Items filtered by date: Senin, 25 Februari 2019
25 Februari 2019 In Berita & Peristiwa

Foto 1: Shalih Dzakiyyah Farda bersama kedua orangtua dinobatkan berfoto bersama Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si., dan Wakil Dekan I, Dr. Ferdinal, M.A saat Wisuda I tahun 2019 berlangsung

FIB –   Shalih Dzakiyyah Farda, mahasiswa Jurusan Sastra Inggris angkatan 2015 menjadi wisudawan terbaik pada wisuda I FIB Unand yang bertempat di Ruang Seminar FIB Unand pada Selasa, 23Februari 2019.

 

Shalih Dzakiyyah Farda, yang oleh teman-temannya akrab dipanggil Shalih, lahir di Padang 22 tahun yang lalu tepatnya tanggal 14 Desember 1997. Diatidak pernah berpikir untuk menjadi wisudawan terbaik kali itu.Dia mengungkapkan, ”Dari masuk kuliah, lebih mengejar ke passion sendiri sih.Emang(memang) sukanya dibidang ini dan lebih memfokuskan diri ke bidang itu sendiri, jadi sama sekali enggak(tidak) ada kepikiran mau mencapai yang terbaik itu.”

 

Shalih awalnya sempat berpikir ingin kuliah di daerah Jawa, tetapi tidak mendapatkan izin dari orang tua karena dahulu ia sempat menjadi anak tunggal sebelum adiknya lahir saat umur Shalih 16 tahun. Maka akhirnya ia kuliah di Universitas Andalas. Namun, ia tidak pernah menyesalinya.“Mungkin kalau kuliah di Jawa, belum tentu jadi wisudawan terbaik kan!”tuturnya.

 

Shalih menjadi mahasiswa Unand melalui jalur SNMPTN. Sastra Inggris adalah pilihan pertamanya dan ia merasa sangat bersyukur atas diterimanya ia menjadi mahasiswa Jurusan Sastra Inggris di Unand. Awalnya ia ingin masuk jurusan lain, namun ia lebih suka dengan hal berbau sastra, budaya,dan bahasa. Orang tuanya pun mendukungnya di Jurusan Sastra Inggris, karena prospek untuk mencari pekerjaan lebih besar.

 

Kendala selama kuliah pun pernah ia alami, yaitu tugas. Terkadang ia harus begadang, namun ia berkata bahwa sepertinya setiap mahasiswa mengalami itu, sehingga kendala yang ia alami adalah kendala mahasiswa pada umumnya.

 

Shalih merasa tersanjung karena menjadi wisudawan terbaik, namunsekaligus beban bagi Shalih, karena ia membawa nama universitas untuk melangkah ke masa depan, ditambah dengan ia menjadi wisudawan terbaik. Jadi orang-orang banyak yang berharapbanyak. Degan titel ini, ia merasa harus berusaha untuk mencapai harapan orang itu.

Foto 2: Shalih Dzakiyyah Farda saat memberi kata sambutan mewakili para wisudawan lainnya pada Wisuda I FIB Unand tahun 2019

Orangtua Shalih kaget saat diberitahu bahwa anak sulungnya menjadi wisudawan terbaikkarena orangtua Shalih tidak pernah menuntutnya menjadi wisudawan terbaik. Orangtuanya hanya memacunya.Ia menyampaikan bahwa orangtuanya pernah berpesan, “Kalau bisa cum laude kenapa tidak, kalau bisa melebihi dari apa yang di-ekspektasi-kan kenapa tidak, sebisa mungkin capailah setinggi-tinggi potensi kamu.”

 

Shalih menamatkan perkuliahannya selama 3 tahun 5 bulan dengan IPK 3.91dan memperoleh predikat ‘Dengan Pujian’. Judul skripsi Shalih yakni “Cultural Hegemony in J.k Rowling’s Harry Potter Series: A Marxist Reading” dengan bimbingan dari dua dosen pembimbing yaitu, Gindho Rizano, S.S., M.Hum. dan Edria Sandika, S.S., M.Hum. Shalih sering diingatkan oleh kedua dosen pembimbingnya terkait penyelesaian skripsi, sehingga ia merasa terpacu untuk cepat menyelesaikan skripsinya

 

Selama pembuatan skripsi, Shalihmemang merasakan kesulitan.“Letak susahnya itu adalah ketika kamu harus menemukan bacaan yang tepat yang bakal berkaitan dengan apa yang akan kamu tulis nanti, maksudnya supaya kita mendapatkan suatu out put kita harus nemuin(menemukan) in put yang benar,” jelasnya. Selain itu, ia juga merasa kesulitan untuk mendalami sebuah teori, namun karena ia dibantu oleh dosen pembimbingnya, ia mendapatkan pencerahan. Shalih menyampaikan, yang penting jangan terpengaruh dengan lingkungan sekitar.

