""
Senin, 19 September 2022 16:10

TOA PODCAST: EDISI MAHASISWA PMM 2 FIB UNIVERSITAS ANDALAS

FIB – Pada Kamis, 15 September 2022 telah diadakannya bincang santai mahasiswa Pertukaran Mahasiswa Merdeka 2 (PMM 2) di ruang studio Humas Fakultas Ilmu Budaya, Unand. Mahasiswa yang diundang dan berkesempatan untuk hadir pada hari itu adalah Muhammad Riswan dan A. Vieriawan dari Universitas Hasanuddin (Makassar), Najma Firdaus Amaturrohman dari Universitas Muhammadiyah Magelang, dan Muhammad Irsyad Muzakki dari Universitas Negeri Sebelas Maret (Surakarta).

Pertukaran Mahasiswa Merdeka merupakan salah satu program Kampus Merdeka di samping ada tiga program andalan lainnya, yaitu magang bersertifikat, kampus mengajar, dan KKN tematik. Program Kampus Merdeka terhitung sudah berjalan selama dua tahun dengan PMM sudah yang hitungan kedua. Pada PMM 2 kali ini menghadirkan suatu hal yang baru dengan mendatangkan langsung mahasiswa PMM yang ingin belajar di lingkungan kampus FIB Unand setelah sebelumnya pada PMM pertama hanya dilakukan secara daring (online) saja.

Dalam program Kampus Merdeka, mahasiswa diberikan kebebasan mengambil SKS di luar program studi mereka dengan tujuan untuk memberikan pengalaman yang berbeda dan kesempatan untuk mengeksplor kebudayaan, sosial, dan perbedaan lingkungan belajar di kampus tujuan. Salah satunya adalah mahasiswa yang diundang ke Toa Podcast FIB Unand, ada yang memang sesuai dengan jurusan aslinya di kampus asal dan ada juga yang menyesuaikan. Contohnya adalah Najma dari prodi Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Magelang yang belajar dan masuk ke dalam program studi Ilmu Sejarah di Universitas Andalas. ada juga Irsyad dari prodi Sastra Arab di Universitas Negeri Sebelas Maret Purwakarta yang belajar dan masuk ke dalam program studi Sastra Indonesia.

Tidak hanya perbedaan pembelajaran yang diterima, mereka juga mengaku sempat mengalami geger budaya (culture shock) ketika baru pertama kali berada di Padang. Kebanyakan dari mereka merasakan perbedaan dalam hal berbicara, perilaku masyarakat, hingga kuliner. “Aku culture shocknya lebih ke kulinernya. Di sini di Minangkabau masakannya banyak yang pakai santan. Kesulitan lainnya ada dibahasanya, karena kalau kita ke pasar atau kantin itu mereka pakai bahasa minang,” ujar Vieriawan. Sedangkan, Irsyad mengakui hal yang sama. Hanya saja ia juga menambahkan bahwa ia banyak belajar tentang bahasa minang dan merasa tertarik untuk mempelajari lebih dalam.

Adapun berbagai alasan mahasiswa memilih Unand sebagai tempat untuk berlabuh selain menjadi salah satu kampus terbaik di Sumatera adalah karena Unand merupakan kampus tertua yang berada di luar pulau Jawa, bangunan arsitekturnya yang menarik, kebudayaan minang yang memiliki falsafah adat berlandaskan Islam, hingga lingkungan yang hijau dan masih asri sebagaimana yang diungkapkan Riswan, “Saya sangat jarang menemukan adanya sampah-sampah plastik di sini. Sampah daun mungkin wajar karena banyak pepohonan, namun untuk sampah plastic sangat jarang saya temukan.”

Jika dihitung, memang sudah hampir satu bulan mahasiswa PMM 2 berada di Kota Padang. Universitas Andalas sendiri menyediakan tempat tinggal di asrama kampus untuk memfasilitasi mahasiswa PMM yang datang dari berbagai daerah. Hal ini ternyata dinilai sangat baik oleh mahasiswa yang datang tersebut karena kebijakan Unand yang bersedia untuk menyediakan tempat tinggal selama mereka berkuliah, seperti yang dikatakan Vieriawan “Kami berterima kasih kepada pihak Universitas Andalas karena telah memfasilitasi kami untuk tinggal di asrama, karena masih banyak di luar sana program pertukaran mahasiswa ini mahasiswanya hanya ngekos.”

Mereka juga kembali berterima kasih sudah diterima dan disambut dengan baik oleh para dosen, mahasiswa, dan diberikan fasilitas yang memadai selama berkuliah di Unand. “Dosen-dosen dan kaprodinya ramah, mahasiswa di sini juga baik kepada mahasiswa PMM lainnya. Sebagai mahasiswa pendatang, kita sering merasa diistimewakan,” imbuh Najma.

Terakhir pesan mereka bahwa agar kita bisa lebih banyak menambah pengalaman dan pengetahuan dengan mengeksplor tempat-tempat lain, menambah relasai, membangun kerja sama dengan banyak orang, dan mencoba hal yang baru dalam kebudayaan lain yang ada di Indonesia. “Ketika kita diberi kesempatan dan wadah untuk belajar, selagi bisa kenapa tidak kita manfaatkan.” Tutup Riswan.

 

 

Reporter: Nadiati Husna