Items filtered by date: Jumat, 15 Februari 2019
15 Februari 2019 In Profil
15 Februari 2019 In Profil

Unduh Buku Panduan Penelitian FIB

  1. Edisi 1 Tahun 2018
  2. Edisi 2 Tahun 2019
15 Februari 2019 In Berita & Peristiwa

Foto: Hanafi, S.S., M.App. Ling., Ph.D., Ketua Jurusan Sastra Inggris Periode 2018 s.d. 2022, sewaktu wisuda S-3 di the University of Melbourne, Australia

 

FIB - Hanafi, S.S., M.App. Ling., Ph.D., dosen Jurusan Sastra Inggris FIB Unand yang sekarang diamanahi sebagai Ketua Jurusan (periode 2018 s.d. 2022), memilih Applied Linguistics sebagai bidangnya, dan memfokuskan kajian penelitiannya tentang Interlanguage Pragmatics, Sociolinguistics and Language Learning, danSecond Language Acquisition (SLA). Hal itu dibuktikan dengan berbagai penelitian S-2, S-3, dan penelitian-penelitian mandiri yang digelutinya hingga saat ini.  

Hanafi, S.S., M.App. Ling., Ph.D., biasa dipanggil dengan nama yang sama, yaitu Hanafi oleh rekan kerjanya di Jurusan Sastra Inggris, lulus S-1 dengan peringkat Cum Laudedari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Unand pada tahun 2002.

Setelah itu, ia mendapatkan gelar S-2 nya di bidang Applied Linguistics di University of Melbourne, Australia tahun 2007 dengan judul tesis “The Acquisition of Address Terms by Learners of Indonesian as a Foreign Language”. Tesis itu termasuk ke dalam kajianInterlanguage Pragmaticssebagai satu sub-kajian dari bidang Second Language Acquisition (SLA).

“Jadi, bukan sekedar belajar pragmatik, tapi bagaimana orang menguasai konsep pragmatis dalam bahasa yang dipelajarinya. Yang diteliti itu bukan sekedar mampu ngomongnya, tapi bagaimana menerapkannya dengan memenuhi unsur-unsur pragmatis,” ungkapnya.

Pada akhir tahun 2010, Hanafi kembali melanjutkan studi S-3 nya di universitas yang sama dengan S-2 nya, yaitu di University of Melbourne, Australia, dengan mendapatkan beasiswa Pendidikan Pascasarjana Luar Negeri,yang bernama BPP-LN dari Dikti, dan ia berhasil menamatkan studi serta wisuda di tahun 2015.

Sejalan dengan tesis S-2 nya,disertasi Hanafi juga di bidang AppliedLinguistics, dengan fokus yang sedikit berbeda. Disertasi Doktoral-nya berjudul “Comparing interactional compentence between learners and native speakers of Indonesian”.

Terdapat tiga hasil dalam penelitian disertasinya tersebut. Pertama, dia mendokumentasikan urutan interaksi dalam percakapan (sequence of interaction)orang Indonesia dalam memperkenalkan diri kepada orang asing. Disertasi yang dilakukannya itu mendeteksi kemampuan berinteraksi penutur asli dan pembelajar Bahasa Indonesia. Dengan demikian, kajian itu memperkuat penawaran pendekatan baru dalam analisis kajian interlanguage pragmatics, yaitu menawarkan metode ConversationAnalysis (CA) sebagai satu metode analisis dalam kajian SLA, atau lebih dikenal dengan istilah CA for SLA.

Jadi, yang dilihat itu adalah norma sosial atau organisasi sosial yang ada di dalam percakapan; bagaimana seseorang memperkenalkan diri; dan bagaimana orang lain meresponnya.Ada urutan-urutannya, dan urutan itu biasanya fix,” jelasnya.

Menurut Hanafi, urutan percakapan itu sudah pernah dilihat dalam bahasa Denmark, Swedia, atau bahasa Eropa lainnya, tapi belum pernah didokumentasikan pada bahasa Indonesia.

“Jadi yang dilihat dalam disertasi saya itu adalah perbedaan cara orang Indonesia (native speaker-nya) memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia dengan cara orang asing belajar bahasa Indonesia ketika memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia.”

Untuk penelitian tersebut, Hanafimenggunakan informan orang asing yang belajar bahasa Indonesia di berbagai kota di Indonesia,tepatnya di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung sekaligus juga orang asing yang belajar bahasa Indonesia di Australia.