 

Motivasipertama Shalih untuk menyelesaikan perkuliahan adalah orang tuanya, yaitu ayahnya yang bernama Ferdi (dosen) dan ibunya yang bernama Ulwarida (ibu rumah tangga). Shalih mengatakan bahwa ia harus ingat bahwa orangtuanya yang membiayai kuliahnya.“Orangtua adalah faktor utama.Kenapa kita bisa duduk disini, yakarena orang tua kita!”

 

Motivasi yang kedua yaitu dorongan dari diri sendiri.Perlu adanya kesadaran diri bahwa ini adalah yang dibutuhkan untuk pencapaiannya dimasa depan.“Dengan kita fokus kuliahnya, yang akan memetik hasilnya ya bakal kita,” ujarnya.Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa harus melihat lingkungan sekitar juga.“Dengan melihat mereka yang sukses,  pasti kita juga pengenkaya(ingin seperti) mereka,” imbuhnya.

 

Pada tahun pertama di perkuliahan, Shalih pernah mengikuti organisasi tingkat universitas.Pada tahun kedua, ia mengikuti himpunan mahasiswa di Jurusan Sastra Inggris, dan pada tahun ketiga, ia menjadi staff di Resource Center Jurusan Sastra Inggris yang memberikan layanan buku-buku dan sumber referensi lainnya. Meskipun Shalih mengikuti kegiatan di luar kegiatan perkuliahan, Shalih tetap dapat fokus terhadap kuliahnya. Terbukti, kini ia menjadi wisudawan terbaik.

 

Shalih memiliki cara agar dua hal yang dijalani dapat berjalan secara bersamaan tanpa mengganggu satu sama lain. Ia mengatakan, “Misalnya kamu dikasih(diberi) suatu tugas, itu jangan kerjakan mepet(di akhir waktu) deadline.Kamu dapat tugas, kamu angsur-angsur dari kapan kamu diberikan tugas itu, jadi semisal dalam rentang waktu kamu kerjakan tugas, ada meeting dari organisasi ini, itu, kamu masih bisa membagi waktu, yang tugas dikerjakan, organisasinya juga jalan.”

 

Shalih ada keinginan untuk mengikuti Student Mobility, namun tidak tercapai karena menurut Shalih, mungkin ia memang harus fokus merampungkan skripsinya. Jadi walaupun tidak mengikuti Student Mobility, tetapi skripsinya selesai. “Kayak-nya(sepertinya) memang harus ada yang dikorbankan salah satu,”  ujarnya.

 

Setelah menamatkan pendidikan S1, Shalih bermaksud ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 jika ada kesempatan. Namun, ia lihat dahulu bagaimana nantinya.“Kan enggak(tidak) ada yang tahu rencana Tuhan’Kalau ditengah-tengah dapat pekerjaan, ada dikasih(diberi) rencana lain, tapi untuk rencana pribadi, pinginnya lanjut S2,” harapnya.

 

Saat diwawancara di Resource Center, Selasa, 12Februari 2019, Shalih berpesan kepada teman-teman dan juniornya, “Jangan menyerah, karena memang perkuliahan itu pasti berat, tapi seberat apapun tetap harus bisa dilewati ya, jangan sampe(sampai) ada pikiran ‘Udah(sudah) lah udahan aja udah putus asa,’ pasti ada pikiran ‘mau dapat nilai apa aja udahlah,’ tapi jangan sampai kita mencapai titik itu sebelum berusaha.Kita  harus bisa masukkan effort semampu kita, baru kita bisa bilang, ‘Udahlah lihat hasilnya gimana.’Jadi intinya kita harus usaha semaksimal mungkin, jangan langsung patah semangat, dan satu lagi ikuti passion, karena selama kamu enjoy dengan yang kamu kerjakan, insya-Allah  enggak bakal terasa berat, enggak seberat yang kamu duga, gitu!”

 

Adapun Lulusan terbaik setiap Program Studi pada Wisuda I tahun 2019 FIB Unand adalah sebagai berikut :

  1. Shalih Dzakiyyah Farda, Jurusan Sastra Inggris, IPK 3.91, predikat ‘Dengan Pujian’(lulusan terbaik FIB Unand)
  2. Lastry Monika, Jurusan Sastra Indonesia, IPK 3.70, predikat ‘Sangat memuaskan’
  3. Nila Putri, Jurusan Ilmu Sejarah, IPK 3.49, predikat ‘sangat memuaskan’
  4. Rahmatul Laila, Jurusan Sastra Minangkabau, IPK 3.61, predikat ‘Sangat Memuaskan’
  5. Jehan Irsyadila Putri, Jurusan Sastra Jepang, IPK 3.70, predikat ‘Sangat Memuaskan’