Items filtered by date: Kamis, 14 Maret 2019
14 Maret 2019 In Berita & Peristiwa

Foto: Dr. Fadlillah, M.Si.

FIB - Dr. Fadillah, M.Si., salah seorang dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand, baru-baru ini telah menyelesaikan S-3nya di Universitas Udayana (Unud) Bali. Putra asli Tanah Datar ini menjalani proses pendidikannya melalui minat dan kecintaannya pada dunia Sastra.

Sebelum masuk ke bangku perkuliahan, dia menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1  Sungayang, Batusangkar. Kemudian dia melanjutkan kuliahnya ke Padang di Fakultas Usuluddin IAIN Imam Bonjol yang sekarang namanya sudah berganti ke UIN Imam Bonjol, Jurusan Aqidah Filsafat. Pendidikannya di sana hanya berlangsung setahun saja dan kemudian dia masuk ke Jurusan Sastra Indonesia Unand tahun 1986.Alasan yang membawa dirinya untuk pindah ke sastra adalah karena panggilan jiwa seni dan kecintaan pada sastra.

Pada tahun 1990 dia menyelesaikan pendidikan S-1, dan setahun setelah itu dirinya langsung menjadi dosen honor di Unand. Menjadi dosen honor cukup lama dijalaninya.Sampai pada tahun 1999, baru dia diangkat menjadi dosen tetap di Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand.

Setelah mengajar pada tahun 2000, kemudian Dr. Fadillah, M.Si.melanjutkan pendidikan S-2 ke Universitas Udayana, Bali. “Waktu itu banyak dari dosen di sini yang memilih Unud sebagai tempat melanjutkan pendidikan S-2 karena Udayana membuka satu–satunya program kajian budayayang sangat menarik karena mempelajari lintas ilmu.Di dalamnya terdapat sastra, ekonomi, politik, dan berbagai macam lintas ilmu lainnya. Saya mengambil bidang sastra dalam program kajian budaya ini,” ujar Dr. Fadlillah, M.Si.

“Selama S-2 mengkaji tentang sastra tetap dijalani, dan tesis saya tentang novel, karya Gus tf. Sakai judulnya Tambu Sebuah Pertemuan. Novel ini saya analisis dengna kajian post modern,” ungkap Dr. Fadillah, M.Si. melanjutkan pembicaraannya.

Sepengetahuannya, kajian post modern satu–satunya hanya ada di Unud pada waktu itu, dan arena inilah yang mengakibatkan banyak yang tertarik dengan kajian itu. “UI dan UGM waktu itu belum membuka dan menerapkan kajian post modern. Setelah S-2 disana baru UGM mebuka Jurusan Kajian Budaya dan menerapkan kajian post modern, termasuk juga UI. Kajian budaya dasarnya adalah cultural studies sebenarnya,” paparnya lagi.

Setelah S-2,  Dr. Fadlillah, M.Si.balik ke Unand dan mengabdikan diri untuk mengajar kembali dari tahun 2003 sampai tahun 2010.Kemudian di tahun 2010 dia melanjutkan pendidikan dengan mengambil S-3 di Universitas Udayana kembali.Alasannya karena kajian disana semuanya post modern dan dia sangat tertarik dengna kajian post modern dari S-2. Untuk S-3 sebenarnya dapat diselesaikannya dengan cepat, tetapi karena sudah berlanjut waktu dan sudah punya keluarga, maka hal inilah yang tidak bisa dihindari.

“Kemudian saat menempuh pendidikan S-3, orangtua saya sakit dan saya harus merawatnya terlebih dahulu sampai akhirnya ayah saya dipanggil Allah S.W.T. dan ini yang membuat saya agak terlambat tamat pada waktu itu dan ditambah dengan persoalan lain yang membuat saya terlambat,” ujar Dr. Fadillah, M.Si.

Akhirnya pendidikan S-3 Dr. Fadlillah, M.Si.baru dapat diselesaikan tahun 2018, nyaris delapan tahun karena halangan yang tak terduga.Disertasi yang dipilih masih tentang novel karya Gus tf. Sakai dengan judul Ular Keempat. Novel itu dibahas dengan cultural studiessastra bergaya post modern, dan di dalamnya ditekankan penulisan persoalan budaya,misalnya dalam perspektif kajian sastra itu orang modern melihat sastra sebagai sebuah artefak, hal yang dikongkritkan, tetapi orang post modern melihat sebagai teks yang abstrak.

