Items filtered by date: Selasa, 02 April 2019
02 April 2019 In Berita & Peristiwa

Foto 1: Acara Diksi FSI FIB Unand di Masjid Al-Munir FIB Unand

FIB - Forum Studi Islam (FSI) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melaksanakan kegiatan Diskusi Ilmiah Seputar Islam (Diksi) bersama seorang alumni FSI FIB Unand, Muhammad Nur Fajri, dengan tema “Meraih Beasiswa dengan Taqwa di Luar Negeri? Mungkin!!!” yang bertempat di Masjid Al-Munir FIB, pada Selasa, 26 Maret 2019.

Diskusi pada sore itu turut dihadiri mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Andalas, seperti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Peternakan.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) FSI FIB, diadakan dalam rangka sharing atau obrolan seputar Islam. Pada kesempatan tersebut, salah seorang alumni FSI FIB, yaitu Muhammad Nur Fajri, diundang untuk mengisi acara karena ybs. kebetulan pada saat itu sedang libur dari kegiatan perkuliahan S-2 di Jurusan Linguistik di Universitas Shizuoka Jepang,

Diskusi yang berjudul “Meraih Beasiswa dengan Taqwa di Luar Negeri? Mungkin!!!” menyinggung tentang lika-liku dan permasalahan dalam melaksanakan ibadah di luar negri.

Dengan obrolan yang santai dan antusias dari peserta, banyak informasi yang dapat digali berkenaan dengan pelaksanaan ibadah di luar negri.  Menurut Fajri (panggilannya), sebagai seorang mahasiswa muslim, dalam kehidupan negara yang mayoritas non-muslim dan dengan budaya masyarakat yang ‘pelit’ dalam urusan waktu seperti Jepang perlu kiranya ‘berpandai- pandai’ dalam mencuri waktu untuk melaksanakan ibadah.

Dia menceritakan, “Seringkali dosen yang mengajar pada suatu mata kuliah tertentu tidak mengetahui waktu shalat umat muslim sehingga terus melanjutkan perkuliahan saat jam shalat masuk. Kadang kala juga ada kegiatan kampus tertentu yang jadwalnya bertepatan dengan jam shalat.  Oleh karena itu, di situ kita perlu menjelaskan atau meminta izin kepada dosen atau yang bersangkutan untuk melaksanakan ibadah.”

Fajri mengungkapkan seringkali dia terlambat menghadiri perkuliahan atau ada kalanya perkuliahan tertunda karena keterlambatannya. Meski pernah sempat tertinggalkan ibadah shalat Jumat sekali selama hidup di Jepang, Fajri berkata dia tetap berusaha disiplin dalam melaksanakan shalat, di mana pun dan kapan pun.

Menurut mahasiswa yang pernah menjadi anggota FKI Rabbani Unand ini, selalu ada jalan dan kesempatan kita bisa melaksanakan shalat, bahkan seperti yang dia ceritakan, beberapa mall di Jepang, di bawah eskalatornya sering ada ruangan ruangan kosong yang cukup luas.Disitu tuturnya kadang dia melaksanakan shalat.

Selain itu, menurutnya, masyarakat Jepang juga sebenarnya tidak mendiskriminasi ataupun membatasi ibadah umat muslim disana, hanya saja seringkali mereka tidak mengerti tentang ibadah shalat karena konsep ibadah yang mereka tahu tentu berbeda dengan muslim.

“Oleh karena itu, sedisiplin-disiplinnya masyarakat Jepang dalam urusan waktu, seorang muslim harus lebih disiplin lagi. Tidak hanya harus disiplin dalam jadwal kerja saja, tetapi juga perlu disiplin dalam jadwal ibadah,” katanya.