Kamis, 20 Juni 2019 14:25

SURAT PERJANJIAN DO

SURAT PERJANJIAN

 

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama                                    :

Tempat & tgl Lahir           :

No. Induk Mahasiswa    :

Program Studi                   :

Fakultas                               :

No. HP.                                 :

Alamat Email                      :

 

Dengan ini berjanji akan meneyelesaikan studi saya paling lambat 1 Juli 2019 Apabila saya tidak dapat menyelesaikan studi saya sesuai dengan batas waktu tersebut diatas, maka saya bersedia menerima sanksi Do (Drop out) sesuai dengan Peraturan Rektor Universitas Andalas No. 6 Tahun 2016.

Demikianlah perjanjian ini saya buat dengan sebenarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. (Download)

 

 

Foto1: Siaran live Dr. Aslinda. M.Hum. di televisi yang disiarkan Stasiun TVRI Padang

FIB - Dr. Aslinda, M.Hum., salah seorang dosen dan juga Ketua Jurusan di Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand, berkesempatan tampil secara live menjadi narasumber di Stasiun TVRI Padang dalam program “Mambangkik Batang Tarandam” yang membahas mengenai Budaya Alam Minangkabau (BAM) dengan topik utama Sopan Santun di Minangkabau dalam ke Kinian. Acara tersebut disiarkan pada Selasa, 18 Juni 2019 pukul 09.00 – 10.00 WIB.

Dr. Aslinda, M.Hum. menyebutkan acara tersebut diawali dengan pembahasan konsep mengenai sopan santun yang dapat dipahami dari Kato nan Ampek (kata yang empat), yangmerupakan pijakan awal masyarakat Minangkabau dalam berinteraksi dengan lawan tuturnya. Pemilihan Kato nan Ampek dalam berinteraksi dengan orang lain dinilainya lebih tepat dalam menyampaikan tuturan kepada lawan bicara. Konsep Kato nan Ampeklanjutnya menjadi ukuran dalam kedewasaan, kearifan, dan kematangan

“Jadi dalam Kato nan Ampek dapek mancaliak sia (dapat melihat siapa) lawan tutur awak (kita) dan akan mamiliah bantuak apo tutuan (memilih bentuk apa tuturan)yang akan disampaikan. disitu ado kato manurun, malereng, mandaki, dan mandata (ada kata menurun, melereng, mendaki, dan mendatar),” ujar Dr. Aslinda, M.Hum. ketika diwawancari pada Rabu, 19 Juni 2019 di Koridor FIB Unand.

Kemudian paparnya terkait dengan rangkaian acara, salah seorang presenter acara tersebut menanyakan mengenai perbedaan kesantunan berbahasa yang dulu dengan kesantunan yang sekarang. Hal ini jelas katanya memiliki perbedaan bahwsanya kesantunan yang dulu jelas duduk persoalan dan penggunaannya, misalnya katanya dalam berbicara pada orang yang lebih tua menggunakan kata sapaan yang lebih sopan. Itu ucapnya mencerminkan seseorang tersebut menghargai dan menghormatinya. Lalu lanjutnya, Orang Minangkabau tempo dulu sangat menjunjung tinggi penggunaan kato nan ampek yang menandakan kesantunan mereka dalam berbicara menghadapi lawan bicaranya.

Foto 2: Foto ketika Dr. Aslinda, M.Hum. berdiskusi dengan Reporter di Stasion TVRI Padang

Berbeda dengan sekarang menurut Dr. Aslinda, M.Hum., sebagian besar masyarakat Minangkabau dalam bertutur tidak lagi mencerminkan kesopanan. Misalnya saja ujarnya dapat dilihat dalam grup whatsaap.Sebagian besar bahasa yang digunakan dalam bertutur ya paparntidak mencerminkan kesopanan. Terkadang sebutnyasebdalam pembicaaraan mereka cenderung tidak menghargai orang lain, serta kasar, dan lebih mementingkan keegoisan diri. Menurut pengamatannya, zaman dulu orang lebih menjaga kesantunan dan keharmonisan dalam berinteraksi, tetapi zaman sekarang katanya orang lebih cederung emosi, lebih mementingkan diri sendiri, dan menyalahkan orang lain.