“Orang modern tidak bisa menerima sebuah hal yang abstrak, dan itu tidak bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang ilmiah bagi mereka, sedangkan orang post modern bisa mengkaji teks kecil, terutama orang cultural studies yang mengaji hal–hal yang kecil dan populer bahkan tidak dianggap enteng bagi orang. Hal kecil tersebut dikaji karena mereka memandang dibalik sebuah  hal kecil tersimpan sebuah hal besar yang harus dikaji lebih dalam. Bisa saja tersimpan sebuah makna tersirat dalam sebuah hal kecil, dan ini dianggap lebih menarik bagi orang–orang post modern,” jelasnya.

“Kebanyakan orang post modern banyak dimusuhi karena kajiannya mengungkapkan makna tersimpan dibalik suatu hal, sedangkan orang modern hanya mengkaji yang nyata dan nampak saja,” Dr. Fadlillah, M.Si. menutup pembicaraannya.

Reporter: Muthia Delima Putri, Editor: Ayendi, Admin: Tri Eka Wira

14 Maret 2019 In Berita & Peristiwa

Foto 1: Dr. Fadlillah, M.Si. pada kesempatan orasi ilmiah acara Dies Natalis ke-37 FIB Unand

 

FIB - Dr. Fadlillah, M.Si., Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand, menyampaikan orasi ilmiah dengan judul Rumah Makan pada Novel Ular Keempat Karya Gus tf Sakai: Kajian Cultural Studies Sastra di depan anggota senat, dosen, mahasiswa, dan para tamu undangan pada acara peringatan Dies Natalis FIB Unand ke-37 yang dilaksanakan di Ruang Seminar FIB Unand pada tanggal 13 Maret 2019.

 

Di awal orasi ilmiahnya, Dr. Fadlillah, M.Si. menyalami seluruh undangan baik yang berkesempatan hadir maupun yang tidak berkesempatan hadir, seperti Rektor, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kearsipan dan Perpustakaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya, Balai Pelestarian Cagar Budaya, Kepala Balai Bahasa, dan Kepala Bank Nagari Cabang Unand Sumatera Barat. Kemudian ucapan salam ditujukannya kepada Pimpinan, Ketua, Anggota Senat, Panitia Dies Natalis, Guru Besar, Dosen, Tenaga Pendidikan, dan selanjutnya Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unand.

 

Hari itu merupakan hari yang penting bagi FIB Unand. Pada hari itu juga  Dr. Fadlillah, M.Si. diberi kepercayaan dan kesempatan untuk menyampaikan orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis almamater yang dicintainya.

 

“Pada kesempatan yang berbahagia ini, dengan segala kerendahan hati, izinkanlah saya untuk menyampaikan orasi ilmiah dengan judul Rumah Makan Padang pada novel Ular Keempat karya Gus tf Sakai Kajian Cultural Studies Sastra,” Dr. Fadlillah, M.Si. membuka orasinya dengan suara yang lantang dan lugas.

 

Berikut ini adalah teks orasi ilmiah yang disampaikan Dr. Fadlillah, M.Si. disertai dengan ilustrasi beberapa foto ketika acara orasi berlangsung:

 

Hadirin yang mulia,

Sastra pada hakekatnya merupakan representasi sejarah kemanusiaan dan sejarah peradaban, yang dihadirkan dengan metaforis dan simbolik yang indah. Dalam pengertian lain, sastra adalah representasi sejarah yang simbolik. Kehadiran sastra sebagai sejarah simbolik disebabkan ada persoalan-persoalan sejarah yang tidak memungkinkan untuk dikemukakan secara terus terang dan telanjang, ada sejarah yang tidak mungkin telanjang dalam rentangan perdaban kemanusiaan. Di samping sebagai strategi pertahanan atau benteng dari musuh dan gelombang zaman. Alasan ini menyangkut strategi, politik kekuasaan, kecanggihan teknologi penghadiran sejarah. Oleh sebab itu teknologi penghadiran sejarah dengan sastra merupakan hal yang sofistikatif. Salah satunya dengan sastralah data-data dan fakta sejarah disimpan secara teknologi simbolik. Salah satu alasan sastra diapresiasi secara intelektual adalah untuk diungkapkan data-data dan fakta sejarah yang tersembunyi.

