Items filtered by date: Selasa, 09 April 2019
09 April 2019 In Berita & Peristiwa

Foto 1: Kegiatan Pelatihan Penulisan Artikel Jurnal Internasional Terindeks/Bereputasi Bidang Sosial Humaniora pada Sabtu, 6 April 2019

FIB – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unand bekerja sama dengan FIB Unand menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Artikel Jurnal Internasional Terindeks/Bereputasi Bidang Sosial Humaniora dan Penulisan di Media Nasional pada Sabtu dan Minggu, 6 - 7 April 2019, yang bertempat di Ruang Sidang Dekanat FIB Unand,

Peserta pelatihan terdiri dari 25 orang dosen dari beberapa fakultas, seperti dari Keperawatan, Kedokteran, dan tentunya Ilmu Budaya sendiri. Kegiatan pada hari pertama itu menghadirkan narasumber Dr. Agus Suwignyo, M.A. dari Universitas Gadjah Mada. Acara tersebut dibuka langsung oleh Sekretaris LPPM, Dr. Rusfidra Chaniago, dosen dari Fakultas Peternakan.

Pada hari pertama, 6 April 2019 dan sesi pertama tersebut, Agus Suwignyo menyampaikan kepada peserta mengenai perbedaan dan ciri khas jurnal bereputasi dan juga jurnal terindeks. “Untuk jurnal terindeks ini belum tentu itu murni terindeks dan belum tentu juga termasuk kategori Dikti. Bisa jadi itu jurnal predator, sedangkan sih untuk jurnal bereputasi memang jelas biodata tentang jurnal lengkap dan termasuk kategori Dikti,” paparnya.

Selanjutnya dia memberikan contoh, seperti Jurnal  Mediteranian Journal of Social Sciencesi dan Indonesian Journal. “Walaupun Jurnal Mediteranian terindeks, tetapi jurnal tersebut tidak mencantumkan biodata lengkapnya dan ini tentu bisa disebut dengan jurnal predator. Kemudian untuk Jurnal Indonesia itu sendiri,  data-datanya seperti data editor, afiliasi lembaga dan data dari peer review,” katanya.

Agus (nama kecil) menjelaskan bahwa jurnal yang legal itu mempunyai ciri yaitu, web-nya terdaftar di SJR (ScimagoJR), biodata dari peer review, atau editornya lengkap, terus data dari jurnalnya seperti dalam jangka waktu berapa terbit, apakah sudah banyak disitasi, dan apakah ada lembaga resmi yang menerbitkan jurnal tersebut, seperti Institute atau Academy. Jika ciri-ciri tersebut tidak ada maka menurutnya itu yang bisa dikatakan jurnal predator alias abal-abal.

Kemudian Agus menjelaskan jurnal yang diakui oleh Dikti, diantaranya adalah: ISI Knowledge Thomson Reuter (USA) serta SCOPUS (Netherland), http://www.scimagojr.com dan Google Scholar. “Kedua jurnal ini merupakan jurnal yang sangat tinggi ratingnya sedangkan untuk Google Scholar bisa dikatakan paling bawah,” ucapnya.

Dia juga menyebutkan kategori jurnal menurut Dikti, yakni jurnal nasional (SINTA 4-6), jurnal nasional reputasi (SINTA 2), jurnal internasional (SINTA 1,2,3), jurnal internasional reputasi (SINTA 1).  Ia lalu menyebutkan bahwa Dikti menyatakan jurnal internasional reputasi telah terindeksi oleh database internasional.

Selanjutnya Agus Suwignyo membuka sesi diskusi dengan memberi kesempatan kepada dosen-dosen untuk bertanya. Di antara yang bertanya ialah Rika yang berasal dari dosen Keperawatan yang menanyakan, “Tuntutan memasukkan setiap penelitian ke jurnal, bagaimana dimasukkaan ke Q3, Q4 dalam satu artikel karena akan ada review. Apakah boleh ?”

Agus Suwignyo memberi jawaban, “Tidak boleh, karena jurnal Q4 ada statement karena jurnal-jurnal tidak sedang diproses  atau sudah diproses. kemudian tingkat penolakan juga cukup tinggi. jika sebuah jurnal ditolak dan minta direvisi, maka segera revisi.”

Dia juga menjelaskan bahwa editor harus jelas dan  biodata atau lembaga jurnal harus terdapat di SJR. Jika tidak berarti tegasnya tidak terindeks SCOPUS.

Kemudian pada sesi kedua Agus Suwignyo menjelaskan tentang kadah-kadiah atau aturan penulisan artikel internasional jika ingin terindeks SCOPUS. Pada sesi kedua ini Agus Suwignyo juga memeriksa sekaligus membahas artikel-artikel yang sebelumnya sudah di-input  ke email-nya.