Selain itu, yang kedua, dia juga meneliti mengenai urutan negosiasi (sequence of negosiation), yaitu melihat cara orang yang baru berkenalan melakukan negoisasi untuk mencapai kesepakatan terhadap tujuan tertentu.

“Waktu itu, mereka dihadapkan pada kasus bagaimana merencanakan kegiatan libur bersama. Jadi menarik sekali melihat mereka orang-orang yang baru kenal itu bernegosiasi. Negosiasinya itu naturalistik, alamiah. Pada penelitian itu mereka membayangkan diri mereka seperti diri mereka sendiri. Jadi tidak seperti role play sifatnya. Mereka betul-betul bertemu dan kemudian merencanaan kegiatan pada hari minggu besok dengan orang yang baru mereka temui itu. Jadi yang mereka bicarakan itu real. Itu tidak di kelas, tetapi di tempat yang mereka nyaman. Di-setting pertemuanya, di mana mereka bisa bertemu, diatur dan disanalah mereka ngomong,” paparnya lagi.

Yang ketiga itu, katanya, ia juga meneliti mengenai reciprocality, yaitu melihat struktur ketika orang saling balas-membalas dalam percakapan. Struktur resiprokal dalampercakapan itu menurut Hanafi tidak pernah dibahas dalam teori bahasa kedua dan teori conversation analysis secara empiris.

“Kekuatan tesis ini di bagian dua tadi, struktur negosiasinya dan struktur resiprocality-nya karena ketika kita ngomong, kita tidak mungkin ngomong atau bertanya ke orang, habis itu diam. Itu yang dianggap kurang sopan. Itu menunjukkan sikap yang tidak antusias. Seharusnya ada umpan balik. Jadi jika ada orang bertanya apa kabar? Anda balas kabar yang baik. Biasanya akan ada lagi respon. Orang akan bertanya balik. Seberapa jauh struktur resiprocal ini terjadi terhadap orang-orang yang baru berkenalan,” paparnya.

Bagi Hanafi, kuliah di luar negeri seperti di University of Melbourne memberikan pengalaman yang sangat berarti dan membuka wawasan. Iadapat melihat cara orang negara luar mengembangkan sistem pendidikan, tatanan sosial, sistim struktur sosial, terutamabagaimana mereka melakukan kegiatan akademik,dan kegiatan-kegiatan lain yang berbasis komunitas.

“Jadi, kita bisa lihat bagaimana orang di negara maju menjalankan kehidupannya, sehingga hal-hal positif dapat diambil dan dibawa pulang ke negara kita.Selain itu, dengan tinggal di sana, kita bisa memperkuat jiwa nasionalisme. Semakin lama kita tinggal di situ semakin kuat sebetulnya cinta kita pada Indonesia. Kita sadar kalau negara kita sebenarnya sudah berkecukupan, dan kita dapat memperkuat rasa nasionalisme kita”, ujarnya.

Sebaliknya ia mengungkapkan hal yang tidak menyenangkan baginya itu adalah home sick.“Susahnya hidup negara orang, pastilah kita akan rindu rumah, susah mencari makanan yang sesuai selera, jauh dari keluarga besar ketika hari-hari penting, Meskipun keluarga inti dibawa tetap tidak serasa berhari raya,” dia menyatakan.

Saat sekarang, Hanafi juga sedang melakukan dua penelitian. Yang pertama itu penelitiannya mengenai “Penguasaan Kata Sapaan”. Dia mencoba melihat penggunaan polaaddress term/kata sapaan.

“Karena di kalangan generasi muda penggunaan kata sapaan itu sudah menurun kelihatannya. Mungkin sudah banyak yang membahas tentang kata sapaan,cuma rasanya setahu saya belum ada yang membahas sampai prosedurnya, sequence atau urutannya dan kemudian pemakaiannya. Pemakaian kata-kata sapaan itu kan periodik, jadi sampai seberapa periodik dia dipakai. Adakah ukuran-ukurannya,” ungkapnya.

Saat ini katanya penelitian itu sudah sampai tahap pemetaan komunitas-komunitas yang akan dimintakan datanya. Datanya itu katanya harus memakai teknik Grammaticality Judgment atau Appropriateness Judgment,yaitu penilaian keberterimaan struktur yang ditawarkan.