Sejarah dalam sastra hadir dalam bentuk konotatif dan semiotifikasi. Kebudayaan-kebudayaan yang cerdas dari suatu bangsa di masa lalu cendrung menghadirkan sejarah dalam bentuk sastra. Walaupun karya sastra itu dihadirkan (yang sebagian orang menganggap) secara sepele seperti populer, dongeng, mitos, legenda. Bukan tidak mungkin hal ini diperuntukkan supaya para penguasa imperialis sulit untuk mengubah sejarah mereka.

Cultural studies sastra, berangkat dari teks kecil dan populer, menelusuri jejak, tanda, penanda, ikon dan simbol dalam estetika postmodern. Dalam pandangan cultural studies sastra, satu jejak yang terkecil  pada karya sastra, tidak luput dari representasi diskursus. Adapun teori yang kuat untuk cultural studies sastra adalah diskursus Foucault, sebagaimana diungkapkan Barker (2004:29,33). Cultural studies sastra (Barker,2008:31,32,35), menggunakan metode dekonstruksi Derrida (1974:7) dan teori pemikiran diskursus Foucault (1989:204,1980:155,1977:204).

Kajian Cultural studies sastra tidak lagi lihat secara intrinsik dan struktural formalis, tetapi dikaji dalam paradigma teks, tanda, jejak dan simbol yang kecil, yang terletak di mana saja, namun (terutama) selalu dimulai dari bagian pinggir atau akhir. Adapun tanda dan simbol kecil yang terletak pada bagian akhir dalam novel Ular Keempat (2005) karya Gus tf Sakai adalah teks Rumah Makan Padang. Dari tanda, jejak pada teks  Rumah Makan Padang ditemukan jaringan teks, bagai suatu lanskap, tentang jejak kebudayaan bangsa Minangkabau, yang melatari karakter tokoh dan cerita pada novel UK.

Keberadaan sastra sebagai representasi kebudayaan mempunyai alasan yang kuat, karena ia merupakan fakta berselimut, sebagaimana  Kleden (2004:434,435), berpendapat bahwa pada fiksi ternyata banyak fakta. Bahkan lebih jauh Kleden berani mengatakan bahwa sulit untuk memisahkan sastra dan karya ilmiah; dia menolak dengan tegas tentang pernyataan sastra sebagai total dunia imajiner yang berlawanan dengan dunia kenyataan empiris. Dia menantang bila dikatakan sastra sesesuatu yang  the other dari dunia empiris atau sastra merupakan fiksi murni yang berseberangan dan tak tersentuh dengan dunia fakta. Oleh sebab itu, dengan kehadiran paradigma pandang postmodernisme atau post-positivisme, dalam konteks ini, ungkapan  Kleden itu sangat mendapat tempat pada pendekatan cultural studies sastra yang membawa perobahan baru dalam memahami posisi kajian sastra.

Penelitian cultural studies sastra sesungguhnya mengkaji bagaimana representasi diskursus kebenaran dan artikulasi sastra terhadap sejarah, kekuasaan, kebudayaan, di samping membaca jejak-jejak fakta, terutama dalam  konteks budaya, ideologi dan kekuasaan, sebagai suatu diskursus. Dalam paradigma post-positivisme,  pada dekade ini, berpijak pada rumusan teori, bahwa tidak ada fakta yang murni fakta ketika fakta itu direpresentasikan kembali, oleh sebab itu dalam representasi fiksi ada fakta. Hal itu disebabkan dunia postmodern menolak obyektifitas. Dengan demikian, fiksi tidak mungkin dan mustahil hadir murni kefiksiannya, bahkan, bukan tidak mungkin tidak masuk akal ada fiksi yang murni, tanpa ada fakta agak sedikit pun (Zoest,1980:3). Sebagaimana realitas bagi manusia (Junus,1985:3), tak mungkin dapat lepas dari imajinasi, manusia tidak mungkin melihat realitas tanpa imajinasi. Dengan demikian, fiksi adalah fakta yang berselimut atau tertutup rapi.

 

Hadirin yang mulia,

Salah satu diskursus Foucault yang digunakan pada Cultural studies sastra adalah arkeologi. Adapun diskursus arkeologi cultural studies sastra pada teks rumah makan Padang pada novel UK, merupakan bentuk pengkajian pada situs (lokasi) tertentu dan berarti menggali “tempat-tempat lokal” terjadinya praktik-praktik diskursif, dan membuktikan adanya diskontiniu diskursuf (Barker, 2004a:11). Epistime tentang teks Padang dikaji dalam praktik diskursus dengan kondisi historis yang dibentuk dan dikendalikan suatu kekuasaan.

