Kamis, 18 April 2019 12:47

Mahasiswa Sastra Inggris FIB Unand Jadi Duta Bahasa Sumbar 2019

Foto: Siti Ivadhea Harisa di media sosialnya

FIB - Siti Ivadhea Harisa, salah seorang mahasiswa Jurusan Sastra Inggris FIB Unand angkatan 2016, dinobatkan menjadi Duta Bahasa Sumatera Barat tahun 2019, yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Sumatera Barat pada 13 April 2019 bertempat di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Barat.

Pemilihan Duta Bahasa Sumatera Barat tahun 2019 ini dibagi menjadi sembilan tahapan, yakni tahap pendaftaran peserta, pengumuman  seleksi berkas (60 orang), seleksi wawancara, pengumuman hasil wawancara (15 pasang), tes Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia (UKBI), pengumuman finalis (10 pasang), taklimat, karantina, dan malam penganugrahan.

Siti Ivadhea Harisa mengatakan bahwa tahap pertama yang harus dia lakukan dalam kegiatan Pemilihan Duta Bahasa Sumatera Barat tahun 2019 ini adalah tahap seleksi administrasi dan motivasi, yaitu berupa pengambilan formulir pendaftaran dan pembuatan makalah. 

“Motivasi saya mengikuti kegiatan ini adalah karena saya sangat suka membaca, terutama yang berhubungan dengan sastra. Motivasi lain yaitu karena saya merasa prihatin dengan rendahnya minat literasi atau membaca masyarakat Indonesia terutama di Sumatera Barat,” ujarnya saat diwawancarai via Whatsapp.

Dikatakan Siti Ivadhea Harisa, tema yang dia ambil dalam makalahnya adalah “Pemberdayaan Digitalisasi Untuk Meningkatkan Angka Literasi DI Sumatera Barat”. Dia menjelaskan bahwa secara garis besar makalah tersebut berisi bagaimana perkembangan digitalisasi dapat diperdayakan untuk meningkatkan minat membaca masyarakat, atau dalam bahasa lain bagaimana melihat sisi positif dari perkembangan digitaliasi sebagai salah satu wadah untuk meningkatkan minat baca daripada melihat sisi negatif dari perkembangan digitalisasi itu sendiri.

Setelah dinyatakan lulus dalam seleksi berkas, Siti Ivadhea Harisa melaju ke tahap wawancara. Pada tahap ini, ia mengatakan bahwa wawancara dibagi menjadi tiga bagian yakni wawancara kepribadian, wawasan kebahasaan, dan program kerja.

Setelah tes wawancara, Siti Ivadhea Harisa menjelaskandia harus mengikuti tes Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia (UKBI).  Ketika sudah lulus pada tes UKBI, dia harus mengikuti taklimat dan kegiatan karantina.

Keudian Siti Ivadhea Harisa menjelaskan bahwa banyak pengalaman menarik yang dia rasakan ketika mengikuti Duta Bahasa Sumatera Barat tahun 2019 ini terutama pada saat karantina.

“Jadwal di karantina sangat padat sekali. Pada saat karantina kami pergi ke TVRI, RRI, perpustakaan daerah, dan Mancakrida. Bagi saya, Mancakrida ini yang paling unik. Mancakrida adalah outbound bersama teman-teman ikatan dan kami saling melebur satu sama lain. Rasa kekeluargaan sangat terasa pada saat outbound ini.  Ada satu hal yang menarik dari karantina di Duta Bahasa Sumatera Barat.Kami merasa tidak seperti sedang berkompetisi karena memang semua finalis ini sudah merupakan Ikatan Duta Bahasa Sumatera Barat. Sepuluh pasang finalis ini sudah merupakan ikatan yang mempunyai ikatan dinas selama satu tahun. Jadi, ketika malam penganugrahan hanya pembagian gelar saja,” tuturnya.

“Pada saat karantina, saya bertemu keluarga baru yang sangat luar  biasa. Bagi saya, itu adalah salah satu anugerah terbesar ketika mengikuti Duta Bahasa Sumatera Barat tahun 2019 ini. Jika ditanya apa duka yang saya rasakan ketika mengikuti kegiatan ini mungkin sedikit lelah karena kegiatannya yang sangat padat dan menguras energi serta pikiran. Akan tetapi, saya menikmati semua proses itu,” tambahnya.

Pada malam penganugrahan, Siti Ivadhea Harisa tidak menyangka bahwa dia akan menjadi Duta Bahasa Sumatera Barat tahun 2019 karena menurutnya finalis yang lain juga memiliki kemampuan yang luar biasa. Kendatipun demikian, Dhea (nama panggilan) berharap dengan terpilihnya dia sebagai Duta Bahasa Sumatera Barat tahun 2019,dia dapat memberikan dampak yang baik kepada masyarakat dengan memberitahukan bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar dengan tetap menguasai bahasa daerah dan bahasa asing.

“Saya berharap, masyarakat Indonesia dapat lebih cerdas dalam menggunakan bahasa dan lebih cerdas dalam berpikir. Saya juga berharap agar rakyat Indonesia bisa mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Menurut saya, tiga hal ini dapat menjadi pegangan bagi kita untuk menjadi seorang nasionalisme yang baik. Ketiga hal ini memberikan pengajaran kepada kita agar kita mengenal siapa jati diri kita dengan  melestarikan kebudayaan kita, serta kita bisa mempelajari budaya negara lain ketika kita mampu menguasai bahasa asing,“ ujarnya.

Siti Ivadhea Harisa  menekankan bahwa penggunaan bahasa gaul di Indonesia bukanlah hal yang salah karena kita tidak harus menggunakan bahasa formal setiap hari dan setiap saat. Akan tetapi, katanya pencampuran dua bahasalah yang mungkin harus dihindari.

“Jadi, berpandai-pandailah dalam menempatkan dan menggunakan bahasa. Jangan lupa, kalau awak dituntuik babahoso Minang, tolonglah babahaso Minang sacaroelok. Akantetapi, jika kita harus menggunakan bahasa Indonesia yang formal gunakanlah bahasa Indonesia yang baik benar, but if we have to use English as a comparative study, please use English correctly,” simpulnya.

Reporter: Mita Handayani, Editor: Ayendi, Admin: Tri Eka Wira

Read 70 times