“Sebagai contoh, pemakaianaddress term yang ini misalnya kira-kira masyarakat menerima nggak, dianggap sopan nggak, skalanya sangat sopan kah, kurang sopankah, atau bagaimana. Jadi itu perlu dijalankan dahulu. Ini masih dalam tahap mapping,” ucapnya.

Selain itu, dia juga sedang meneliti mengenai hubungan antara penguasaan bahasa Inggris dengan sikap pembelajar bahasa Inggris terhadap komunitas bahasa Inggris.

“Kita sama tahu bahwa orang Indonesia itu sudah banyak yang belajar bahasa Inggris sejak kecil, akan tetapi sampai sekarang banyak orang Indonesia yang tidak bisa berbicara menggunakan bahasa Inggris. Nah, saya berasumsi kalau persoalan utamanya terletak pada sikap mereka terhadap orang yang belajar bahasa Inggris,” jelasnya lagi.

Hanafi pernah melakukan survei awal terhadap orang-orang yang tidak suka dengan orang yang belajar bahasa Inggris. “Ketika sekelompok orang ngomong bahasa Inggris pasti kena cimeeh (olokan) lah, caliak-caliak ereng (melihat dengan sinis). Ketika ditanya betul kepada mereka yang men-cimeehatau yang menunjukkan rasa sinis itu, apakah bahasa Inggris itu penting atau tidak, mereka sebenarnya menunjukkkan sikap yang positif,” ia memaparkan.

Rata-rata menurut Hanafi, sikap orang-orang yang tidak suka dengan orang yang belajar bahasa Inggris terhadap Bahasa Inggris itu sendiri positif. Mereka mengakui bahwa bahasa Inggris itu penting dan perlu untuk dipelajari, ungkapnya. Cuma herannya, ketika ditanyakan sikap mereka terhadap orang yang belajar bahasa Inggris, terjadi perbedaan. Maka menurutnya disini terjadi paradoks karena persepsi mereka menjadi negatif terhadap orang yang praktek berbicara bahasa Inggris.

“Sementara anehnya, mereka positif menganggap bahasa Inggris itu penting. Jawabannya dari investigasi yang saya lakukan itu untuk sementara ini akarnya mengarah pada pengalaman mereka dengan guru-guru dan dosen-dosen yang pernah mengajar mereka terutama mereka yang mendapatkan guru yang tidak simpatik dalam mengajar Bahasa Inggris pada tingkat SMP dan SMA. Efeknya terlihat ketika mereka mulai membenci orang-orang yang belajar bahasa Inggris karena sebetulnya itu kompensasi kecewaan mereka diperlakukan guru-guru Bahasa Inggris mereka sewaktu SMP dan SMA.Pengalaman negatif ini berefek sampai ke perguruan tinggi,” jelasnya.

Namun hal ini kata Hanafi baru asumsi dan perlu dibuktikan, apakah betul demikian, karena menurutnya ada kemungkinan juga hal ini berlanjut di perguruan tinggi terhadap dosen yang tidak suka melihat komunitas orang yang berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Mereka akan menjadi ter-block/terhalang dari penguasaan bahasa Inggris karena menguasai bahasa secara aktif itu butuh komunitas. Hanafi berharap,“Jika kita petakan penyebabnya, kita bisa juga petakan solusi bagaimanamengatasinya.”

Semua penelitian Hanafi itu sifatnya adalah penelitian mandiri. “Saya tidak suka mengajukan proposal yang dibiayai Dikti karena secara pribadi saya menganggap lebih banyak sistem yang membuat waktu dan energi terbuang percuma, terutama sistem administrasi pelaporan keuangannya. Mungkin dalam penelitian kita tidak butuh adanya bahan-bahan tertentu, tapi untuk memenuhi tuntutan administrasi tadi harus diadakan atau dimanipulasi,” ujarnya.

Bagi Hanafi hal itu tidak bisa diterimanya. “Kalau itu berbasis outcome, outcome-nya terbitan artikel ke jurnal internasional, mungkin saya akan pertimbangkan untuk ikut. Jika sistemnya masih yang lama, saya lebih baik melakukan penelitian mandiri karena kita lebih bebas mengelolanya dan bisa lebih fokus,” pungkasnya.

Humas: Ayendi, Admin: Tri Eka Wira