilkan dan mengasingkan bangsa Minangkabau dari jati dirinya sendiri. Ibu kota dipindahkan dari Bukittinggi ke Padang, hal ini mengukuhkan kembali diskursus pemerintah Hindia Belanda, dan mengukuhkan istilah Orang Sumatra Barat, Orang Padang, bukan Orang Minangkabau, dengan pengertian pemerintah Indonesia sampai hari ini secara strategi politik kembali menjalankan strategi politik pemerintah Hindia Belanda yang secara perlahan merobohkan Minangkabau.

Sejak zaman Belanda sampai pada pemerintahan Indonesia, tanpa disadari hadir  diskurusus sistemik Minangkabauphobia yang memberikan stigma buruk terhadap kuliner Minangkabau bahwa kuliner Minangkabau sangat tidak sehat dan merupakan masakan berkolesterol sangat tinggi, berbahaya terhadap jantung, berujung pada penyakit stroke. Namun kajian ilmiah membuktikan bahwa semua bumbu masakan kuliner Minangkabau merupakan ramuan herbal yang menetralisir semua penyakit yang ditakuti itu (cf: Lipoeto, 2014:12, Limbago, 1996:3).

Rumah Makan Padang dalam sudut pandang (view) sastra, frame, lukisan kata-kata tentang teks rumah makan, merupakan dunia berketersiratan dan metafor, satir, ironi dan tragik tentang realitas. Dari kajian terhadap teks Rumah Makan Padang dalam novel UK, dapat diungkapkan, adanya diskontiniu diskursus suatu bangsa dan kebudayaan serta kekerasan epistime. Rumah Makan Padang, dapat dikatakan salah satu ikon jati diri dalam realitas di Indonesia yang tersisa dan terbelah, di tengah keramaian kota dan bangsa di Indonesia yang sedang berubah dalam arus globalisasi, sebagaimana diungkapkan pada tokoh Janir.

 

Hadirin yang mulia,

Salah satu indeksikal yang kuat dari teks Rumah Makan Padang pada novel UK adalah teks merantau. Hal itu berhubungan dengan hakekat rumah makan sebagai representasi atau bentuk lain dari perantauan bangsa Minangkabau. Bila teks Rumah Makan Padang adalah tanda maka teks merantau adalah salah satu indeksikal dari tanda orang Minangkabau, salah satu ciri khas (tanda, simbol)  dari kebudayaan Minangkabau. Sementara, representasi teks merantau dipinggirkan dalam novel UK Sakai, tidak menjadi judul utama, bab atau subtema, dalam bahasan cerita, dia bukan pokok bahasan, seakan diselimuti, ditutup rapi. Namun, artikulasi ini yang  membuat indeksikal teks merantau menjadi kajian cultural studies. Teks merantau representasi gaya hidup bangsa Minangkabau, ideologi dan cara pandang mereka terhadap kehidupan. Dengan demikian geneologi teks merantau dalam kehidupan kebudayaan Minangkabau menjadi salah satu prosesi yang secara alami dijalani secara poluler oleh setiap generasi keturunan bangsa Minangkabau. Merantau dalam episteme orang Minangkabau ada dalam tiga ranah yang terintegritas, yakni merantau fisik, pikiran dan spiritual (Navis, 1999:10,35).

Di samping itu, teks merantau merupakan representasi dari jati diri budaya matrilineal. Dalam budaya Minangkabau, pergi merantau bukan untuk dirinya atau memiliki, tetapi untuk memberi. Inti dari karakter merantau adalah kemampuan untuk “memisahkan diri” dari sesuatu yang disayangi, untuk mematangkan diri, untuk jadi manusia (jadi orang), untuk menemukan jati dirinya. Merantau merupakan praktik nyata dari hakekat empiris “kepindahan”, ini merujuk pada Islam yang dikenal dengan tradisi hijrah, dalam pengertian bahwa dengan berpisah itulah akan membuat cinta semakin bertambah dan teruji. Dalam simpulannya, hidup di dunia bagi orang Minangkabau adalah perantauan dan akhiratlah kampung halaman sesungguhnya, inilah pandangan hidup orang Minangkabau. Ini suatu hakekat dari narasi ritual prosesi haji yang dijalani tokoh Janir yang dapat diungkapkan dari novel UK dalam pandangan cultural studies sastra.

