Selasa, 02 Oktober 2018 13:47

Jurusan Sastra Minangkabau FIB Unand Laksanakan Kuliah Lapangan di Kapalo Hilalang, Padang Pariaman

Foto 1: Bahren, M.A., dosen Jurusan Sastra Minangkabau FIB Unand, sedang memberi kata sambutan

FIB - Jurusan Sastra Minangkabau FIB Unand mengadakan kuliah lapangan untuk memenuhi capaian pembelajaran mata kuliah Musik Tradisional, Tranformasi Media, Sastra Lisan, Jurnalistik Lanjutan, dan Antroprolingusitik, dengan menghadiri dan menyaksikan penampilan Indang dalam acara alek nagaridi Kapalo Hilalang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman pada Rabu,26 September 2018 lalu. Kegiatan itu dihadiri oleh lebih kurang 60 orang mahasiswa, dan dosen pengampu, yaitu: Eka Meigalia, M.Hum , Yerri Satria Putra, M.A., Bahren, M.A.,Dr. Khairil Anwar, M.Si., dan Drs. Wasana, M.Hum.

Kegiatan tersebut diawali dengan perkenalan rombongan mahasiswa dan dosen Jurusan Sastra Minangkabau FIB Unand dengan warga sekitar yang juga turut hadir sambil bersalaman, dan diikuti dengan pemberian kata sambutan oleh kedua belah pihak, Kemudian acara dibuka dengan penampilan Indang, sebuah kesenian tradisi Minangkabau yang awalnya dibawa oleh Syekh Burhannudin dari Aceh ke Pariaman yang kemudian dikembangkan.

“Kalau di Aceh namanya Rabana, sedangkan kalau di Minang namanya Rapa’I” kata Datuk Amir selaku pendendang Indang tentang nama alat yang digunakannya.

Datuk Amir menambahkan bahwasanya Indang yang dulu dengan sekarang memang sedikit berbeda. “Indang yang dulu hanya berisi dzikir-dzikir dan pengajian, sedangkan Indang sekarang berisi tentang sajak-sajak serta kata-kata sindiran, dan berbalas-balas antara satu dengan yang lain, dan dilakukan di tempat terbuka atau sanggar. Berbeda dengan Indang Aceh yang sampai saat ini masih berisi dzikir, dan pengajian, dan dilakukannya pun di dalam masjid,” paparnya.

Datuk Amir sendiri mengaku telah menggeluti Indang semenjak umur 14 tahun, “Awalnya dulu saya menjadi anak Indang, kemudian baru menjadi tukang dikia,” katanya.

Adapun tujuan dari permainan Indang ini menurut Datuk Amir adalah untuk mengkaji sejarah dan menyelaraskan adat dengan syarak. Jumlah pemainnya sendiri sebutnya adalah paling banyak 16 orang, dan paling sedikit 12 orang. Penampilan Indang ini dimulai pada pukul 22.00 WIB malams.d. 3.30 pagi, dengan tiga penampilan grup Indang yang saling berbalas-balas sajak dan dilakukan sebanyak dua babak.

Foto 2: Suasana penonton yang menyaksikan penampilan anak Indang

Masyarakat sekitar juga antusias mengikuti dan menyaksikan acara ini. Tak terkecuali anak-anak yang berumur 7-15 tahun yang turut menjadi anak Indang. Rival, yang berumur 7 tahun dan duduk di kelas 2 SDasal Sungai Kasiakan mengucapkan, “Awalnya saya masuk Indang karena diajak teman, tapi akhirnya saya suka karena banyak teman, terlebih lagi tari gatiak tangan,” katanya.

Senada dengan itu, Datuk Amir juga mengatakan, bahwa Indang di Pariaman tidak akan mungkin hilang karena generasi mudanya antusias dalam mengikuti Indang. “Permainan Indang ini bertingkat, mulai dari anak Indang, kemudian menjadi tukang aliah, atau yang memiliki suara yang bagus,” ia menjelaskan.

Selama kuliah lapangan tersebut, mahasiswa dituntut untuk mewawancarai para pemain, mencari informasi tentang Indang, merekam video penampilan, mewawancarai penonton, dan pedagang yang berjualan disekitar.

Reporter : Ivonyla Krisna, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 135 times