Items filtered by date: Senin, 08 April 2019
08 April 2019 In Berita & Peristiwa

Foto 1: Josh Hick sedang memaparkan presentasinya yang dimoderatori oleh Dra. Eva Najma, M.Hum., Dosen Mata Kuliah Introduction to British Culture

FIB - Jurusan Sastra Inggris FIB Unand mengadakan Kuliah Umum “Special Occasion and Youth Life Style in UK” pada Jumat, 5 April 2019 bertempat di Ruang Seminar FIB Unand. Kuliah umum yang diketuai oleh Dra. Diah Tjahaya Iman, M.Litt, Ph.D. itu menghadirkan pembicara seorang mahasiswa Universitas Exeter, Jurusan Philosophy (sejarah) bernama Josh Hick yang kebetulan sedang mempelajari bahasa dan budaya Indonesia di UPT Pusat Bahasa Unand.

Kuliah umum ini dihadiri oleh Wakil Dekan I mewakili Dekan FIB Unand, Ketua Jurusan Sastra Inggris, sejumlah dosen, dan para mahasiswa.yang umumnya berasal dari Jurusan Sastra inggris FIB Unand.

Hanafi, S.S., M.App., Ling., Ph.D., selaku Ketua Jurusan Sastra Inggris FIB Unand, menyampaikan bahwa kuliah umum itu secara umum ditujukan untuk mahasiswa di Unand dan secara khusus didekasikan untuk mahasiswa Jurusan Sastra Inggris FIB Unand. 

We dedicate this event specifically to students of the English Department and we hope that this event can encourage students to have dreams to go and continue their studies in England. Through this event they can learn about the culture and language there. I also thank all the committees who contributed to this event. (Acara ini kami dedikasikan secara khusus kepada mahasiswa Jurusan Sastra Inggris dan kami harap acara ini dapat memberikan semangat kepada mahasiswa agar memiliki mimpi untuk pergi dan melanjutkan study ke Inggris. Melalui acara ini mereka dapat belajar bagaimana budaya dan bahasa di sana. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh panitia yang telah berkontribusi untuk acara ini),” ungkapnya dalam bahasa Inggris. 

Dr. Ferdinal, M.A., selaku Wakil Dekan I FIB Unand, membuka secara resmi kuliah umum tersebut dan  menyampaikan bahwa acara itu merupakan salah satu kegiatan yang termasuk dalam tujuan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni bidang pendidikan.

This activity is a great opportunity for students to be able to hear firsthand how culture in England is from a native speaker. If we read in the media, there may be a lot of information that is elaborated and incomplete. Hopefully the presence of Josh Hick in this public lecture can answer our questions and arouse enthusiasm for students who have dreams to go to England. (Kegiatan ini merupakan kesempatan besar bagi mahasiswa untuk dapat mendengar secara langsung bagaimana kebudayaan di Inggris dari native speaker. JIka kita membaca di media masa mungkin banyak informasi yang dielaborasi dan kurang lengkap. Semoga dengan hadirnya Josh Hick pada kuliah umum ini dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dan membangkitkan semangat bagi mahasiswa yang memiliki mimpi untuk pergi ke Inggris),” paparnya juga dalam bahasa Inggris.

Josh Hick, selaku narasumber, mengawali pemaparannya mengatakan bahwa terkait kebudayaan di Inggris terdapat beberapa perayaan spesial, diantaranya seperti Bonfire Night, Pancake Day, Easter, dan Red Nose Day.

Bonfire Day, menurutnya adalah perayaan yang dirayakan sentiap satu tahun sekali. Acara ini rutin di adakan setiap tanggal 5 November yang bertujuan untuk memperingati gagalnya konspirasi pembunuhan raja yang dilakukan oleh Guy Fawkes.

Pancake Day dijelaskan oleh Josh Hick merupakan makanan yang biasanya dimakan pada saat Shrove Tuesday atau hari pancake atau dikenal juga dengan istilah Pancake Tuesday. Pancake  Day diadakan untuk merayakan orang-orang yang sudah berpuasa dari makan coklat selama 40 hari dan biasanya puasa ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang mempercayai kitab Injil (pengikut Nabi Isa). Menurut Josh Hick, dalam perayaan Pancake Day ini biasanya peserta berlari sambil melempar pancake dari wajan sebanyak tiga kali dan mencoba untuk menangkapnya.

“There is a difference between pancakes in England and pancakes in America. Pancakes in the UK are made from main ingredients such as eggs, milk, and flour and usually tend to be thin in shape. While pancakes in America are thicker because they use baking powder. (Ada perbedaan antara pancake di Inggris dan pancake di Amerika. Pancake di Inggris dibuat dari bahan-bahan utama seperti telur, susu, dan tepung dan biasanya bentuknya  cenderung tipis. Sedangkan pancake di Amerika bentuknya lebih tebal karena menggunakan baking powder ),” jelasnya.