Items filtered by date: Rabu, 20 Maret 2019
20 Maret 2019 In Berita & Peristiwa

Foto 1: Dr. Ike Revita, M.Hum. Bersama dengan segenap sivitas akademika Yayasan Prayoga Padang

FIB - Dalam rangka memperingati HUT  Yayasan Prayoga Padang ke-57, tepatnya tanggal 24 Maret 2019, Dr. Ike Revita, M. Hum.diundang sebagai Narasumber Seminar Pendidikan bertema “Revolusi Industri 4.0 pada tanggal 15 Maret 2019 yang berlokasi di SMA Don Bosco,Padang.

Acara yang mengangkat tema “Revolusi Industri 4.0”ini didakan untuk memperluas perspektif berpikir para pendidik dan tenaga kependidikan di Yayasan Prayoga padang tentang isu-isu terkini dalam dunia pendidkan.  Acara ini dihadiri oleh guru, dosen, tendik Prayoga mulai dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMA, beserta dosen STBA (Sekolah tinggi Bahasa asing), dosen Akademi Farmasi dan juga tendik di kalangan Yayasan Prayoga Padang. Acara ini dihadiri sekitar 300 peserta.

Dr. Ike Revita, M.Hum. menjelaskan bahwa tujuan diadakannya seminar ini untuk menjelaskan bagaimana  harusnya seorang guru, pendidik, menyikapi Revolusi Industri 4.0."Seorang pendidik harus bisa menyikapi revolusi industri. Karena kita sekarang berada di era disraktif, dimana segala sesuatu berbasis kepada teknologi. Seorang guru, seorang dosen, seorang pendidik, civitas akademik harus bisa menguasai teknologi. Generasi kita adalah generasi yang harus melek dengan teknologi. Kalau tidak dikhawatirkan akan kesulitan dalam diskusi. Sehingga kita bisa menghindari generasi yang tidak terpakai," ungkapnya saat ditemui di Koridor FIB  pada Senin, 18 Maret 2019.

Dr.Ike Revita, M.Hum. diminta langsung menjadi pemateri pada seminar pada hari tersebut tanpa ada pemakalah pendamping. Acaranya diadakan pada pukul 14.00-17.30 WIB. Acara itu disambut antusias oleh para peserta. “Mereka sangat puas, tekun, keingin-tahuan mereka tinggi karena sebagian besar masih pada sistem tradisional.  Contohnya pada sistem pembelajaran yang masih berpusat pada guru sementara itu sistem yang dipakai sekarang ialah terpusat pada siswa, mahasiswa atau SCL,” ujarnya.

Ketua Yayasan seperti dikutip Dr.Ike Revita, M.Hum. mengatakan bahwa sebagian civitas akademika memang hidup pada era 4.0 tetapi kemampuannya masih 1.0, 2.0, dan 3.0. “Sementara itu mereka harus upgrade diri dan melek teknologi kalau tidak mereka akan tertinggal dan harus seleksi alam atau pun nantinya mereka tidak akan terpakai,” kutip Dr.Ike Revita, M.Hum. dari pernyataan Ketua Yayasan Prayoga yang masih jelas terigat olehnya.

Dr.Ike Revita, M.Hum. kemudian menyatakan kita harus mengikuti perkembangan teknologi dan meng-update diri menjadi seorang yang eksis di dunia pendidikan.

"Dengan adanya penyampaian  materi, seharusnya menyentuh dan membuka mata bahwa sebagai pendidik tidak berhenti belajar, tidak menghindari teknologi karena teknologi yang sudah semakin berkembang tidak bisa dihindari. Justru teknologi dimanfaatkan agar proses pembelajaran berhasil. Karena pembelajaran berbasis outcome education,jadi para guru, pendidik tidak hanya selesai di kelas.Mereja harus ada capain-capaian yang diperoleh. Anak-anak yang mereka didik tidak hanya sekedar tamat, tetapi mereka harus memastikan alumni atau anak-anak yang mereka didik diterima bekerja dan diterima di lingkungan sosial mereka. Jadi keterpakaian mereka benar benar tepat. Tanggung-jawab diujung tombak terletak pada guru, dosen, dan tendik," ujarnya.

Di dalam acara itu, Dr. Ike Revita, M.Hum. juga memberikan sentuhan,  mengingatkan, dan berbagi pengalaman karena sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan. Materi tersebut diperolehnya dari hasil penelitian, membaca hasil referensi, diskusi, evaluasi mahasiswa, dan merupakan gabungan dari beberapa sumber termasuk pengalaman.

"Mereka masih menggunakan sistem pembelajaran yang tradisional yang masih berpusat pada pendidik. Seharusnya pendidik harus menyiapkan anak-anak didik yang menciptakan lapangan kerja," sambungnya lagi.

Karena diskusi tanya-jawab yang agak lama, seminar tersebut selesai diluar alokasi waktu yang ditetapkan. Yang harusnya pada pukul 17.00 WIB sudah selesai, tetapi karena keterbatasan waktu setelah selesai seminar masih dilanjutkan dengan beberapa diskusi.

Salah satu pernyataan dari dosen yang menarik ingat Dr.Ike Revita, M.Hum. ialah mahasiswa PTS mereka memiliki kemampuan iptek yang terbatas. Disitu Dr. Ike Revita, M.Hum. Menjelaskan, "Jangan pesimis dengan input mahasiswa yang terbatas dengan cara mengolah yang tepat, dengan proses yang tepat.Salah satunya pemanfaatan teknologi.Kita bisa melebihi PTN yang bagus. Optimisme dosen, optimisme PTS, optimisme institusi sangat penting," sambungnya.

Lebih lanjut, pernyataan dari Ketua Yayasan yang disadur oleh Dr.Ike Revita, M.Hum. bahwa di kalangan Yayasan Prayogo sendiri  banyak  guru-guru yang senior.Bagi mereka teknologi tidak diperlukan dalam proses belajar mengajar.Mau belajar teknologi tidak bisa lagi. Kemudian Dr. Ike Revita, M.Hum. memberikan tanggapan untuk memotivasi mereka bahwa umur bukanlah menjadi halangan. Dia menyimpulkan,"Sejauh kita mempunyai keinginan apapun kendalanya, kita punya keinginan, insyaAllah tercapai. Sejauh kita mempunyai keinginan pasti akan ada perubahan."

Foto 2: Dr.Ike Revita, M.Hum. saat menjadi Narasumber Seminar Pendidikan  di Yayasan Prayoga SMA Don Bosco Padang

Terakhir, Dr. Ike Revita, M.Hum. menyampaikan harapannya,"Pendidik tidak boleh merasa cepat puas untuk belajar.Belajar selalu dan perlu meng-upgrade dan update diri.”