Kamis, 21 Maret 2019 08:19

Muhammad Nur Fajri, Alumni Sastra Jepang FIB Unand: Kuliah di Jepang Bukan Mimpi

Foto 1: Muhammad Nur Fajri bersama peserta Talkshow Inspiratif dari kalangan mahasiswa

FIB - Setelah kurang lebih enam bulan menjalani studi sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa pendidikan Strata-2 (S-2) pada Jurusan Linguistik Universitas Shizuoka di Jepang, Muhammad Nur Fajri atau akrab disapa Bang Ajik oleh kouhai(junior)-nya kembali ke Universitas Andalasuntuk memenuhi undangan menjadi pembicara dalam Talkshow Inspiratif bertema ”Kuliah di Jepang Bukan Mimpi” pada Jum’at, 15 Maret 2019 yang diselenggarakan oleh Visio Incubator, sebuah perusahaan inkubasi yang berpusat di Padang.

Kedatangannya itu bertepatan dengan diselenggarakannya rapat pleno kepengurusan Himpunan Mahasiswa (Hima) Jurusan Sastra Jepang Universitas Andalas, NIGAKKAI, tempat dimana dulu Ajik belajar berorganisasi. Oleh karena itu dia tidak bisa menghadiri undangan rapat tersebut. Selain itu, tujuan Ajik kembali ke Padang juga dalam rangka mengumpulkan data untuk tesis yang ia kerjakan.

Dalam talkshow-nya, Ajik menceritakan bagaimana cara memperoleh beasiswa ke Jepang.Menurutnya, pemerintah Jepang serta instansi-instansi tertentu cukup banyak dalam memberikan peluang untuk mendapatkan beasiswa guna melanjutkan pendidikan di negaranya.Beasiswa-beasiswa tersebut ada yang mencakupi uang kuliah saja, atau ada pula yang memberikan dengan tunjangan hidup untuk beberapa waktu.

Dalam hal ini, Ajik mendapatkan beasiswa dari Universitas Shizuoka dalam bentuk pembebasan dari uang kuliah selama 1 tahun, sedangkan untuk tahun berikutnya akan dilihat tergantung dari capaian akademik Ajik nantinya. Maka dari itu lah, menurut Ajik, Arubaito(kerja sampingan) untuk memenuhi kebutuhan selama menempuh pendidikan di Jepang mutlak diperlukan.

“Meskipun dibilang bekerja sambil kuliah, Arubaitoberbeda dengan pekerjaan-pekerjaan sampingan yang umum di Indonesia. Dengan mengikuti Arubaito di Jepang, kebutuhan hidup bisa terpenuhi dengan baik karena dengan gaji yang cukup besar dan dengan jam kerja yang proporsional, jadwal kuliah pun tidak terganggu,” ungkapnya.

Lewat pemaparannya tentang bagaimana kehidupan bermasyarakat dan kehidupan kampus di Jepang, Ajik menceritakan tentang pengalamannya sendiri setelah enam bulan belajar di Jepang. Meskipun itu bukan pertama kalinya ia mendapat beasiswa ke Jepang karena sebelumnya dia telah dua kali mendapat beasiswa Student Exchange selama menjadi mahasiswa Strata-1.

Ajik mengaku untuk hidup di Jepang memang diperlukan kedisiplinan yang kuat dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan Jepang yang demikian ketatnya. Oleh karena itu, Ajik berpesan bagi para peserta yang berminat ingin kuliah ke Jepang agar bisa ‘berpandai pandai’ disana.

Talkshow inspiratif yang berlangsung di Gedung F 2.1 tersebut cukup disambut antusias oleh para peserta pada sore hari itu. Ajik berharap peserta yang hadir dapat tergugah semangatnya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, tidak hanya di Universitas Shizuoka tapi juga kampus kampus lain di Jepang.