Dalam kehidupan orang Minang terangnya terdapat nilai-nilai dalam kesantunan. Nilai-nilai tersebut seperti yang diutarakannya diantaranya; nilai kerendahan hati, nilai keramahan, nilai sportif, nilai kejujuran, nilai pemurah, nilai kesabaran, nilai ketenangan, nilai penyayang, nilai kepedulian, nilai kearifan, nilai kehati-hatian, dan terakhir adaptif mampu beradaptasi dengan baik.

“Orang Minang yang santun itu mereka rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Tetapi berbeda dengan sekarang, nilai itu telah banyak ditinggalkan dan saat bertutur mereka banyak yang menyombongkan diri. Nilai-nilai kesantunan tersebut yang sudah tidak digunakan oleh masyarakat Minagkabau pada saat sekarang dan sangat memprihatinkan,” ujar Dr. Aslinda, M.Hum.

Kemudian lanjutnya, ditengah hangatnya perbincangan mengenai perbedaan kasantunan dulu dengan yang sekarang, kemudian muncul pertanyaan, imbuhnya, kalau orang yang tua-tua juga banyak melanggar aturan Undang-Undang Nan Salapan yang merupakan hukum pidana adat Minangkabau.Kemudian apa yang harus dilakukan? tanyanya. Hal itukatanya merupakan sebuah pertanyaan yang menarik dan memang sesuai dengan kejadian saat ini.

Secara dialogis dia menegaskan bahwa tidak hanya anak muda yang kurang santun dalam berbicara, tetapi golongan tua juga berbicara jauh dari nilai kesantunan. Seharusnya golongan tua itu menjadi tauladan bagi para golongan muda, tetapi malah sebaliknya dalam bahasa Minangkabau dikenal dengan sebutan Tungkek nan Mambawok Rabah (tongkat yang membawa rebah).

Kemudian tanggapannya, hal yang juga banyak terjadi saat sekarang yaitu ibu-ibu muda cenderung mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anaknya.Hal tersebut pendapatnya membuat keberadaan Bahasa Minangkabau menjadi terancam dan banyak dari anak-anak muda saat sekarang tidak mengenal Kato nan Ampek yang merupakan pijakan awal masyarakat Minangkabau dalam bertutur kata.

“Salah satu upaya yang telah kami lakukan untuk mengembalikan kesantunan berbahasa dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yaitunya dimulai dari hal kecil dengan mengumpulkan para pedagang disekitar Pantai Padang di Tanah Ombak, yaitu tempat pembelajaran yang dibangun bagi orang-orang yang tidak mampu disekitaran wilayah pantai.Di sana kami berikan sosialisasi kepada para pedagang tersebut tentang bersikap ramah kepada para pembeli dengan menggunakan tutur bahasa yang baik, agar pendapatan para pedagang tersebut bertambah. Kebanyakan dari mereka menggunakan tutur bahasa yang kasar kepada pembeli jika si pembeli itu tidak jadi membeli dagangan mereka dan kemudian mereka juga cenderung menjawab pertanyaan pembeli dengan tidak sopan. Jadi kami mencoba memberitahu mereka berbudi bahasa itu sangat penting.Jika ada yang menawar dagangan kita maka bisa dijawab dengan sopan,” paparnya..

Menutup penjelasanya, Dr. Aslinda, M.Hum. menyatakan sebenarnya kesantunan dalam berbicara sangat penting karena dengan gaya berbicara seseorang, maka dia akan dapat dihargai serta tutur kata yang baik mencerminkan kepribadian yang baik pula.

Reporter: Muthia Delima Putri, Editor: Ayendi

Rabu, 19 Juni 2019 14:55

PEMBERITAHUAN

PEMBERITAHUAN

No : B/261/UN.16.7/WDI/PK.02.00/2019

 

 

Diberitahukan kepada semua mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas bahwa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menyelenggarakan program credit earning (kuliah di Fakultas Ilmu Budaya di Universitas lain di Indonesia) setiap semester dengan :

 

  1. FIB Universitas Udayana, Bali
  2. FIB Universitas Hasanuddin, Makasar
  3. FIB Universitas Sumatera Utara, Medan

 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi bagian Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.