 

Hadirin yang mulia,

Teks surau pada novel UK, indeksikal yang ketiga dari teks Rumah Makan Padang, setelah diskursus teks merantau. Adapun teks surau memang merupakan teks yang tidak dibicarakan,  bukan tema, subtema dan dipinggirkan, tetapi menjadi teks kecil jika tidak tersembunyikan dalam novel UK (Sakai, 2005:22). Namun teks surau dalam kondisi itu ternyata berperan penting dan mendasar serta mempunyai hubungan yang kuat dengan teks merantau serta teks Rumah Makan Padang.

Teks surau merupakan hulu (indeksikalitas) dari teks merantau dan teks Rumah Makan Padang. Ketiga teks itu, merupakan rangkaian relasi siklus kehidupan orang Minangkabau. Dalam rangkaian siklus kehidupan itu teks surau merupakan pusat kebudayaan Minangkabau, karena teks surau merupakan ranah pendidikan dan tempat membentuk manusia Minangkabau. Siklus kehidupan laki-laki Minang, kehidupan dimulai dari rumah ibadah (dengan memberi dan bermanfaat untuk semua) dan diakhiri di rumah ibadah (minal masjidi ilal masjidi). Siklus ini divonis tidak masuk akal bagi kaum terpelajar sekolahan Belanda dan sekolah umum (pemerintah), yang disebut dengan kaum intelektual sekuler, liberal, dan para aktivis feminis, dan gender. Dianggap mereka sesuatu hal yang malang, menyedihkan dan diratapi serta digugat. Kehidupan laki-laki Minang divonis malang, dalam pandangan mereka, mereka menyatakan akan menimbulkan dendam kultural laki-laki Minang. Memang secara materialistik, laki-laki tidak mempunyai apa-apa, pada waktu kecil tidak mempunyai kamar, tidur di surau, merantau sendiri, tinggal di rumah istri,  tidak mempunyai rumah, tetapi membuatkan rumah hanya untuk orang (anak perempuan). Selanjutnya pada waktu tua kembali tidur di surau (kondisi ini divonis sebagai kehidupan yang telantar, menderita, sia-sia). Di lain pihak, siklus kehidupan seperti itu merupakan siklus budaya kehidupan kaum sufistik/tarikat, dan ini membuktikan bahwa pada hakikatnya kebudayaan Minangkabau adalah kebudayaan sufistik atau tarikat, yang tentu saja asing dan aneh (menyangkak kalang) bagi kaum sekuler, liberal, feminis dan gender dari dunia modern.

Teks surau dirobohkan secara sistemik oleh pemerintah kolonialis Hindia Belanda dengan mendirikan sekolah-sekolah liberal secara besar-besaran. Pembangunan sekolah liberal besar-besaran itu merupakan depresentasi kebudayaan Minangkabau (sampai hari ini tidak ada Minangkabau School), yang sesungguhnya berlansung dengan tenang, analoginya, seperti peristiwa kodok yang dimasukan ke dalam wadah air yang dingin, kemudian dipanaskan secara perlahan, sampai mematikan. Pemerintah Hindia Belanda paham, bahwa sekolah merupakan teknologi sosial untuk mengendalikan dan mendisain pengetahuan dan spiritual, kemudian selanjutnya untuk mengontrol bangsa Minangkabau, inilah yang disebut panoptikon pemerintah Hindia Belanda terhadap bangsa Minangkabau.

Pemerintah Hindia Belanda sudah membangun apa yang disebut oleh Foucault (1977:200) dengan istilah panopticum (kontrol sistemik), bahwa bangsa dan kebudayaan Minangkabau sudah di-“penjara” dan dikarantina. Gerak gerik bangsa Minangkabau diawasi dengan cermat. Diawasi paham-paham yang masuk kepada mereka, sehingga perjalanan melakukan ibadah haji pun dikontrol. Sebagaimana pada hari ini ritual haji pun masih tetap dalam gemgaman dan dikontrol oleh pemerintah Indonesia. Buku-buku yang akan dibaca dikontrol. Pemerintah Hindia Belanda terkenal memberantas bacaan liar, dan membangun panoptikon Balai Pustaka.