Dimulai dari teks rumah makan Padang yang merupakan teks yang berada di pinggir alur penceritaan novel UK, bukan teks utama, dan juga bukan pusat cerita, tema, alur dan tokoh. Rumah makan Padang, hanya beberapa kali disebut dalam novel UK (2005:170). Kajian arkeologi sastra cultural studies dimulai pada teks rumah makan Padang yang populer itu, sebagai tanda, tetapi bukan tanda dalam pengertian struktural intrinsik. Tanda pada cultural studies sastra dalam diskursus teks, representasi, artikulasi, emansipatoris. Sebagaimana kajian cultural studies (Sardar dan Van Loon, 2001:17-19), tentang teks  kari (gulai rempah) dan balti (wadah, kendi) sebagai tanda representasi diskursus restoran India dan kolonialis Inggris terhadap bangsa India, representasi ketertindasan dan artikulasi emansipatoris, keterpinggiran.

Persoalan ini mau tidak mau dimulai dari pertanyaan, bagaimana sejarah tentang  -apa sebabnya (mengapa)-  bangsa Minangkabau menyebut dirinya sebagai orang Padang. Kapan pertama kali orang Minangkabau dalam sejarah menyebut diri sebagai orang Padang. Di mana, dan siapa yang menggagas dan bagaimana peristiwa atau sejarah peralihan identitas Minangkabau menjadi identitas orang Padang.

Asal kata dan sebutan Orang Padang tidak dimulai dari trauma peristiwa perang saudara (PRRI dengan APRI), sebagai kasus pelarian identitas. Menurut Hadler (Genta Budaya, 1 Agustus-Oktober 1995, hal.61), jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, di Batavia sudah ada Rumah Makan Padang, sebab pada tahun 1910 sudah ada iklan Rumah Makan Padang di suratkabar Soenting Melayoe. Demikian juga pada suratkabar Pemandangan, tanggal 28 Mei 1937, pada masa pemerintahan Hindia Belanda (Suryadi, Singgalang, tanggal 13 Juli 2014). Dengan demikian, istilah Orang Padang atau Rumah Makan Padang sudah ada sejak pemerintahan Hindia Belanda. Dari kajian arkeologi cultural studies sastra dapat diungkapkan bahwa Orang Padang merupakan diskursus epistime yang dibangun pemerintah Hindia Belanda.

Selanjutnya ketika ditelusuri, apakah sebelum kedatangan bangsa Belanda sudah ada Rumah Makan Padang? Sampai di sini memang tidak ditemukan data sejarah nama Rumah Makan Padang, dan juga tidak mungkin dan tidak logis, karena Padang sebelum kedatangan bangsa Belanda hanya merupakan taratak  kecil (dusun) yang tidak dikenal, milik kaum VIII Suku, terletak di muara sungai Batang Arau (Kato,2005:65, Colombijn,2006:9,49-59, Amran,1988:369, Asnan,2007:21-37). Pada pihak lain, hanya ditemukan pada sastra lisan  Koba Gombang dan Tuongku (Seta, Wak, Al azhar dan  Zuarman Ahmad, 2009:125), nama “rumah makan Minangkabau” atau “rumah makan Minang”,  sebelum kedatangan bangsa Belanda. Dengan demikian Rumah Makan Padang sebelum pemerintahan Hindia Belanda tidak ada, yang ada Rumah Makan Minangkabau, (dikenal) dengan nama tempat makan minum anak Minangkabau, adapun di Minangkabau disebut dengan Lapau. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa nama Rumah Makan Padang merupakan diskursus kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda, sebelumnya rumah makan itu bernama Rumah Makan Minangkabau, atau di ranah Minang namanya lapau.

Secara perlahan dan sistemik identitas jati diri bangsa Minangkabau dihapus atau dipecah (diputus atau dicabut) oleh pemerintah Hindia Belanda. Ketika Raja Alam meninggal, maka diumumkan bahwa gelar Yang Dipertuan tidak ada lagi. Penghampusan gelar ini karena Residen de Stuers berpendapat bahwa Minangkabau yang dulu “harus tetap dalam keadaan dilupakan seperti yang telah ditentukan oleh jalannya sejarah” (Dobbin,2008:242. cf: Kundera,2000:262,263).